Abraham Samad: Sosok Pejuang Keadilan (bagian 2)

1.             
  Tulisan ini merupakan bagian dari profil Abraham Samad yang diambi dari buku Sosok dan Kiprah Pejuang Keadilan dengan judul "DARI MAFIA HINGGA TERORIS" diterbitkan oleh eLsim tahun 2010


            Memasuki Dunia Kampus

Setelah menyelesaikan studinya di sekolah menengah atas (SMA) tahun 1987, Abraham Samad kemudian melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Pilihannya saat itu cuman satu , fakultas hukum yang memang menjadi keinginannya sejak kecil. Abrahampun mendaftarkan dirinya di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dan diterima di sana. Memasuki dunia kampus bagi Abraham seperti menemukan tempatnya untuk mengaktualisasikan diri. Wataknya yang demikian tertarik dengan dunia intelektualitas serta dunia organisasi menjadi tersalurkan di sana. Dengan demikian, sejak awal memasuki dunia kampus, Abraham sudah terlibat aktif dalam berbagai kegiatan yang bercorak intelektual dan belajar membangun watak kepemimpinan di sana.

Karena aktifitasnya inilah, Abraham kemudian dikenal kawan-kawannya di kampus sebagai seorang aktivis mahasiswa yang gigih memperjuangkan aspirasi rekan-rekannya. Semangat pembelaan yang sudah tertanam sejak kecil, sangat tumbuh mekar di sana. Berbagai perdebatan intelektual yang kerap ia ikuti dalam berbagai forum diskusi kampus, membuatnya semakin mampu memberi landasan pada pemiiran idealisme yang dijunjungnya. Dalam proses aktifitasnya inilah Abraham Samad kemudian terpilih sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Perdata Fakultas Hukum Unhas, tahun 1989. Bahkan setahun kemudian, di tahun 1990, ia menjadi coordinator Forum Komunikasi Mahasiswa Ujung Pandang (FKMUP).

Namun yang menarik dari seluruh aktivitasnya adalah ketika Abraham memberi warna bagi sikap idealism serta jiwa kritisnya ini adalah sewaktu ia mencoba mereformasi organisasi Senat Mahasiswa yang saat itu dianggapnya sangat tidak mandiri. Karena itulah, Abraham kemudian mencalonkan diri untuk menjabat ketua senat. Ironisnya, walaupun Abraham saat itu banyak didukung oleh para mahasiswa, namun karena dia tak mendapat restu dari seorang petinggi fakultas, maka kemenangan yang sebenarnya suhad ditangannya kemudian dianulir. Kejadian ini tidak membuat Abraham sedih, namun ia sangat kecewa terhadap model pemberangusan yang memakai cara-cara kekuasaan untuk menjegal seseorang. Sama seperti ketika ia dahulu diperlakukan sewenang-wenang oleh seorang aparat kepolisian ketika duduk di bangku sekolah menengah atas.


Berangkat dari sinilah Abraham Samad menjadi semakin memahami sebuah realitas di mana sebuah perjuangan haruslah dilandasi dengan kemampuan intelektual yang mumpuni untuk menjadikan perjuangan itu memperoleh daya kebenaran sejati. Dengan demikian, bagi Abraham, hati nurani, kecerdasan ilmu serta cakrawala pengetahuan yang luas merupakan pilar utama bagi seseorang yang ingin menegakkan kebenaran. Sebab bila tidak, maka yang terjadi adalah sebuah arogansi kekuasaan yang hanya bisa berwujud terror bagi siapapun*** (bersambung)
Diberdayakan oleh Blogger.