Abraham Samad: Sosok Pejuang Keadilan (bagian pertama)

1. 
     Tulisan ini merupakan bagian dari profil Abraham Samad pada buku "Sosok dan Pandangan Para Pejuang Keadilan" yang berjudul "DARI MAFIA HINGGA TERORIS" diterbitkan eLsim, tahun 2010, editor: Makmur Gazali


            Sejak Kecil Ditinggal Ayah

Pada usia yang masih sangat dini, Abraham Samad telah ditinggal ayahnya. Saat itu usianya baru menginjak Sembilan tahun, ketika ayahnya, Andi Samad, seorang tokoh pejuang kemerdekaan ’45 berpulang ke Rahmatullah. Memang tak ada yang lebih menyedihkan ketika harus menghadapi sebuah kenyataan pahit bila seorang yang selama ini menjadi penopang hidup keluarga telah dipanggil Sang Pencipta. Namun persoalan tidak sampai disitu saja. Dalam kondisi berduka, keluarga Abraham Samad kembali harus menghadapi sebuah persoalan yang sangat menyakitkan. Konrtaktor yang menjadi kepercayaan dalam  usaha konstruksi yang dirintis ayahnya dengan susah payah, tiba-tiba berkhianat. Setelah ayah Abraham meninggal dunia, orang tersebut dengan sepihak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengambil alih perusahaan ayah Abraham.

Ibunda Abraham, yang saat itu masih dalam keadaan berduka, merasa perlakuan tersebut sangat tidak manusiawi. Ia kemudian meminta Dachlan SH, Prof Achmad Manggau SH untuk membatunya menyelesaikan permasalahan ini. Bermula dari peristiwa itu, Abraham kecil mulai berkenalan dengan dunia hukum. Ia terlihat sering menemani ibunya saat mereka meleakukan konsultasi dengan para penasehat hukum tersebut.

Sejak saat itulah, Abraham kecil belajar memahami bagaimana sebuah persoalan hukum tidak saja menimpa orang-orang yang memang berhati jahat, namun juga dapat terkena pada siapapun, tak terkecuali pada keluarganya sendiri. Kenangan ini kemudian dengan rapi disimpan dibenaknya. Abraham mulai membayangkan suatu ketika, bila dewasa kelak, ia juga mampu menolong orang lain yang mempunyai nasib sama dengan ibunya. Membantu orang yang mengalami kesusahan dan memberi jalan keluar bagi persoalan mereka.

Lahir pada tanggal 27 November 1967, di Makassar, Abraham Samad tumbuh dalam pengasuhan ibunya. Sebagai anak yang sejak kecil ditinggal ayahnya, Abraham memang menjadi sangat terikat  secara emosional dengan sang ibu. Hubungan ini demikian kuat. Bahkan bagi Abraham sosok ibunyalah yang senantiasa menjadi pilar dalam menuntun hidupnya. Ketika memasuki sekolah dasar, sebagaimana kebanyakan teman sebayanya, punya keingintahuan yang demikian besar. Kerena sifat inilah, Abraham kecil terkesan mempunyai sifat tidak bisa diatur bila berhadapan dengan sifat keingintahuannya ini.  Pernah suatu ketika di sekolah dasar, Abraham kecil harus menghadapi hukuman dari gurunya yang menjepit jari-jari kecil Abraham dengan sebuah pulpen. Abraham kecil meringis dan menggerutu dalam hati. Namun saat ini ketika dia mengingat peristiwa itu, ia paham bahwa hukuman itu sangat wajar sebagai bagian dari proses pendisiplinan dirinya.

Setelah menyelesaikan  pendisikan dasarnya, Abraham Samad kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Nasional, Makassar tahun 1980. Di sekolah ini Abraham semakin tumbuh dalam pribadi yang sangat kritis. Sikap kritisnya ini kemudian tercermin dari sifatnya yang tidak nyaman terhadap proses ketidakadilan yang dijumpainya. Inilah saat-saat dimana Abraham mulai membentuk wataknya yang tidak mengenal kompromi terhadap apa yang dianggapnya sebagai penyimpangan . Pribadi ini kemuadian berlanjut dan memperoleh ruang pertumbuhannya ketika memasuki sekolah menengah atas (SMA) Katolik Cenderawih , Makassar, tahun 1983. Saat itu Abraham terbilang popular diantara kawan-kawannya. Rumahnya yang berdekatan dengan sekolah menjadi tempat berkumpul kawan-kawan sekolahnya. Jiwanya yang kristis dan memberontak ini sering meledak dalam dirinya, membuat Abraham sering terlibat dalam perkelahian (tawuran) dengan sesame pelajar sekolah lain. Semua itu dilakukan hanya untuk membela kawannya. Suatu saat Abraham digiring ke kantor polisi karena perkelahian tersebut. Inilah pertama kali Abraham Samad berurusan dengan aparat kepolisian.


Di kantor polisi ini Abraham kemudian mendapatkan perlakuan tidak manusiawi untuk ukuran usianya saat itu. Abraham dipukuli dan disiksa disana. Beruntunglah Abraham memiliki seorang paman yang kemudian mampu mengeluarkannya dari masalah tersebut. Sejak saat itulah, Abraham mulai memahami bagaimana tidak berdayanya seseorang yang karena kondisinya tidak mengetahui apa yang menjadi hak-haknya dihadapan hukum. Di sinilah Abraham memantabkan tekadnya untuk suatu saat kelak mampu menolong orang yang terjerat permasalahan hukum dan kesewenang-wenangan dari orang yang diberi wewenang dan kekuasaan.*** (bersambung)
Diberdayakan oleh Blogger.