Fenomena Ahok

Seorang filsuf Yunani pernah berkata; “yang abadi di dunia ini adalah perubahan itu sendiri”. Dan kita memang kerap terkaget-kaget dengan lompatan-lompatan perubahan yang kerap disuguhkan di depan kita.

Dahulu, kita tak mungkin membayangkan seorang pemimpin bergerak spontan ‘blusukan’ menemui rakyat kebanyakan. Tapi kini kita mendapatinya pada sosok seorang Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi. Orang nomor satu di republik saat ini yang mampu menyedot perhatian siapapun.

Dahulu kita pun tak pernah melintaskan pikiran akan adanya sosok pemimpin yang demikian “bersemangat”. Sosok yang menebarkan dua sisi tarikan yang saling menegasi. Di satu sisi ada yang demikian fanatik menyukainya, namun di sisi lain tak kurang yang demikian membencinya. Sosok ini bernama Basuki Tjahaja Purnama atau lebih karib disapa Ahok.

Memang,  negeri ini tak pernah kekurangan contoh akan pemimpin yang menjadikan “jalan lurus” sebagai kekuatan pribadinya. Kita punya sosok Hoegeng, Moh. Hatta dan Agus Salim.  Namun sosok meraka bergerak dengan anggun, bahkan cenderung senyap. Mereka adalah “oase sejuk” yang memberi seteguk harapan dalam kediamannya yang beribawa itu.

Namun pada sosok Jokowi maupun Ahok, kita seperti menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang lebih kontemporer tentang apa itu seorang pemimpin. Di kedua pemimpin ini –walau dalam garis karakter dan gaya sangat bertolak belakang- terdapat keserupaan yang nyaris melekat kuat. Mereka sama dalam hal mampu menjadikan seseorang “cinta mati atau benci setengah mati".

Seperti sosok Jokowi yang fenomenal itu, sosok Ahok pun mengelembung dalam arus fenomenal pemimpin kontemporer Indonesia. Serupa orang yang berpakaian merah diantara ribuan orang berpakaian putih. Moncolok dan menimbulkan greget untuk menilainya.

Ahok adalah satu fenomena yang lahir dari kancah politik modern negeri ini. Banyak orang menitipkan harapan di pundaknya namun tak kurang ada pula yang mencaci makinya sepenuh hati. Pada sosok yang satu ini, dunia politik menjadi sesuatu yang menarik, menggairahkan serta membangun harapan atau keputus-asaan sekaligus.

Namun dari dunia politik seperti yang ditawarkan Ahok inilah kita tersedot dalam kepedulian tentang orang lain atau publik, bukan dunia politik yang hanya milik segelintir orang yang berbisik dibalik layar sambil merampok negeri ini.* 
Diberdayakan oleh Blogger.