Kebiri

Apa yang kita bisa ceritakan tentang kebiri? Pada suatu masa, sejarah mencatatnya dengan sedikit muram. “Setelah peperangan selesai, maka sang pemenang biasanya melakukan ‘ritual’ kebiri dengan memotong ‘testis” perajurit yang dikalahkannya. Ini merupakan symbol perampasan kekuatan dan keperkasaan lawan”.

Ternyata kebiri memang senantiasa merupakan tindakan “simbolistik” dari sebuah kekuasaan.
Sejarah menulis itu dengan sedikit kecut. Namun setiap zaman memang memiliki logikanya sendiri. Pada sejarah Tiongkok, orang-orang yang di kebiri dipekerjakan di Istana dengan penghormatan yang mengangumkan. Orang-orang menyebutnya dengan nama Kasim atau Sida-Sida. Kekuasaan besar ada di tangan mereka dan telunjuk mereka cukup menggetarkan para pembangkang kerajaan.

Apa yang kita bisa ceritakan tentang kebiri? Pada suatu peristiwa, kebiri menjadi sebuah kejadian yang demikian lekat dengan cara sebuah kebudayaan merespon ketakutannya. Di sana berderet panjang para “pesakitan” yang antri untuk dijadikan ‘tanda’ sebagai manusia “bernoda”. Entah 
mereka prajurit yang kalah, para lawan politik dan manusia tak berperadaban dan bermoral lainnya.

Kebiri memang tak akan bisa lepas dari bayang-bayang ketakutan sebuah kebudayaan dan juga kekuasaan. Apa pun itu wujudnya. Dan ketika, akhir-akhir ini kita memperbincangkannya lagi, ada sejenis rasa “tak berdaya” kita pada sebuah fenomena yang lain. Memang, perbincangan kebiri menjadi meletup ketika penghukuman terhadap pelaku seksual pada anak terasa demikian ringan.

Prilaku Predator Anak yang sudah dalam taraf memuakkan ini menjadikan kita seperti tak lagi berdaya. Maka hukuman harus dibuat setimpal mungkin dan sekali tetak, efek yang ditimbulkannya langsung menyentuh penyimpangan “prilaku” pelaku: hukuman Kebiri. Selesai dan tuntas. Maka satu ancaman telah ditiadakan.

Apa yang bisa kita ceritakan tentang kebiri? Di sebuah peradaban dan kebudayaan, adakalanya sebuah peristiwa menitipkan semacam ‘tanda’ untuk kita. Dan banyak dari kita tidak mampu meletakkannya dalam sebuah bingkai besar. Bahwa kebiri adalah cara kita memaknai “rasa bersalah” kita sendiri. Rasa bersalah karena tak mampu merawat kemanusiaan. Rasa bersalah karena tak becus menciptakan kenyamanan dan keamanan buat anak-anak kita. Rasa bersalah karena keteledoran kita membangun lingkungan yang saling peduli. Rasa bersalah karena tak berdaya. Maka kita menunjuk jalan keluar: hukuman Kebiri. Sangat sederhana dan tuntas. Selesai.***
Diberdayakan oleh Blogger.