Politik Berwajah Benci

SEJARAH tentang politik dan kekuasaan di dunia ini memang cukup membuat kita sedikit murung. Sejarah yang sebenarnya kerap dimulai dengan kesalahpahaman yang terus-menerus menghimpun kebencian. Di sebuah masa, seorang filsuf tua banyak membikin orang-orang terhormat di masa itu  merasa jengah. Filsuf ini memang sedikit “gila” dalam hal kenyinyiran.  Dia berkeliling dan terus nyinyir bertanya.

Lalu, tak dapat dielakkan, sosok filsuf tua yang fenomenal itu menimbulkan dua kutub sikap yang saling menegasi secara keras. Ada yang mencintainya dengan demikian dahsyat dan ada yang membencinya begitu kesumat.

Namun, pada akhirnya kekuasaan dan politik memenangkan kebencian itu. Dia diadili dengan sangkaan membawa pengaruh buruk pada generasi muda. Dia dijatuhi hukuman mati dengan cara meminum racun. Dia adalah Sokrates

Politik dan haus kekuasaan, apa pun “selimut” yang menjadi pembungkusnya bila diserukan dengan penuh kebencian memang senantiasa menampakkan wajahnya yang sangar dan suara yang penuh dengan “tanda pentung”.

Politik dan haus kekuasaan  yang seperti itu hanya melahirkan satu kalimat pendek, sebentuk puisi yang pernah ditulis penyair Rahman Arge: Karena kursi Cuma satu/ maka saya duduk di kursi/ kamu di tiang gantungan/.***
Diberdayakan oleh Blogger.