Salim Kancil

Bagaimana menjelaskan tentang kehidupan yang  terengguk paksa dari kita? Entahlah. Tapi Salim Kancil, seorang biasa, rakyat kebanyakan seperti kita, mengalami hal ini. Di sebuah malam, di desa Seluk Awar-awar, 26 September 2015, segerombol orang datang dan menjemput paksa Salim Kancil di rumahnya. Dalam kegepalan malam itu, Salim pergi dan tak pernah kembali lagi. Dia dibunuh.

Bagaimana kita menjelaskan semua peristiwa itu?  Sebuah kalimat yang seakan bergetar dengan lirih seperti menjelaskan semua, “Di tanah kami, nyawa tak semahal tambang”. Dan Salim Kancil dibunuh. Suaranya dibungkam selamanya oleh sebuah kekuasaan yang demikian serakah. Suara yang sebenarnya hanya terdengar “lirih” karena berasal dari rakyat kecil.

Namun benarlah kata Vaclav Havel, seorang penulis/dramawan yang kemudian menjadi Presiden Ceko-Slovakia bahwa, “kebenaran memang demikian menakutkan bagi seorang penguasa, sekecil apapun suara kebenaran itu”. Dan Salim Kancil dibunuh.

Barangkali, setiap zaman memang senantiasa menuntun kita pada sejenis tanda yang selalu saja berulang. Tentang sebuah kekuasaan yang gemetar kalap karena sebuah suara protes kecil namun memuat demikian banyak nilai kebenaran di dalamnya.

Di desa Awar-awar, tempat Salim menghidupi keluarganya, keserakahan itu berwujud ‘tambang’ yang dikendalikan oleh para penguasa lokal. Tambang yang demikian merusak lingkungan dan menghacurkan mata pencaharian Salim Kancil. Maka dia pun melakukan protes dan dia pun dibunuh.

Kita tak mampu membanyangkan bagaimana kematian menjemput Salim Kancil. Namun kemanusiaan kita bergidik ngeri dalam suasana seperti itu. Ketika mata Salim Kancil bertemu dengan mata para gerombolan penyiksanya dan dalam sepersekian detik pertemuan mata tersebut, adakah kemanusiaan mampu menjelaskannya?


“Di tanah kami, nyawa tak semahal tambang”. Dan Salim Kancil menjadi suara kemanusian kita yang tertinggi. Kebenaran mungkin bisa dibungkam pada sesorang, namun ‘getaran’-nya akan menelusup jauh. Menyebar dan menular sehingga sebuah kekuasaan yang demikian serakah akan gemetar di sana. *** 
Diberdayakan oleh Blogger.