Jerusalem

Khalil Gibran, penyair besar Lebanon ini pernah menulis puisi rilis yang demikian memilukan tentang kematian seseorang di kota Jerusalem: “ Ketika orang kesayangan itu mati, seluruh umat manusia pun mati, seluruh mahkluk sejenak terdiam dan kelabu. Ufuk timur menggelap badai terlepas dari sana menyapu daratan. Mata langit berkedipan, hujan tercurah dari saluran membasuh darah  yang mengucur  dari tangan dan kaki-Nya” (Jesus the Son of Man).

 Kota Jerusalem, Palestina itu, memang senantiasa merasakan sebuah “paradoks” kehidupan dan kemanusiaan kita.  Di kota inilah kita menyaksikan bagaimana para Nabi di lahirkan, berkarya dan meletakkan ajaran cinta kasih. Namun di kota ini pula kita mendapati kebencian, keserakahan dan pembunuhan para Nabi. Kematian di kota ini serupa tanah gersang yang membentang di sudut-sudutnya.

Trias Kuncahyono, dalam buku Jerusalem 33: Imperium Romanum, Kota Para Nabi dan Tragedi di Tanah Suci, menarasikannya dengan indah sekaligus ironik. Bagaimana sebuah kota dengan tanah yang terjanjikan ini mampu melahirkan paradoks yang demikian memilukan. Sebentuk sejarah yang saling “meniadakan” antara cinta kasih dengan kebiadaban manusia .

Di tanah inilah orang-orang meyakini sebagai tanah yang telah disapih dengan kesucian cinta Tuhan. Tempat di mana dijanjikan sebagai bagian dari pertautan paling karib antara manusia dan Tuhan penciptanya. Di sinilah ruang dan udara yang pernah dihirup para Nabi. Air yang pernah diminum dengan rasa syukur yang tak terperi. Namun di sini pula, mereka –para Nabi—itu dibunuh justru oleh mereka yang juga mengaku sebagai pembawa ajaran Tuhan. Ironi dan memilukan memang.

Membayangkan Jerusalem di suatu masa adalah meletakkan kota ini pada irisan-irisan luka kemanusian kita yang paling subtil. Atas nama keyakinan agama dan atas nama kebenaran yang di turunkan Tuhan, di kota ini kita demikian gampang melenyapkan orang lain. Kebenaran di kota ini adalah kebenaran yang demikian “keras kepala”. Tak ada ruang bagi yang lain untuk berbagi kemanusiaan dalam keyakinan “kebenaran yang lain”. Politik memang menjadi  ideal pembenaran itu. Dan kita tidak mampu berada untuk sekedar memberi ruang toleransi.

Jerusalem memang seperti sebuah paradoks yang hadir dalam sejarah keberadaan kita sebagai manusia yang bertuhan. Di sana, di antara jalan-jalan kecil pemukiman penduduk, kita menjadi lebih paham tentang hidup yang kerap menyuguhkan “keganjilan” itu. Di jalan-jalan sempit itu, sejarah menceritakan bagaimana seorang Nabi, pengajar cinta kasih, berjalan tertatih menuju bukit tempat penyaliban. Dia diludahi oleh penduduk yang menyaksikan perjalanan itu. Disoraki dengan kutukan dan caci maki. Dan kita yang hidup di zaman ini hanya mampu membayangkan tragedi di kota yang telah menjadi kota pilihan Tuhan.

Agaknya, Jerusalem memang diletakkan sebagai sebuah “buku” yang harus kita baca dengan hati yang tak berdendam. Sebuah pelajaran yang harus kita cerna dalam bingkai “kebersihan hati”. Bahwa di kota ini, kota para Nabi ini, kebenaran tidaklan mesti “menang” dalam realitas. Dia adalah tahap dari sebuah perjalanan panjang untuk senantiasa diperjuangkan. Dengan cinta dan pemaafan tentunya. Bila tidak, maka yang terbaca hanya sebuah kota yang penuh darah dan kebencian. Kota yang tak memliki harapan kedamaian. Dan inilah yang paling berbahaya dalam titik keberadaan kemanusiaan kita. Rasa putus harapan itu sendiri. *** 
Diberdayakan oleh Blogger.