Semiotika Dusta

Apa yang bisa kita katakan tentang dusta? Dalam bentangan sejarah yang pernah terjejak, bagaimana dusta itu kita letakkan dalam sebuah  “kebudayaan” dan “peradaban” manusia? Terus terang, saya kurang memahaminya.  Namum barangkali, yang bisa kita katakan bahwa dusta adalah semacam “sisi gelap” kemanusiaan kita dalam sebuah bingkai yang saat ini kita namakan “kebudayaan” dan  “peradaban” itu sendiri. Sejarah “dusta”  adalah sejarah kebudayaan dalam peradaban manusia ketika “pola-pola” moralitas dan barangkali spiritual telah menemukan “pakem”-nya dalam meletakkan opisisi-biner dari semiotika tanda yang kita namakan “kejujuran”
.
Dengan demikain, mau-tidak mau di sana kita akan memasuki ranah rasionalitas Cartesian dengan segala turunan epistemologinya dalam positifisme dan empirisme yang kemudian melahirkan paradigma  modernitas dunia. Rasionalitas Cartesian, dalam sejarah pemikiran, bisa dikatakan merupakan puncak dari sebuah “episode” di mana “dunia di belah” pada irisan kategori-kategori.  Dalam pemahaman kritikus dunia modern, Adorno dan Horkheimer, di sinilah peletakan awal dari semua  model “berpikir dan melihat” dunia dalam bingkai opisisi biner tersebut. Timur dan barat, rasional dan irrasioal. Beradab dan biadab, salah dan benar, jujur dan dusta. 

Ironisnya, semua cara berpikir dan mempersepsi segala opisisi biner ini telah dikerangkeng dalam bingkai rasionalitas Cartesian yang kemudian membeku pada mitologis tentang modernitas. Dengan demikian, opsisi biner antara kebenaran dan ketidak-benaran, kemajuan dan keterbelakangan, dusta dan kejujuran bukanlah “ruang-ruang netral”, namun telah dibungkus dalam relasi-relasi kekuasaan.
Barangkali di sinilah genealogi Faucault bisa memberi kita alas pemahaman tentang bagaimana relasi-relasi kekuasaan masuk ke dalam ruang-ruang  pengaturan kita dalam membangun realitas. Bahwa apa yang kita persepsikan tentang dusta atau pun kebenaran itu merupakan permainan relasi-relasi kekuasaan yang langsung menyentuh prilaku kita sehari-hari. Dengan kata lain, obyektifitas yang hadir pada semiotika antara dusta dan kejujuran,  dibentuk dalam lingkungan yang sangat didominasi oleh relasi kekuasaan.

Pada sisi ini kita bisa juga memahami mengapa  Umberto Eco pernah menulis bahwa “Semiotika pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mpempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta”. Bahwa bagaimana pun, realitas yang menghidupi dan kita hidup pada dunia ini tidak terlepas dari “permainan” dari relasi kekuasaan dengan segala “lapis-lapis” semiotika dan hipersemiotikanya. Di sana, dusta atau kejujuran  tidak lagi ada pada “ruang tabula rasa kemanusiaan yang mendasas”, tetapi telah memuat demikian banyak kepentingan .

Lalu bagaimana kita memandang kejujuran dan dusta pada situasi keseharian kita? Terus terang saya tidak mengetahui. Dusta tiba-tiba menjadi sesuatu yang demikian “kabur” dalam ruang pemaknaan itu, ketika kita mengetahui bahwa fakta, data atau apa pun tempat kita bersandar untuk memaknainya adalah seperangkat “dunia” rasionalitas yang sebenarnya memiliki lapis-lapis yang dibentuk oleh relasi-relasi kepentingan kekuasaan. Apapun yang kita maknai sebagai kekuasaan itu.***
Diberdayakan oleh Blogger.