Kartini

Sosoknya memang memancarkan kelembutan yang demikian khas. Saya pernah membayangkan berbicara di hadapannya. Menatap matanya yang bagai lautan tak tertebak itu. Menyimak suaranya yang pelan namun “bergemuruh” oleh cita-cita dan harapan. Namun itu sekedar pembayangan semata. Kita lahir pada zaman yang berbeda. Namanya,   Raden Adjeng Kartini sebelum menikah. Saat ini kita lebih mengenalnya dengan nama Raden Ayu Kartini setelah dipersunting  seorang Bupati Rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat 12 November 1903.

Keningratan adalah garis darah yang mau-mau tak menjadi bagian dari perjalanan hidup sosok perempuan cemerlang ini. Lahir di Jepara  21 April 1879 dari ayah seorang bupati Jepara, meletakkan Kartini dalam “ruang” yang demikian dipoles dengan berbagai tatakrama serta etika kultural yang membelenggu namun sekaligus memberi peluang baginya untuk menjangkau pemikiran lebih luas.

Saya pernah membayangkan berbicara di hadapannya. Namun barangkali pembayangan itu lebih pada mencoba “memetik” sedikit pemahaman tentang kisah hidupnya yang sebenarnya dilalui dengan episode yang sedikit tragik itu. Catatan dalam surat-menyurat dengan sahabat-sahabatnya di negeri Belanda jelas menjawab bagaimana “benturan” psikologis yang dialami perempuam bermata lembut ini. Sebuah “pemberontakan” yang demikian intens namun tetap menyadari bahwa dia tak mampu berbuat lebih banyak lagi untuk keluar dari kerangkeng budaya yang hidup pada zamannya.

Pertautan kita dengan sosok Kartini adalah pertautan yang hanya dihubungkan dengan “benang tipis” catatan surat-menyuratnya itu.  Namun itu telah cukup untuk bisa meletakkannya dalam bingkai sejarah batin seorang perempuan yang pemikirannya jauh melampau zamannya. Sesungguhnya, Kartini adalah sebuah tragedi yang tercatat tentang bagaimana sebuah zaman “membunuh” benih cemerlang yang dihadirkan di muka bumi ini. Tentang bagaimana sebuah kebudayaan menjadi “penjara” paling ampuh dalam mematikan pijaran pemikiran seorang anak manusia.

Saya pernah membayangkan berbicara di hadapannya. Namun dalam bayangan itu, apakah Kartini berbicara dalam gelegar semangat atau dalam isak tangis tertahan? Di sinilah saya sulit meracik dialog imajiner kami. Namun yang pasti , dari catatan surat-menyurat yang ditinggalkannya itu, Kartini adalah sebuah kegelisahan yang demikian dahsyat. Semacam rasa jengah yang tak terperikan dari sebuah batin yang sesungguhnya tak menerima kondisi yang melingkupi sekelilingnya. Dan tragiknya, dia harus menerima kondisi tersebut.

Apakah Kartini menyerah pada keadaan yang menghimpitnya? Terus terang saya tidak tahu. Namun barangkali memang kita harus membayangkan dia dalam sebuah zaman yang berbeda dengan zaman kita saat ini. Di sana kartini menjadi utuh dalam seluruh kemanusiaannya. Tampil dan berbicara. Harapan, kesedihan, kekecewaan dan kemarahan menjadi lengkap dalam paduan surat-suratnya yang demikian mampu membuat kita terhenyak.


Kartini adalah perempuan yang lahir di sebuah zaman yang tak “bersahabat” dengan batinnya. Namun serupa pemikir-pemikir besar yang “senantiasa bertengkar dengan zamannya”, dia memang harus menjadi martir untuk dikenang dan diabadikan. Dan di sana kita harus membayangkan Kartini berbahagia.***
Diberdayakan oleh Blogger.