Membaca Masa Depan Makassar

Makassar dalam Lingkar Asean

Tanggal 8 – 10 September 2015 nanti, kota Makassar bakal ramai dikunjungi oleh para Walikota dari negara-negara Asean. Dengan tajuk “Asean Mayors Forum 2015”, ajang  pertemuan Walikota se-Asean ini menjadi sebuah momentum besar bagi kota Makassar dalam menapak gerbang menuju “Masyarakat Ekonomi Asean” yang mulai bergulir diakhir tahun 2015 nanti.

Terpilihnya Makassar sebagai tuan rumah dari gelaran besar ini memang bisa dibaca dari berbagai perspektif. Namun pada konteks bagaimana kesiapan sebuah kota dalam mempersiapkan diri pada sebuah era di mana lalu lintas perdagangan bebas merupakan tantangan terbesar buat kemaslahatan warga kota ke depan, menjadi sangat menarik diperbincangkan.

Pertemuan para pemimpin lokal se-Asean yang diselenggarakan oleh lembaga United Cities and Local Government Asia-Facific (UCL G ASPAC), ASEAN, Asosiasi Pemerintahan Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar ini memang menjadi sebuah tahapan yang sangat penting, bukan saja bagi kepentingan regional namun lebih pada kepentingan lokal daerah.

Bagaimanapun, dalam bingkai Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), sebuah kota menjadi bagian yang paling bersentuhan dengan proses menyatunya perekonomian yang tak lagi memiliki sekat dalam arus perdagangan serta sumberdaya manusia (SDM). Kemampuan dan kesiapan setiap kota dalam lini-lini strategis menjadi sebuah pertaruhan. Inilah yang menyebabkan mengapa rangkaian forum pertemuan ini harys dimaknai sebagai ‘ujian awal’ dari kesiapan kota Makassar dalam proses membangun sinergisitas dalam menyongsong era Masyarakat Ekonomi Asean 2015 ini.

Setidaknya, dengan mengacu pada tujuan dari terbentuknya forum tersebut serta jadwal kegiatan yang diagendakan pada tanggal 8 sampai dengan 10 September nanti, ada beberapa hal yang perlu mendapat catatan penting. Pertama, bagaimana meletakkan posisi kota Makassar dalam bingkai Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 serta meletakkan potensi serta tantangan yang bakal dihadapi. Pada konteks ini, competitive advantage (daya saing kompetitif) kita haruslah dapat ditakar dan dibandingkan dengan daya saing kota-kota lain di negara Asean.

Kedua, bagaimana dalam momentum forum pertemuan para Wakilota se-Asean ini, kota Makassar mampu memanfaatkannya sebagai ‘pemicu’ dari proses pertumbuhan serta arus masuk investasi untuk kemaslahatan warga kota khususnya dan Indonesia Timur umumnya. Ketiga, bagaimana menemukan kekuatan  yang bersifat nilai tambah serta sinergisitas daya dukung seluruh elemen kota bergerak dalam frekuensi yang sama menuju target bersama sebagai kota terdepan dalam tata ekonomi dan pergaulan Asean.

Bila dimanfaatkan secara maksimal, maka Asean Mayors Forum 2015 bisa jadi merupakan pemicu dari lompatan bersejarah kota Makassar. Karena bagaimanapun, terpilihnya kota Makassar sebagai tuan rumah dari pertemuan akbar ini merupakan signal paling lugas bahwa kota dengan penduduk sekitar 2 juta jiwa ini telah mampu meletakkan dirinya sebagai salah satu kota yang memiliki daya tarik. Minimal dengan terpilihnya Makassar sebagai tuan rumah mengindikasikan bahwa kota ini telah bergaung dalam lingkar Asean sebagai kota yang potensial ke depan.

Arah Kota Makassar

Dalam konstalasi tersebut, kita sedikit banyak harus memahami potensi, kekuatan dan letak kelemahan yang menjadi bagian tantangan setra hambatan kita dalam ikut memainkan peran penting di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 nanti. Ini menjadi sangat penting mengingat bahwa proses pengintegrasian kawasan dalam sebuah zona perdagangan bebas harus diletakkan pada dimensi kompetitif serta kemampuan segala sumberdaya dalam menggerakkan sinergi untuk tujuan tertentu.

Sebagai kota yang potensial, Makassar memang tak diragukan lagi. Sejarah panjang yang dicatatkan oleh kota ini telah menjadi trade mark sebagai kota yang bertumbuh dalam laju yang tinggi. Sejak abad ke 16, kota Makassar telah menjadi bagian yang penting dalam lalu lintas perdagangan di Asia Tenggara, bahkan di level dunia. Pada masa itu, Makassar telah menjadi “markas” dari para pedagang lintas negara dan telah menerapkan sistem perdagangan bebas dalam arti sesungguhnya.

Dengan catatan panjang sejarah semacam itu, tidak mengherankan bila kota ini menjadi ‘pintu gerbang’ dari Kawasan Timur Indonesia (KTI). Saat ini, Makassar merupakan kota terbesar ke empat di Indonesia dan terbesar di Kawasan Timur Indonenesia (KTI). Dengan cakupan luas wilayah yang meliputi kurang lebih 175,79 km2 dan jumlah penduduk sekitar 2 juta orang, Makassar terus bertumbuh pesat menjadi kota metropolitan dengan geliat yang kencang. Arus pembangunan yang demikian pesat ini ditandai dengan laju kencang pertumbuhan diatas 9% pertahun.

 Sebagai pusat pelayanan di Kawasan Timur Indonesia, Makassar tampil berperan penting sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat kegiatan industri, pusat kegiatan pemerintahan, menjadi simpul jasa transportasi barang dan penumpang baik darat laut dan udara serta pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan. Semua hal tersebut menjadikan kota Makassar meletakkan diri sebagai wilayah tempat bertumpu bagi perkembangan pembangunan di wilayah lain Indonesia Timur.
Posisi strategis geografis serta modal sosial (social capital) sumberdaya manusia yang besar dari Makassar inilah bisa menjadikannya sebagai kota tumpuan bagi kota di sekitarnya. Sebuah kota yang bukan saja mampu bertumbuh sendiri dengan kuat, namun juga mampu menggerakkan daerah-daerah lain di Indonesia Timur untuk ikut bertumbuh dalam sinergisitas dan harmoni.

Realitas seperti ini bukanlah semacam ‘pepesan kosong” belaka. Hal ini telah ditunjukkan dengan kuat ketika beberapa waktu yang lalu Makassar meraih penghargaan Indonesia’s Attractiveness Award 2015 dari Media ternama yakni Tempo Media Group serta salah satu lembaga survey ternama, Frontier. Dalam penghargaan ini, Makassar menyabet 3 gelar sekaligus yakni sebagai Kota Terbaik Infrastruktur, Kota Terbaik per Koridor MP3EI dan Peringkat Platinium sebagai Kota Terbaik.
Dengan demikian, peletakan positioning kota Makassar dalam bingkai besar hubungan antar kota di negara-negara Asean tidak perlu lagi diragukan.

Namun semua potensi dan kekuatan yang dimiliki kota ini bukanlah secara otomatis menjadi ‘jalan tol’ untuk menjadi mulusnya Makassar memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015. Hambatan dan tantangan terbesar yang bakal dihadapi adalah bagaimana mensinergikan semua potensi tersebut dalam satu kesatuan kebijakan yang terintegrasi. Partisipasi public merupakan bagian yang tidak bisa diremehkan serta bagaimana Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mampu mengelola dampak negatif  dari proses bergulirnya MEA 2015 nanti.

Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi poin penting yang sangat perlu mendapat penekanan dalam mensinergikan serta pengintegrasian semua kebijakan dan implemantasinya dalam konteks sebuah kota masa depan yang unggul. Pertama, persoalan managemen konflik yang mau-tidak mau akan mewarnai perjalanan dari zona kawasan bebas tersebut. Kedua, Kepastian hukum serta penegakannya yang menjadikan para investor merasa nyaman berinvestasi. Ketiga, Kesiapan infrastruktur, terutama infrastruktur yang mendukung arus barang yang lancar dan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunisai (TIK) yang mumpuni.


Dan di atas semua itu, keberpihakan total dari Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar pada warga kota dalam seluruh lini aktifitas mereka, terutama pada sektor usaha kecil dan menengah yang mamang membutuhkan dukungan dan perlindungan. Bila hal tersebut telah menjadi komitmen pemerintah kota, maka sikap optimis memang pantas kita dapatkan ketika memasuki era MEA 2015 nanti. Dengan kata lain, dalam memasuki era Masyarakat ekonomi Asean (MEA) 2015, Makassar tidak saja menjadi kota yang mampu bertumbuh sendiri dengan member kesejahteraan pada warganya, namun juga menjadi tumpuan harapan dari tumbuhnya kota-kota di Kawasan Indonesia Timur bahkan kota lain di Asean.***
Diberdayakan oleh Blogger.