Merayakan Hujan

Ada banyak yang bisa kita katakan tentang hujan. Tentang kesejukan yang meletakkan kita lagi pada ruang-ruang pertalian dengan alam dan diri sendiri. Tentang aroma tanah yang menguap pada udara serta kehijauan daun yang meledakkan warnanya. Tentang cuaca yang merunduk dalam pertautan kita dengan hidup dan segenap perjalanannya.

Memang ada begitu banyak yang bisa kita ceritakan tentang hujan. Sebuah buku puisi Afrizal Malna bahkan membesut judul kumpulan puisinyanya dengan title: “Arsitektur hujan”. Penyair kontemporer Indonesia ini –di tengah pengucapan puitiknya yang menyerakkan begitu banyak idiom-idiom mutakhir itu, masih juga meletakkan hujan sebagai daya gugah yang demikian besar.

Barangkali, hujan dan sebuah puisi kadang demikian karib. Bukan karena penyair senantiasa menjadikannya bagian dari tema puisinya, namun lebih pada passion yang mengiringi setiap proses kreatifnya. Hujan pada dimensi ini menjadi energi hidup yang mengaliri setiap proses kreatif tersebut. Semacam ruang yang merayakan kembali sebuah kehidupan di bumi.

Merayakan hujan memang bisa menjadi sebuah perayaan tentang hidup dan kehidupan itu sendiri. Dan umumnya, lewat sebuah puisi, penyair merayakannya dengan demikian intens. Di sana,  hujan telah menjadi sebuah pengucapan yang meneguhkan kemanusiaan kita dengan hidup. Merayakan napas yang menghidupi dan merayakan kebesaran Tuhan.

Memang, ada banyak yang bisa kita bicarakan tentang hujan. Titik air yang mengalir dalam derai cuaca musim di mana alam dan kehidupan menemukan kembali sejenis harapan. Tanah, pohonan, manusia, hewan dan bumi seperti ‘bangkit’ menjulurkan harapan itu. Meletakkan semacam gairah bila di bumi ini, kita bertaut dalam satu napas.

Merayakan hujan adalah merayakan cinta. Kesejatian hidup yang paling murni dalam bulir-bulir air yang mengalir. Sebuah siklus kehidupan yang membawa kita kembali pada kehidupan awal dari eksistemsi kemanusiaan kita. “Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam/ Malam yang berwangi mimpi, terlecut debu/ Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu”, kata Chairil Anwar. ***
Diberdayakan oleh Blogger.