Walikota dalam Lingkar ASEAN

Tulisan ini merupakan reportase pada rubrik NewsIndepth SmartCity Magazine Makassar edisi September 2015:




Kota Makassar kembali mendapat momentum besar. Di bulan September 2015, ada empat rangkaian gelaran akbar di hadirkan di kota berjuluk ‘kota Daeng’ tersebut. Beragam  ide, gagasan serta berbagai terobosan tentang wajah kota masa depan dipastikan akan lahir di sana. Sebuah pertemuan yang bisa menjadi lompatan bersejarah di kota ini.

 Ruang kantor Humas Balaikota Makassar tampak sibuk hari itu. Hilir-mudik para staf silih berganti dalam suasana yang sedikit berbeda dengan hari-hari biasa. Kesibukan ini tidak lain merupakan bagian dari persiapan kota Makassar menjadi tuan rumah dari empat rangkaian gelaran akbar yang diadakan tanggal 8 sampai dengan 10 September 2015.

Empat gelaran akbar yang dirangkai menjadi satu kesatuan tersebut adalah Asean Mayors Forum (Forum Pertemuan Walikota se-Asean), Makassar Global Expo (Pameran Kota se-Asean), Asean Community/Week (Pekan Komunitas Asean) dan Makassar Invesment Forum (Forum Investasi Makassar). Rangkaian forum Asean ini diinisiasi oleh beberapa lembaga ternama seperti United Cities and Local Government Asia Pacific (UCL G ASPAC), Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia ( APEKSI), Asean dan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar.

Sesi pertemuan besar ini memang akan menjadi ajang peristiwa yang sangat penting serta menyimpan potensi harapan yang demikian tinggi, terutama bagi Kota Makassar serta kota-kota di Indonesia Timur. Bagaimana tidak, di sana akan diundang sekitar 200 Walikota se-Asean, 400 pejabat setingkat Lurah, 20 Gubernur, 10 menteri dan sekitar 100 pengusaha internasional. Pada forum pertemuan pemimpin lokal Asean yang berlangsung di Four Point Convention (by Sheraton Hotel) ini, tema yang diusung adalah “Adaptive and Intelligent Cities for  an Integrated Borderles Prosperous Region”. Sebuah tema yang dengan jeli mengangkat isu-isu penting menjelang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) diakhir tahun 2015 nanti.

Hal yang paling mengemuka dalam kerangka pemberlakuan Asean Community (MEA) 2015 ini adalah bagaimana menghadapi tantangan ke depan yang bakal menghadang, terutama di pemerintahan lokal yang langsung bersentuhan dengan dinamika dari “dunia Asean yang tanpa sekat (“perbatasan”) tersebut. Bagaimanapun, dalam framework  Masyarakat Ekonomi Asean 2015, pemerintahan lokal (local government) bakal menjadi garda depan yang paling berperan dalam membawa sebuah negara mampu tampil maksimal.

Di samping itu, pemerintahan lokal juga menjadi nucleus (pusat) yang menentukan sinergisitas dalam memberi dukungan penuh pada tercapainya tujuan dari Asean Community tersebut. Dengan demikian, sangat diperlukan adanya kesamaan dalam gerak serta terbangunnya jejaring (network) yang kuat diantara pemerintahan lokal di negara-negara Asean. Dalam konteks itulah, dalam gelaran empat pertemuan akbar ini, sasaran yang diharapkan tercapai adalah terbentuknya kesamaan platform untuk penguatan networking (jejaring) pemerintahan lokal di negara-negara Asean dengan memperkuat pertukaran pengetahuan serta pembelajaran tentang isu-isu relevan yang dihadapi kedepan.

Pada pertemuan ini juga akan diusahakan tercapainya kesamaan dalam membuat kebijakan-kebijakan stategis serta perangkat pendukung lainnya untuk merancang pencapaian sasaran dari sebuah kota yang cerdas (intelligent) dan mampu beradaptasi pada perkembangan zaman.

Hal lain yang juga sangat penting dari sasaran yang ingin dicapai dari pertemuan ini adalah adanya pertukaran pengalaman dan keberhasilan (the best practices) di antara negara Asean, mengindetifikasi semua peluang untuk melakukan kolaborasi (kerjasama) serta membangun sinergisitas dan hubungan harmoni, baik antara pemerintahan lokal maupun di sektor swasta.

Ditunjuknya Kota Makassar sebagai tuan rumah dari gelaran yang diprakarsai oleh  UCL G ASPAC, APEKSI, Asean dan Pemkot Makassar ini memang menjadi pilihan yang tidak mengherankan. Dalam aspek regional, kota Anging Mammiri  ini memiliki letak geografis yang sangat ‘mencorong’. Sebagai pintu gerbang memasuki wilayah Timur Indonesia, Kota Makassar  telah menjadi sentral hubungan dan pusat gravitasi ekonomi dan politik. Dari sisi bidang ekonomi, Makassar melejit dengan angka pertumbuhan diatas 9% pertahun. Jauh diatas rata-rata angka pertumbuhan nasional.
Dengan demikian, Kota Makassar dianggap memiliki potensi besar dalam lompatan transformatif menuju kota masa depan yang memiliki peran penting pada terbangunnya sinergisitas serta harmoni kerjasama serta networking di era Masyarakat Ekonomi Asean 2015 nanti. Di samping itu,selama dipimpin Moh. Ramdhan Pomanto, Kota Makassar memang bergerak dalam gairah inovasi yang demikian kuat. Berbagai terobosan telah dicanangkan sang Walikota yang kemudian menjadi perhatian pemimpin-pemimpin lokal dan nasional di dunia, terutama di Asean.

Tidak mengherankan bila di hari ketiga, tanggal 10 September di forum tersebut, telah diagendakan khusus jadwal kegiatan tematik seperti kunjungan ke Lorong Garden, Lorong Apartement, Home Care dan program Smart Card yang menjadi terobosan kebijakan Walikota Makassar. Pada forum ini juga akan dilangsungkan Makassar Declaration yang menjadi kesepakatan dan perekat bersama diantara para pemimpin lokal di negara-negara Asean tersebut.* 


Mencari ‘Pelatuk’ Pertumbuhan

Jelang memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, negara-negara di belahan Asia Tenggara terus berpacu mempersiapkan diri. Satu isu yang paling mengemuka adalah bagaimana kebutuhan untuk memprioritaskan konektivitas, pengembangan kapasitas sumberdaya manusia dan pembangunan infrastruktur. Hal ini dirasakan mendesak mengingat ketimpangan-ketimpangan antara daerah dan regional semakin mengemuka di negara-negara Asean.

Kawasan Indonesia Timur sebagai pusat pertumbuhan masa depan Indonesia menyimpan demikian banyak potensi dan Makassar sebagai kota utama Indonesia Timur dengan sendirinya memiliki peran yang demikian strategis di sana. Fakta bila pertumbuhan Makassar yang mencapai angka diatas 9% , diatas rata-rata pertumbuhan nasional merupakan  magnet tersendiri  Daya pikat inilah yang akan dimaksimalkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar untuk menarik para pebisnis, investor dan kalangan dunia usaha dalam rangkaian pertemuan akbar 8-9 September ini.

Dalam forum Asean bertajuk “Makassar Invesment Forum” dan Makassar Global Expo” yang bersintesa dengan “Asean Mayors Forum” ini, diharapkan akan dikunjungi oleh kurang lebih 100 investor dan pengusaha internasional yang berasal dari berbagai negara di Asean. Melalui kerangka kerja antara pemerintah, investor dan pelaku di bidang usaha (Public Private Partnership – PPP), sinergisitas serta peluang pertumbuhan kota Makassar semakin mampu bertumbuh sekaligus menjadi penyebar kesejahteraan di kota-kota lain di Indonesia Timur.

Hal ini memang menjadi sorotan penting karena menurut kajian HD Asia Advisory tahun 2015, lembaga konsultal investasi di Jakarta, memperlihatkan bahwa terjadi ketimpangan yang semakin melebar diantara banyak daerah (kota) di negara Asean. Ketimpangan ini terjadi karena belum berjalannya proyek infrastruktur dan konektifitas, maupun kekurang cakapan dalam mengundang investasi dari calon-calon investor. Hal ini disikapi oleh pemerintah kota Makassar dengan mengundang investor  dan para Walikota se-Asean untuk hadir di kota ini.

Walikota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto memberikan pandangan penting berkaitan dengan peluang Makassar dalam menarik investasi dan rencana meningkatkan peran swasta dalam membangun infrastruktur. “Makassar Invesment Forum 2015 ini mengagendakan diskusi mendalam para pemimpin bisnis untuk berinvestasi serta membangun sumberdaya manusia dalam rangka persiapan Masyarakat Ekonomi Asean 2015”, ujarnya.

Dalam forum ini, hal yang sangat penting adalah bagaimana mengoptimalkan peran sentral kota Makassar di Indonesia Timur. Dengan demikian, segenap potensi investasi harus dioptimalkan. Ditegaskan pula kesiapan Makassar dalam menerima lompatan investasi ke kawasan ini. Reformasi birokrasi serta pelayanan publik, baik itu layanan satu atap, percepatan urusan perizinan telah berjalan dengan baik. Pertumbuhan sektor komsumsi  dan retail sangat menjanjikan dan sejak dulu Makassar telah menjadi pusat bagi berbagai kegiatan bisnis dan operasioanal berbagai kegiatan perusahaan yang beroperasi di Indonesia Timur.

Pada “Makassar Invesment Forum 2015” ini juga menekankan pentingnya kerangka kebijakan dan institusi komersial daerah yang mampu memberikan rasa percaya dikalangan investor dan dalam jangka panjang menghasilkan nilai tambah aset-aset yang dikelola melalui pola Public Private Partnership (PPP). Melalui forum ini diharapkan akan menghasilkan terobosan baru yang dapat menjadi referensi bagi para pemerintah kota Makassar dalam menyusun programnya ke depan.*



Matahari dari Timur

Kota Makassar atau kerap disebut kota Anging Mammiri memang menyimpan segudang potensi yang mampu membawanya sebagai kota masa depan. Sebagai wilayah yang terletak di pesisir pantai , kota Makassar memiliki sejarah panjang dengan watak khas yang menonjol yakni kota yang terbuka (inklusif)  dan toleran.

Dengan karakter kota seperti itu, tidak mengherankan bila jauh di abad ke 16 M lalu, kota Makassar telah menjadi pusat yang sangat penting bagi perdagangan di Nusantara, bahkan di Asia Tenggara. Di masa-masa tersebut, Makassar tumbuh sebagai kota yang sangat vital bagi orang-orang Melayu yang bekerja dalam perdagangan di kepulauan Maluku dan juga menjadi “markas” penting pedagang-pedagang dari Eropa dan Arab.

Saat ini, Makassar merupakan kota terbesar ke empat di Indonesia dan terbesar di Kawasan Timur Indonenesia (KTI). Dengan cakupan luas wilayah yang meliputi kurang lebih 175,79 km2 dan jumlah penduduk sekitar 2 juta orang, Makassar terus bertumbuh pesat menjadi kota metropolitan dengan geliat yang kencang. Arus pembangunan yang demikian pesat ini ditandai dengan laju kencang pertumbuhan diatas 9% pertahun.

 Sebagai pusat pelayanan di Kawasan Timur Indonesia, Makassar tampil berperan penting sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat kegiatan industri, pusat kegiatan pemerintahan, menjadi simpul jasa transportasi barang dan penumpang baik darat laut dan udara serta pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan. Semua hal tersebut menjadikan kota Makassar meletakkan diri sebagai wilayah tempat bertumpu bagi perkembangan pembangunan di wilayah lain Indonesia Timur.

Posisi strategis geografis serta modal sosial (social capital) sumberdaya manusia yang besar dari Makassar inilah bisa menjadikannya sebagai “matahari dari timur”. Sebuah kota yang bukan saja mampu bertumbuh sendiri dengan kuat, namun juga mampu menggerakkan daerah-daerah lain di Indonesia Timur untuk ikut bertumbuh dalam sinergisitas dan harmoni.

Hal itu bukanlah sekedar ‘pepesan kosong’, namun sedikit banyak telah menjejak dalam sejarah keberadaan kota Makassar sejak dahulu. Dan saat ini, momentum itu kembali menemukan ‘pelatuk’ ledakannya dengan terpilihnya kota Makassar sebagai tuan rumah dari “Asean Mayors Forum and City Expo 2015 serta Makassar Invesment Forum” pada tanggal 8 sampai 10 September ini.


Bagaimanapun pertemuan para walikota se-Asean serta pertemuan para investor internasional ini merupakan signal paling kuat tentang arah masa depan kota Makassar dalam percaturan ekonomi dan politik regional. Apalagi, hal ini sangat ditunjang oleh komitmen penuh Danny Pomanto, sang Nahkoda kota Makassar untuk membawa Makassar sebagai Kota Cerdas (Smart City) sekaligus aktif membangun jaringan kemitraan dengan seluruh potensi baik pemerintah serta swasta lokal, nasional maupun regional dan internasional.#

Diberdayakan oleh Blogger.