Setahun Pemerintahan Danny Pomanto-Daeng Ical



Kerja dan Persepsi 

Tanggal 8 Mei bisa jadi merupakan tonggak penting bagi tahapan gerak maju kota Makassar. Dikatakan demikian karena pada tanggal inilah setahun yang lalu, pemerintahan baru kota Makassar terbentuk dan dilantik. Terpilihnya Danny Pomanto-Daeng Ical sebagai Walikota dan Wakil Walikota Makassar dengan perolehan suara yang signifikan memang menjadi sebuah fenomena tersendiri pada jagad politik kota Makassar. Dalam konteks perubahan paradigma serta pola masyarakat pemilih, kemenangan Danny-Ical merupakan bagian dari terbentuknya pola baru dalam masyarakat kota Makassar dalam menjatuhkan pilihan politiknya.

Basis-basis pilihan politik warga kota yang konvensional dan berciri gaya lama mulai ditinggalkan.  Partai Politik dengan basis ideologi serta  bercorak tradisional mulai berganti dengan paradigma baru di mana poitik mengalami personalisasi yang tajam. Dengan demikian, pergeseran prilaku pemilih kemudian menjadi sangat menentukan. Dalam paradigma ini, warga masyarakat meletakkan dirinya benar-benar sebagai  “pemilik penuh” dari suara mereka serta menjatuhkan pilihan politiknya berdasarkan nilai-nilai kemanfaatan serta harapan mereka akan masa depan. Meminjam bahasa ilmu marketing, saat ini warga masyarakat lebih meletakkan dirinya sebagai  (costumer) konsumen dalam menjatuhkan pilihan politiknya.

Di sinilah bagaimana pola prilaku warga kota Makassar  menemukan konteksnya dalam meletakkan diri  pada bingkai pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Makassar pada 2014 lalu. Terpilihnya Danny Pomanto dan Daeng Ical tidak terlepas dari bergesernya pola prilaku para pemilih ini. Namun di sebutkan dalam buku Ummi Salimah, “ Brand Pemimpin Politik” (2015), bahwa ciri khas dari pola pemilih yang bercorak costumer ini adalah sikap loyalitas yang tak lagi rigid dan kaku. Para pemilih atau masyarakat demikian gampang mengalami proses distrust atau kehilangan kepercayaan bila  apa yang mereka inginkan tidak memperoleh pemenuhan dalam harapan yag tertuang pada kebijakan pemerintahan.

Dengan kata lain, basis yang menentukan loyalitas masyarakat tidak tercermin lagi pada kesamaan ideologis atau partai, namun lebih pada loyalitas yang tumbuh karena personalitas dan brand memimpin politik yang dianggap mampu memenuhi harapan  kehidupan mereka. Di sinilah kinerja pemerintahan  dan persepsi masyarakat menjadi demikian penting dalam membangun komunikasi politik. Kinerja pemerintahan yang baik hanya akan membengun persepsi yang juga baik pada masyarakat bila disertai dengan komunikasi politik yang baik.

Persoalan yang kerap menjadi hambatan dalam melakukan pertautan yang kuat antara persepsi masyarakat dengan kinerja pemerintahan adalah buruknya pola komunikasi yang berlangsung. Bagaimanapun,  harapan atau tingkat ekspektasi masyarakat akan bergerak seiring dengan laju persepsi mereka terhadap pemerintahan yang kemudian mampu dengan sendirinya menggerakkan partisipasi  dan pelibatan aktif mereka terhadap program yang dijalankan pemerintah.

Adanya saling keterkaitan erat antara persepsi masyarakat, kinerja pemerintahan, pola komunikasi politik dan partisipasi aktif masyarakat menjadikan pola prilaku politik serta loyalitas publik menjadi hal yang sangat penting dalam mengukur kinerja pemerintah. Hal ini juga berlaku pada kinerja pemerintahan kota Makassar yang telah berjalan setahun pada 8 Mei 2015. Setidaknya untuk menakar kinerja setahun pemerintahan  Kota Makassar, kita harus kembali meletakkan visi-misi Danny Pomanto-Daeng Ical saat kampanye dahulu serta mengukur persepsi masyarakat kemudian bermuara pada pelibatan dan partisipasi aktif warga kota Makassar dalam menyukseskan visi misi tersebut.

Berangkat dari Visi Misi

Terpilihnya Danny Pomanto-Daeng Ical  sebagai Walikota dan Wakil Walikota Makassar 2014-2019, bagaimanapun tidak terlepas dari cara warga pemilih di kota Makassar menangkap, menpersepsikan visi misi Danny-Ical saat kampanye dulu dan kemudian mempertautkannya dengan harapan hidup mereka di masa depan. Dalam pola paradigma baru masyarakat kota menjatuhkan pilihan politiknya,  mau-tidak mau harus diletakkan pada bagaimana visi misi para kandidat pemimpin tersebut mampu bertemu dengan ekspektasi masyarakat kota Makassar. Dalam hal ini Danny Pomanto-Daeng Ical mampu mengomunikasikannya dengan sangat baik.

Setidaknya dalam kampanye Walikota dan Wakil Walikota Makassar dahulu, kita mencatat visi-misi Danny Pomanto-Daeng Ical yakni: pertama, mewujudkan kota Makassar sebagai kota dunia dengan menjadikan penataan lorong menjadi basis utama. Kedua, rekonstruksi nasib rakyat menjadi masyarakat sejahtera standar dunia, mereformasi tata kelola pelayanan publik dan merestorasi tata kota yang nyaman berkelas dunia.

Dari rangkaian visi-misi yang diperkenalkan oleh Danny Pomanto-Daeng Ical ini, yang cukup menarik serta menimbulkan greget simpati dan partisipasi warga kota untuk ikut terlibat dan kemudian menjatuhkan pilihan politiknya pada pasangan pemimpin Makassar ini adalah adanya penekanan pada “penataan lorong” serta “reformasi birokrasi untuk pelayanan publik berkelas dunia”. Penataan lorong di kota Makassar merupakan bagian yang memang sangat menonjol dan original dalam sebuah komunikasi politik bernuansa kampanye. Pada konteks ini, keberpihakan Danny-Ical pada warga kecil tidak lagi terkesan normatif, namun terasa sangat konkret. Lorong dalam tata permukiman warga kota Makassar merupakan tempat yang sangat tepat untuk merepresentasikan komunitas warga kota kelas menengah kebawah. Lorong juga merupakan “simbol” yang selama beberapa periode lamanya dianggap sebagai bagian kota yang “terlupakan” dalam sentuhan pembangunan.

Dengan demikian ketika Danny-Ical mendeklarasikan dirinya sebagai “anak lorong Makassar”, maka tidak mengherankan bila pasangan ini menuai simpatik dan membangkitkan partisipasi warga. Apalagi kita ketahui bahwa sebagian besar masyarakat pemilih bermukin di lorong-lorong kota Makassar. Kemampuan menangkap ekspektasi  warga kota dan mengelolanya dengan komunikasi politik yang baik adalah kunci utama bagaimana Danny-Ical mampu menarik simpatik pemilih.
Hal lain yang cukup menonjol dari visi-misi Danny Pomanto-Daeng Ical adalah janji “reformasi birokrasi untuk pelayanan publik yang berkelas dunia”. Walaupun hal ini telah biasa dikampanyekan oleh kandidat lain, namun Danny-Ical menambahkannya dengan standar pasti yakni “berkelas dunia”. Ini menjadikan masyarakat kemudian menganggapnya sebagai program yang bisa diukur sampai sejauh mana tercapai nanti. Karena bagimanapun, dalam era keterbukaan teknologi informasi saat ini, warga kota dengan gampang mampu mencari perbandingan model pelayanan publik di banyak belahan dunia.

Setelah setahun pemerintahan Danny Pomanto-Daeng Ical di kota Makassar berjalan, kita harus kembali mengingatkan tentang visi misi tersebut. Sampai sejauh ini pemerintahan kota memang telah bergerak dalam koridor yang telah tepat, namun yang terasa kurang adalah kerja dan kinerja pemerintahan kota tersebut masih berada dalam bingkai komunikasi searah dan tetap melingkar pada pola pendekatan top down semata. Barangkali yang diperlukan adalah upaya terobosan baru dari pemerintahan kota Makassar untuk mampu menjadikan warga kota menjadi pemilik aktif kota mereka dan dari sanalah tumbuh partisipasi langsung masyarakat. Sebab bila tidak, maka yang ada hanya pengulangan  kekeliruan lama di mana warga kota hanya dimobilisasi untuk sebuah keperluan pemerintah tanpa ada rasa memiliki kota tersebut.***
Diberdayakan oleh Blogger.