Ahok, Kita dan Keindonesiaan


Tak ada yang lebih memprihatinkan ketika menyaksikan sebuah bangsa demikian sibuk menganak-pinakkan kebencian. Energi kebencian menjadi santapan yang dengan rakus kita kunyah dan semburkan setiap hari. Agaknya, bangsa ini semakin dalam terbenam dalam pusaran energi kebencian tersebut.

Mengapa seorang Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) demikian sanggup menjungkirbalikkan seluruh jagat stabilitas akal sehat kita? Ada apa dengan fenomena Ahok?

Sejarah kemunculan Ahok dalam jagat politik Indonesia memang tidak terlepas dari dinamika era reformasi. Dahulu, di zaman rezim Orde Baru, kita tak akan pernah membayangkan seorang Ahok yang notabene berasal dari Warga Indonesia Keturunan mampu berkiprah demikian intens dalam jagat politik Indonesia.

Pada rezim Orba, agaknya pintu masuk untuk berpolitik bagi warga keturunan digembok rapat. Dan selama 32 tahun hal tersebut kita anggap lumrah saja. Lalu reformasi 1998 mendekonstruksi tatanan tersebut. Siapa pun dan dari etnis apa pun dengan bebas menaiki panggung politik dan menawarkan diri untuk memimpin bangsa ini.

Di era inilah Ahok “dilahirkan” . Sosok yang memang terbilang fenomenal  justru karena dia menanggalkan bahasa politik eufimisme ala Orde Baru. Sosok Ahok bisa jadi semacam antithesis dari bahasa politik yang banyak menampilkan “drama” eufimisme. Dan banyak dari kita “menonton”-nya dengan kadar emosional yang tinggi.

Tidak bisa dimungkiri, Ahok telah menimbulkan “gempa” yang mengguncang banyak tatanan kita di masyarakat. Kutub polarisasi yang diciptakan  sosok Ahok memang demikian fenomenal. Bagaimana tidak, baru kali ini dalam sejarah politik Indonesia, ada seorang tokoh yang demikian mampu mengerek dua kutub yang saling menegasi. Di satu sisi ada yang demikian mencintainya dengan segenap hati dan di sisi lain yang membencinya dengan kemarahan yang kesumat.

Dalam konstalasi ini, Ahok banyak memberi kita ruang untuk kembali mempertanyakan ke mana arah dari ke-Indonesia-an kita. Sosok Ahok adalah “cermin besar” yang justru mempertontonkan watak kita dalam meletakkan nilai-nilai ke-Indonesia-an dalam prilaku sehari-hari.


Bagaimanapun Ahok hanya manusia biasa yang hadir dalam kecamuk bangsa ini dalam mencari nilai baru kebangsaan, setelah tatanan nilai lama telah kita hancurkan di awal reformasi dulu. Ahok, Kita dan Keindonesian kemudian menjadi satu dalam pertaruhan besar ini dengan konsekuesi apakah kita maju selangkah atau justru tengah “menggali kuburan” kebangsaan kita sendiri. ***
Diberdayakan oleh Blogger.