Akal Sehat



DALAM setiap peristiwa yang berwajah kebencian, di mana akal sehat kita bersembunyi? Di suatu masa, jauh dalam sebuah peradaban di daratan Eropa, kebencian itu hadir dalam wajah yang paling ironik. Sebagian orang menyebut zaman itu sebagai abad pertengahan. Namun ada juga yang menunjuk peradaban itu sebagai zaman “kegelapan”.

Apapun label yang disematkan dalam kurun masa itu, wajah kebencian memang tampil dalam balutan yang membingungkan. Dalam jubah agama yang suci dan gelegar khotbah memohon penyelamatan, para “pemilik kebenaran” (baca: pemuka gereja) itu mampu dengan gampang menunjuk siapa yang layak mendapat penghukuman. 

Kita pun mengenalnya dengan nama inquisitor. Dan deretan panjang korban diarak ke “panggung” pembakaran untuk dipanggang hidup-hidup. Vonis untuk kesalahan mereka adalah tertuduh sebagai bid'ah dan “penyihir”.

Memang zaman kerap menghadirkan wajah sebuah kebencian yang tak bisa lagi disandingkan dengan akal sehat. Dan ironisnya, di setiap zaman, wajah kebencian itu serupa musim yang senantiasa mengulang masanya kembali.

Barangkali ini bukan karena kebebalan kita sebagai manusia yang tak pernah belajar dari sejarah. Barangkali bahwa kebencian itu memang merupakan arena pertarungan abadi yang memang disiapkan untuk senantiasa dialami oleh setiap peradaban. Lalu di mana akal sehat bersembunyi? Entalah.

Namun, dalam setiap perabadan kita senantiasa diberi pilihan. Diberi sebuah nurani untuk mempertanyakan sesuatu. Mungkin, dalam keraguan itulah kita bisa mempertanyakan di mana kebenaran berpihak. Pada keraguan itulah kita bisa menahan telunjuk kita untuk menuding, menghujat dan keburu menghakimi orang lain. Dan pada keraguan itulah akal sehat bisa ikut meletakkan dirinya.

Kebencian dan akal sehat memang menjadi lorong panjang kemanusiaan kita. Apa boleh buat. Dalam berbagai tarikh catatan sejarah, kebencian senantiasa bertengger pada puncak sejarah. Namun, barangkali di sinilah, kemanusian kita bisa berbinar. Bersinar cemerlang. 

Ketika di tengah amukan kebencian yang menyala, ada di antara kita yang masih menyimpan keraguan untuk terus brdialog dengan diri sendiri, Dengan hati nurani. Maka, di sanalah kita masih bisa berharap bahwa zaman tidaklah terlalu pekat dan pahit oleh bara kesumat kebencian.***
Diberdayakan oleh Blogger.