Abraham Samad: Sosok Pejuang Keadilan (bagian 5)

Tulisan ini merupakan profil Abraham Samad yang diambil dari buku Sosok Pejuang Keadilan dengan judul "Dari Mafia Hingga Teroris", terbitan eLsim (2010)


Menemukan Pendamping Hidup

Pada Tahun 1998, Abraham Samad akhirnya memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya. Saat itu, Abraham sudah menggeluti dunia profesi advokat, dan saat itu istirinya sedang meniti karir di konsulat Jepang. Sebenarnya Abraham dan istrinya telah salng mengenal ketika sama-sama menjadi aktivis kampus semasa mahasiswa dulu, namun berbeda fakultas. Bila Abraham kuliah di Falultas Hukum Unhas, maka istrinya menempuh pendidikan di Fakultas Sastra Prancis Unhas.

Saat itu keduanya belum saling mengenal dekat, namun dalam beberapa kegiatan kampus, mereka kerap bertemu, karena saat itu, istrinya juga menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Sastra Prancis Unhas. Namun justru setelah menyelesaikan studi serta membangun karir masing-masing, mereka kembali dipertemukan. Saat itulah keduanya sepakat membangun perikatan hubungan dalam sebuah pernikahan.

Kini setelah mengarungi bahtera rumah tangga selama kurang lebih dua belas tahun, Abraham Samad dikaruniai dua anak. Yang pertama, seorang putri, Nasyah Tharih yang lahir tahun 1999, setahun setelah Abraham melangsungkan pernikahan. Yang kedua adalah seorang putra, Syed Yasin Rantisi, lahir tahun 2005. Mengenai anak kedua ini, Abraham punya cerita menarik. Pada saat itu, dia demikian terpesona oleh perlawanan para Pejuang Palestina yang melakukan perlawanan terhadap pendudukan tentara Israel di tanah Palestina dengan Intifadah, yakni menghadang pergerakan pasukan bersenjata Israel dengan cara melempar batu. Salah satu tokoh perlawanan pejuang Palestina itu adalah Syech Adul Rasyid Rantisi yang merupakan tokoh Hamas. Inilah yang menginspirasi Abraham untuk memberi nama Rantisi pada putranya, dengan harapan semoga jiwa dn semangat perjuangan seorang Rantisi juga mengalir dalam darah putranya ini.***
Diberdayakan oleh Blogger.