Kebenaran

Apa yang bisa kita katakan tentang kebenaran? Apalagi ketika kebenaran itu harus dibebani dengan sebuah huruf K besar pada dunia yang demikian banyak menyuplai kebenaran-kebenaran dalam kurungan “tanda” yang memang sengaja direproduksi untuk sebuah kepentingan? Terus terang, saya tidak tahu. Yang sedikit saya ketahui adalah ketika di suatu tempat dalam sejarah pergulatan pemikiran manusia, ada sosok pemikir kontroversial semacam Baudrillard.

Sosok filsuf Prancis ini barangkali memang lahir pada sebuah zaman yang telah “keliru” dengan sejarah yang dibentuk oleh pendahulunya. Dalam” kekeliruan-kekeliruan” itulah, dia dengan nada yang bermain-main pada sarkasme yang cukup perih mengatakan bahwa, “Kebenaran adalah hal yang patut ditertawakan”. Barangkali dia memang sedang tertawa ketika menuliskan kalimat itu, tapi dia pasti menyadari bila saat itu, dia sedang melakukan semacam “bunuh diri”  dalam arti apa pun dalam semua diskursus tentang keberadaan manusia dan sejarahnya.

“Kebenaran adalah hal yang patut ditertawakan”. Ini benar-benar sebuah relativitas yang sudah memasuki gerbang nihilisme. Apa boleh buat. Kita sangat diperbolehkan untuk “marah” akan semua pemikiran yang melecehkan keyakinan kita tentang “Kebenaran” . Bagaimana pun sejarah panjang kemanusiaan selalu kita yakini sebagai gerak menuju Kebenaran justru karena kita meyakini kebenaran itu ada. Dan di sana, dalam peluh pencaharian yang demikian melelahkan itu, tiba-tiba seorang Baudrillard berdiri di hadapan kita, tertawa terbahak dan menyatakan semua pencarian ini pantas ditertawakan. Dan kita memang pantas marah.

Tapi apa yang kita ketahui tentang “kebenaran”? Pada sebuah zaman di mana realitas dan fiksi telah melebur dalam demikian banyak replikasi dan duplikasi? Apa yang kita bisa cerna dari peristiwa yang disebut “kebenaran” itu ketika dunia telah mengalami fase Simulacra sebagai mana yang disebut Baudrillard? Dunia simulasi yang berputar dengan kecepatan dan keserentakan yang demikian dahsyat.Dimana kita hanyalah semua “tanda” yang terus-menerus mengalami pergantian identitas dan tak bisa lagi menemuka “jati diri” keaslian tentang kemanusiaan kita?

Terus terang, saya benar-benar tak tahu akan semua itu. Ketika “kebenaran” kemudian kita lekatkan pada sebuah konteks atau sebuah peristiwa, realitas apa yang bisa menjadikan kita ada dalam pemahaman bahwa kita telah menggenggam “kebenaran” tersebut? Lalu bagaimana kita bisa menggenggam “kebenaran” itu pada saat semua itu kita percaya sebagai hal yang bisa diduplikasi dan direproduksi sebagai versi-versi “kebenaran” . Sebuah pseudo “kebenaran yang diproduksi menjadi realitas dengan bantuan “pabrik” opini semacam media-massa?

Di sinilah Baudrillard berdiri di hadapan kita sambil tertawa terbahak. Namun tiba-tiba sebuah kearifan lama berkelebat juga di hadapan saya tentang sisi kemanusiaan kita ketika berhadapan dengan apa yang kita persangkan sebagai “kebenaran”. Bahwa manusia yang paling “menakutkan” dimuka bumi ini adalah jenis manusia yang “ tidak tahu, tapi tidak tahu bahwa dia tidak tahu”. Pada jenis manusia seperti inilah –apalagi bila memegang kemampuan mempengaruhi orang lain—yang kemudian bisa menjadikan sejarah menjadi tempat paling “memiriskan” hati.

Barangkali memang kita tak akan tahu bagaimana “kebenaran” merepresentasikan dirinya pada zaman seperti ini. Tapi di suatu ketika, di sekitar beratus-ratus abad Sebelum Masehi, Seorang Sokrates memberi kita sebuah “peneguhan” akan arti kemanusiaan kita, “aku tahu bahwa aku tak tahu”. Dan di saat-saat terakhir menjelang pelaksanaan hukuman yang dia harus lalui dengan meminum racun, kawan-kawannya berniat menolong dengan membebaskan. Namun Sokrates menolaknya. Dia semacam memberi kita sebuah “pesan” bahwa “kebenaran” tidaklah berbanding lurus dengan kemenangan atau kekalahan, kebebasan atau ketidak-bebasan. “Kebenaran” ada karena sebuah Harapan. Dan harapan itulah yang memang pantas kita perjuangkan.

Lalu, bagaimana “kebenaran” di sekitar carut-marut “perseteruan” yang demikian memiriskan hati di sekitar Lembaga KPK, Polri dan berbagai kepentingan politik yang seperti “pasir isap” itu pada negeri kita akhir-akhir ini?. Entalah. Tapi tiba-tiba, Baudrillard, Sokrates dan kearifan lama itu berputar-putar kembali.***
Diberdayakan oleh Blogger.