Hukuman Mati

Bagaimana menjelaskan  hukuman mati? Sebentuk cara “sopan dan legal” dari sebuah kekuasaan (baca:  negara yang sebenarnya punya makna vulgar yakni membunuh manusia?  Entahlah. Tapi sebuah esai panjang Albert Camus, “ Resistance, Rebellion and Death” (Merenungkan Gilotin) setidaknya bisa sedikit bercerita. Dalam esai yang lirih dan sedikit puitis itu, Camus menggambarkan betapa “absurd”-nya seluruh prosesi yang bernama “hukuman mati” ini.

“Suatu ketika, tidak lama sesudah perang tahun 1914, seorang pembunuh yang melakukan tindak pidana  kejam (membunuh  sebuah keluarga petani, termasuk anak-anaknya) dijatuhi hukuman mati di Aljazair”. Pandangan umum saat itu menganggap hukuman penggal kepala saja tidak cukup untuk menghukum perbuatan monster  yang begitu kejamnya. Ayah Camus yang saat itu demikian merasa jijik dengan perbuatan monster ini berniat menyaksikan sendiri  pelaksanaan hukuman mati  tersebut. “Pagi-pagi benar dia bangun dan bersama-sama  dengan orang banyak dating ke tempat eksekusi “
Keterangan yang diperoleh Camus dari ibunya, bahwa sang ayah saat itu buru-buru pulang dan langsung masuk ke rumah dengan wajah pucat, tidak mau diajak bicara, berbaring sejenak  dan tiba-tiba muntah hebat. Agakknya, dia baru saja menyaksikan sebuah reaitas yang tersembunyi  dibalik semua ‘topeng” kata-kata halus tentang hukuman mati.

Bersembunyi di balik “topeng” dan kata-kata halus inilah yang senantiasa menandai realitas di sekitar hukuman mati itu. Karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang ingin berbicara  secara berterus-terang tentang pelaksanaan hukuman mati tersebut. Yang terjadi adalah sebuah “drama” di berita koran dan televisi  yang bercerita tentang hal-hal yang hanya berkisar di sekitar penghukuman itu. Kita hanya dilimpahi oleh informasi, perdebatan serta berbagai kisah tentang si pesakitan, namun pelaksanaan hukuman mati itu kemudian disembunyikan ke ruang yang paling tertutup.

Tak ada yang tahu bagaimana pelaksanaan hukuman ini berlangsung, kecuali beberapa gelintir orang yang tak akan bisa kita ambil keterangannya. Kita hanya bisa membayangkan dengan kadar imajinasi seadanya untuk menggambarkan itu semua. Dengan demikian hukuman mati terlihat demikian “sopan” namun telah kehilangan sisi paling argumentatifnya. Bagaimana pun, hukuman mati senantiasa berakar dari sebuah filosofi yang menganggap bahwa setiap tindak kejahatan akan bisa berkurang bila manusia diganjar dengan hukuman yang setimpal. Efek jera merupakan inti dari model pengukuman seperti ini.  Namun logikanya, efek jera itu akan efektif bila penghukuman itu dapat disaksikan langsung. Hukuman mati yang dilangsungkan di sebuah tempat terbuka dan dipertontonkan ramai-ramai.

Iroisnya, esai panjang Albert Camus kemudian menceritakan bahwa hukuman mati di ruang terbuka itulah, ayahnya yang berasal dari keluarga sederhana dan ingin menjadi warga yang baik itu, kemudian mengalami semacam rasa muak terhadap seluruh realitas yang mengelilingi hukuman mati tersebut. Sepulang dari meyaksikan prosesi hukuman mati itu, bukannya mejadi jerih terhadap perbuatan si pesakitan, namun berubah menjadi rasa muak terhadap hukuman mati.

Rasa absurd inilah yang senaniasa menandai sebuh hukuman mati. Dunia modern kemudian menjadi terlihat demikian “ambigu” terhadap seluruh percakapan tentang sebuah hukuman mati. Pada satu sisi, kita menganggap hukuman mati mampu membuat jerih dan berefek jera, namun pada sisi lain, kita menjadi demikian “sopan” memperlakuan hukuman mati tersebut. Tersembunyi dan diam-diam.*** 
Diberdayakan oleh Blogger.