Engkau Membaca Separuh Bulan



Engkau membaca separuh bulan di balik jatuhnya daun-daun. Senja baru saja bersandar di tepi laut dan sepenggal lagu telah berhenti di pucuknya. Tak ada yang menantimu di sana, tapi tetap saja suara dentum ombak itu membawa beribu-ribu surat yang tak pernah sempat terbaca.

Ada angin yang memintamu melacak namanya kembali. Namun engkau telah lupa bagaimana mengejanya. Sepertinya, laut telah melepas pantai dan gelombang meninggalkan perahu yang dihelanya. Ketika sepasang pengantin memutuskan untuk saling tak mengingat nama masing-masing.

Lalu engkau membaca separuh bulan dalam cetakan-cetakan kartu pos tanpa alamat. Lalu gerimis kecil meletakkan sayapnya dalam nyanyian. Kenangankah itu? Daun-daun telah menyentuh dermaga dan lampu-lampu kota membangun sarangnya.


Popsa, Makassar 2016
Diberdayakan oleh Blogger.