Kopi, Filsafat dan Kota

Di sebuah sore dengan langit yang terasa dekat bisa kembali menghubungkan kita dengan ketidak-berhinggaan “jejak” tentang eksistensi kemanusiaan kita. Di sebuah kedai kopi, di kota Makassar, kebudayaan dan peradaban bisa “melintas” dalam suasana yang paling cair sekaligus paling ironik. Di kota yang demikian akrab dengan tradisi “minum kopi” ini, kita memang seantiasa  bisa menemukan kembali “pertautan” yang kuat antara kegairahan sebuah kota yang  “berlari kencang” ke masa depan, dengan masa lalu yang mencoba bertahan dihimpitan gedung dan ruko (rumah-toko) yang seragam itu.

Kota memang senantiasa menyajikan hal yang ironik tapi tetap bisa dinikmati. Serupa filsafat yang kerap hanya menyediakan “kebuntuan” yang juga terasa ironik. Pencarian kebenaran yang coba diletakkan pada “keterbatasan” akal menjadikan filsafat menjadi racikan kopi yang akhirnya selalu kembali pada selera. Tapi seperti sebuah kota, dia bisa kita nikmati, walau kadang dalam suasana yang cukup ironik itu.

Kota Makassar, kedai kopi dan filsafat “setengah jadi” adalah “jejak” yang selalu berhitung untuk kembali pada “goa bayang-bayang”-nya Plato. Masa lalu yang sekarat tapi tak mati-mati. Dihidupi dengan imajinasi kebesaran masa lalu tentang para pelaut yang menunjuk langit dan bintang untuk  menjadikan daratan sebagai  “rumah” persinggahan. Kota yang meihat dirinya “berlari kencang”  tapi tangan dan kaki terikat pada goa.

Namun pada racikan kopi inilah,  ironi-ironi kota menjadi semacam “kekuatan” . Filsafat yang bertemu pada “jejak” masa lalu yang “buntu” namun tetap menyimpan harapan. Seperti ketika Derrida menemukan “kesia-siaan” dari apa yang selama ini disangka kebenaran. Sang Sisifus dalam mitologi Yunani yang demikian absurd namun tetap “bahagia” atau minimal dia membayangkan dirinya berbahagia. Karena dia ada karena dia melawan.

Memang sebuah sore dengan langit yang terasa begitu dekat, kerap mempertemukan sebuah kota, secangkir kopi dan filsafat dalam getaran-getaran ironiknya. Sejarah di sini telah dilipat dalam imajinasi yang bercampur realitas. Kita tak lagi tahu, apakah kita secangkir kopi, sebuah kota atau filsafat itu sendiri. Seperti seorang yang tertidur dan bermimpi menjadi kupu-kupu, namun ketika terbangun dia tak tahu apakah dia seekor kupu-kupu yang sedang bermimpi menjadi manusia.

Itulah ironik yang terasa “manis” untuk dihidupi dari sebuah kota di sore hari dalam kedai kopi yang menemukan filsafat dalam labirin-labirin batin seseorang di tengah riuhnya kota yang tak lagi mampu dimaknainya. Tapi seperti Sisifus,  dia selalu membayangkan dirinya “bahagia”. Pagi hari terbangun, melakukan aktivitas rutin, melewati jalan-jalan yang setiap hati dia lalui dan sore hari pulang ke rumah dengan perasaan jengah. Tapi dia merasa “bahagia”, sampai suatu ketika dia duduk di sebuah kedai kopi di sore hari dan kilatan filsafat “menghanguskan” rutinitasnya.***
Diberdayakan oleh Blogger.