Indonesia Hari Ini

Pada umumnya sebuah negara lahir tidak atas buah kemarahan. Begitu pula dengan Indonesia. Sejarah lahirnya Indonesia meletakkan jalannya memang lewat gemuruh dan pekik kemerdekaan. Namun bukan pada gelora dendam serta kesumat meniadakan orang lain. Indonesia lahir dengan sebentuk kebersahajaan yang mampu mengaduk segenap rasa haru kita. Tentang ketulusan, pengorbanan serta kegigihan di atas rata-rata.

Lalu saat ini, jejak ketulusan, pengorbanan dan kegigihan itu seperti menguap. Indonesia hari ini memang masih bergemuruh, tapi gemuruh yang dihadirkannya terasa memilukan. Seperti kegaduhan yang merangsek lewat kemarahan yang tak wajar. Indonesia hari ini adalah Indonesia yang saling menuding, menunjuk hidung dengan pekik mendera.

Ironisnya, segala gemuruh ini bermuara pada kekuasaan. Tentang siapa mendapat apa dan siapa menyingkirkan siapa. Entah atas nama ideologi, agama maupun ekonomi, semuanya berujung pada konfigurasi sederhana: Menang-Kalah.

Barangkali peta perjalanan bangsa Indonesia memang menitahkan banyak ‘pertarungan’. Apa boleh buat. Namun yang menggelisahkan kita adalah ‘pertarungan’ itu lebih diwarnai dengan kebisingan  yang demikian demikian artifisial dan dangkal. Kecerewetan yang cuma didengungkan sekedar supaya berbunyi nyaring. Lalu semuanya mengalir pada satu muara: Kekuasaan dan keserakahan.

Indonesia hari ini adalah Indonesia yang demikian bising, gaduh dan penuh kegeraman. Gemuruh yang menjalar ke mana-mana. Pekik kemarahan yang hinggap disetiap benak kita semua. Memang memilukan. ***
Diberdayakan oleh Blogger.