Abraham Samad: Sosok Pejuang Keadilan (bagian 4)

Tulisan ini merupakan profil Abraham Samad yang diambil dari buku Sosok Pejuang keadilan yang berjudul "DARI MAFIA HINGGA TERORIS", terbitan Elsim,2010.


Kegelisahan Hati Seorang Pejuang Keadilan

Agaknya, ada hal-hal tertentu yang selalu saja menggelisahkan hati Abraham sejak pertama kali menjejakkan kakinya dalam belantara penegakan hukum di Indonesia. Kegelisahan tersebut semakin lama semakin semakin membasar ketika semakin memahami bahwa sistem hukum di negeri ini belum berjalan sebagaimana mestinya. Apa yang menjadi frame ideal saat ia masih mahasiswa duku sama sekali jauh berbeda dengan realitas dunia praktisi hukum sehari-hari. Masih demikian banyak para pencari keadilan yang harus menghadapi kenyataan pahit bahwa hukum demikian gampang diperjual-belikan. Bahkan bagi Abraham penegakan hukum dinegeri ini telah menjadi stigma yang buruk ketika masyarakat menilai bahwa semakin tinggi jabatan seseorang semakin sulit hukum menjangkaunya. Inilah yang menjadikan Abraham sangat sedih dan prihatin bila menyaksikan masih demikian banyaknya kasus yang ditangani secara tidak adil dan manusiawi.

Karena keperihatinan itulah, Abraham tergerak untuk memberi pembelaan terhadap banyak kasus yang dianggapnya sangat sewenang-wenang dan tidak manusiawi. Contoh yang paling mencuat dalam pandangan Abraham adalah bagai mana perlakuan terhadap orang-orang yang terduga melakukan tindak pidana terorisme. Pada kasus-kasus semacam iitu, hak-hak sebagai seorang manusia benar-benar tidak lagi memiliki arti untuk sekedar melakukan pembelaan diri. Dengan begitu, Abraham merasa perlu untuk melakukan pembelaan di sana. Misalnya pada kasus bom Makassar beberapa tahun lalu. Pada saat itu, Perppu (Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang) Anti Terorisme baru saja diterapkan. Bagi Abraham, Perppu ini sangatlah represif dan sama sekali tidak mengindahkan hak-hak asazi seorang manusia. Hak-hak seorang yang diduga melakukan tindak pidana terorisme demikian gampang dilucuti. Bahkan dalam pemeriksaan, tersangka kerap mendapat penyiksaan untuk memperoleh keterangan dan pengakuan bila tersangkalah yang melakukan tindak terorisme itu.

Karena pembelaan terhadap ketidak-adilan tersebut, Abraham sempat mengalami terror. Isu-isu pun berkembang liar. Setelah mengalami tekanan selama dua hari oleh terror-teror tersebut, muncul kabar yang mengatakan bahwa atas perintah Firman Gani, Kapolda Sulselbar saat itu, Abraham bakal diciduk oleh polisi. Menurut informasi tersebut, Abraham dianggap sebagai actor intelektual bersama Alfarisi dan Aswar Hasan, yang berada dibalik peristiwa pengeboman tersebut. Kontan Abraham merasa terkejut. Saat itu juga, ia langsung menghadap ke Kapolda untuk mengklarifikasi informasi itu. Kala itu, banyak rekan-rekannya menganggap tindakan Abraham ini sangat nekad karena bisa saja ini dianggap sebagai bentuk penyerahan diri. Ketika memasuki ruang kerja Firman Gani, Kapolda Sulselbar langsung berdiri dan memeluknya. Abraham pun menanyakan apa informasi tentang penangkapannya memang benar. Saat itu Kapolda tersenyum dan mengatakan itu semua hanya isu belaka.

Sejak saat itu, Abraham semakin semangat dalam melibatkan diri melakukan pembelaan terhadap korban perlakuan tidak adil dengan isu terorisme yang saat itu sangat sensitive dan cenderung dihindari oleh para advokat lain. ***
Diberdayakan oleh Blogger.