Abraham Samad: Sosok Pejuang Keadilan (bagian 3)

1.                 
Tulisan ini adalah profil Abraham Samad yang diambil dari buku Sosok dan Pandangan Pejuang Keadilan yang berjudul "DARI MAFIA HINGGA TERORIS" terbitan eLsim tahun 2010


      Menjadi Advokat atau Birokrat

Setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Unhas , tahun 1992, Abraham sedikit goyah dalam penentuan karir profesi yang akan digelutinya kelak. Pada satu sisi, ia sangat berkeinginan untuk menekuni profesi advokat, karena pada dunia inilah ia bisa melakukan pengabdian untuk pembelaan terhadap orang-orang yang hak-haknya terlanggarkan serta dirugikan sesuai dengan panggilan hatinya. Namun di sisi lain, ibunya lebih mengharapkan agar Abraham menjadi seorang birokrat. Dengan begitu Abraham diperhadapkan pada posisi yang sangat dilematis. Ini dikarenakan ia sangat mencintai ibunya dan tak ingin mengecewakannya. Setelah mengalami masa-masa dengan penuh keraguan , akhirnya Abraham mampu meyakinkan ibunya bahwa pilihannya untuk menjadi seorang advokat adalah pilihan yang terbaik. Ia memberi keyakinan pada ibunya bahwa dalam profesi inilah ia bisa menjadi seorang yang punya nilai dan manfaat bagi orang lain. Apalagi dalam dunia advokat ini, tidak saja dibutuhkan figur-figur tangguh, berdedikasi dan punya pengetahuan yang luas, tapi lebih dari itu, profesi ini menuntut suatu komitmen moral yang tinggi, Pada sisi inilah Abraham merasa bahwa profesi advokat sangat sesuai dengan kecenderungan sifatnya serta kemungkinannya untuk berbuat sesuatu pada sesame manusia.

Namun seblum benar-benar terjun pada profesi advokat, Abraham memulainya dengan magang terlebih dahulu. Suatu wakru, ketika masih mahasiswa, Abraham mengikuti sebuah seminar hukum nasional di kota Surabaya. Pada seminar itulah ia bertemu dengan Willy Soenarto, seorang advokat sekaligus akademisi terkenal di kota Pahlawan tersebut. Perjumpaan ini sangat mengesankan bagi seorang Abraham. Baginya, sosok Willy Soenarto merupakan figur yang sanggup memadukan antara kecerdesan seorang ilmuan hukum dengan sosok praktisi hukum yang sangat menguasai bidangnya. Namun bukan itu saja, bagi Abraham, Willy juga adalah sosok yang memiliki idealism yang sangat tinggi pada rakyat kecil.

Ada peristiwa menarik dari perjumpaan Abraham dengan Willy Soenarto. Suatu ketika, Abraham berkunjung ke kediaman Willy. Sampai dia sana, Willy mengajaknya ke sebuah ruang khusus pria yang kala ini menjabat Pembantu Rektor III Universitas Surabaya. Di ruang perpustakaan  yang dipenuh sesak oleh buku ini, mereka berdua bertukar pikiran dengan hangat. Saat itulah Willy mengatakan pada Abraham bahwa ia sebenarnya tak cocok menjadi advokat. Menurutnya, Abraham lebih cocok untuk mejadi seorang ilmuwan. Namun, bagi Abraham, justru kata-kata tersebut semakin membuatnya tertantang untuk meniti karir pada profesi advokat.


Sejak saat itulah hubungan mereka menjadi sangat akrab. Bahkan ketika Abraham menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum, ia memutuskan untuk memperdalam keterampilan ilmu hukumnya dengan magang di kantor konsultan hukum Wiily Soenarto Associate. Di kantor inilah Abraham demikian banyak mendapat pemahaman tentang bagaimana seorang advokat mampu memperkuat kualitas keilmuannya dalam bingkai idealisme. Di kantor inilah Abraham memasuki ‘kawah candra dimuka’ untuk dogodok menjadi seorang advokat sekaligus ilmuwan hukum.***
Diberdayakan oleh Blogger.