Kota Makassar : Manusiawi atau Tidak


Permasalahan Kota

Setiap pertumbuhan kota, senantiasa membawa dampak tersendiri.  Dampak pertumbuhan ini memang sulit dielakkan, mengingat  sebuah kota merupakan bagian organik yang memiliki tahapan tumbuh, berkembang sampai menua selayaknya organisme. Menariknya bahwa dalam setiap proses tahapan tersebut akan memberikan kita tantangan sekaligus peluang guna memberi sentuhan “rekayasa”, agar  kota tersebut tetap layak dihuni. Dengan kata lain, segala proses dampak yang timbul dari pertumbuhan sebuah kota senantiasa memiliki “ambang batas” toleransi sehingga wujud kota yang memanusiawikan manusia masih merupakan “blue print” harapan dari setiap penghuninya.

Bagaimanapun, kota Makassar pada karakter dan proses tumbuh kembangnya pasti menyimpan kesamaan dengan kota-kota lain dalam hal dampak yang ditimbulkan. Bahkan lebih dari itu, kota yang berpenghuni kurang lebih 3 juta jiwa ini merupakan salah satu kota dengan tingkat pertumbuhan yang sangat pesat. Data terakhir dari Badan Statistik Nasional (BPS), rata-rata tingkat pertumbuhan kota Makassar berkisar dalam angka 7% per tahun.

Indikator pertumbuhan kota ini menggambarkan bahwa Makassar berada dalam geliat ekonomi  yang kuat. Sebagai “pintu masuk” ke wilayah timur Indonesia, kota ini memang memiliki daya pesona tersendiri bagi urbanisasi. Inilah yang menjadi salah satu menyebab mengapa kota ini memiliki ambang potensial yang cukup tinggi bagi munculnya dampak ikutan yang senantiasa mengiringi gerak tumbuh sebuah kota. Secara umum, sebagaimana kota-kota metropolitan lainnya, problematika yang muncul sebagai dampak pembangunan kota dapat diidentifikasi dalam beberapa poin.

Pertama, problem kemacetan kota. Persoalan kemacetan ini merupakan bagian dari permasalahan klasik setiap kota yang bertumbuh. Daya dukung jalan yang tidak sebanding dengan laju pertumbuhan kendaraan. Menurut catatan Dinas Perhubungan Kota Makassar,  tingkat pertumbuhan  kendaraan roda dua antara 13% sampai 14% pertahun. Sedangkan untuk kendaraan roda empat sebanyak 10%  pertahunnya, Kondisi ini sangat berbandng terbalik dengan pertumbuhan ruas jalan yang hanya sekitar 0,01% saja pertahun. Inilah salah satu penyebab mengapa kota Makassar mulai dilanda “penyakit” macet di mana-mana.

Kedua, persoalan sampah baik sampah rumah tangga maupun sampah home industry yang semakin lama semakin tak terkendali. Permasalahan sampah ini memang menjadi bagian yang cukup pelik dalam cara menyelesaikannya. Hal ini karena sengkarut problematikanya sangat berkaitan dengan kultur masyarakat dalam mempersepsi kebersihan. Bagaimanapun bagusnya konsep kebijakan pemerintahan kota dalam mencoba menuntaskan masalah sampah ini, gerak partisipasi warga kota merupakan bagian yang paling menentukan sukses atau gagalnya kebijakan tersebut.  Selama ini, terobosan kebijakan yang banyak dilakukan oleh pemerintah kota masih berkutat dalam pola lama, yakni berupa kebijakan yang bercorak top down. Gerak partisipatif yang langsung menyentuh kultur  masyarakat kerap abaikan. Inilah yang menyebabkan persoalan sampah seperti menjadi “lingkaran" setan” yang tak berujung dari masa ke masa.

Ketiga, Persoalan tingginya angka kriminalitas di setiap kota. Permasalahan ini juga menjadi permasalahan klasik setiap kota. Tingginya urbanisasi yang tidak seimbang dengan data serap kota dalam menyediakan lapangan kerja menjadi faktor penentunya.  Di samping itu, disparitas ekonomi masyarakat semakin membentuk jurang pemisah yang demikian lebar sehingga efek paling menonjol adalah timbulnya kesenjangan ekonomi yang tak terjembatani. Inilah yang menjadi sebab pemicu dari meningkatnya kriminalitas diperkotaan, termasuk kota Makassar.


Antara Persepsi dan Realitas

Dalam dialektika pertumbuhan kota semacam itulah, warga kota Makassar menjalani kesehariannya. Prolematika perkotaan beserta dampak negative yang mengiringinya, mau-tidak mau menjadi realitas hidup. Permasalahan ini pulalah yang bisa menjadi parameter awal bagaimana kita mengukur apakah kota Makassar masih berwajah manusiawi atau tdak. Masih layak disebut sebagai kota yang “bersahabat” atau telah menjadi sebuah kota metropolitan yang “begis dan kejam” terhadap warga masyarakat penghuninya.

Salah satu hal yang menarik ketika membincangkan permasalahan kota di Makassar adalah permasalahan rasa nyaman dan aman warga kota. Bebarapa waktu lalu, nyaris sebagian besar warga Makassar membicarakan bagaimana rasa nyaman dan aman itu hilang dan berganti rasa cemas, bahkan rasa ketakutan. Semua itu disebabkan oleh tingginya kejahatan yang dilakukan sekelompok orang yang biasa disebut genk motor. Para begal motor ini memang melancaran kejahatannya dengan cukup nekad dan kejam karena tak segan-segan melukai korbannya.

Aksi kriminalitas seperti perampokan di minimarket, perampasan serta menodongan dilakukan oleh pelaku-pelaku muda usia itu. Kecemasan warga Makassar ini semakin meninggi karena kejahatan ini, alih-alih berkurang justru semakin menggila. Apalagi, dalam takaran tertentu, masyarakat seperti dibiarkan sendiri dalam ketakutannya masing-masing. Aparat Kepolisian serta Pemerintahan Kota seakan-akan tak hadir di sana. Tidak mengherankan bila dalam kondisi seperti ini maka informasi menjadi semakin liar serta membentuk zona persepsi yang semakin tak terkendali.

Makassar menjadi kota tak aman dan nyaman lagi. Itulah persepsi yang semakin lama semakin membentuk realitas pembenarannya sendiri. Barangkali yang sesungguhnya tidak sedemikian mencemaskan, namun ketika persepsi  tidak aman itu telah menguasai benak warga, maka realitas pun akan semakin menjadi suram.  Dengan begitu, tidak bisa kita salahkan mengapa warga menjadi semakin defensif, tertutup dan semakin kehilangan trust kepada sesama warga kota.

Padahal dalam setiap pertumbuhan kota yang dikatakan “sehat”, trust atau kepercayaan antara sesama warga kota merupakan modal sosial (social capital) yang sangat dibutuhkan. Modal sosial adalah spirit kegotongroyongan dalam kultul kearifan lokal kita kemudian menjadi semakin tergerus. Inilah dampak panjang dari sebuah kota yang secara perlahan mengabaikan dan menyepelekan fenomena kriminalitas jalanan sehinnga semakin lama semakin menjadi “penyakit sosial” yang tak lagi mampu diurai jalan keluarnya.

Ketidak nyamanan dan aman warga ini merupakan alarm bagi pihak aparat kepolisian dan pemerintahan kota untuk tidak lagi terkesan  demikian lambat dalam penangangan kriminalitas jalanan ini. Taruhannya cukup besar di sana. Karena bagaimana pun, dampak yang diberikannya akan seperti “bola salju” yang akan merontokkan semua sendi-sendi modal sosial warga sebagai subyek pembangunan sebuah kota.

Kota dibangun untuk manusianya, bukan untuk bangunannya. Rasa nyaman dan aman warga kota merupakan harga mati yang harus dipenuhi sebagai sebuah kota yang memanusiawikan para warganya. Karena bila hal tersebut tidak terpenuhi, maka kota yang “bengis dan kejam” akan hadir di hadapan kita. Kota yang tak lagi layak disebut kota.***
Diberdayakan oleh Blogger.