Konektivitas laut: Mengulang Kejayaan Maritim Nusantara



SALAH SATU program unggulan dalam membangun infrastruktur pemerintahan Jokowi-JK  menjadikan laut sebagai faktor utama dari sistem konektivitas nasional. Sebagai negara maritim yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia, upaya untuk menjadikan semboyan "Jalasveva Jayamahe" -di lautan kita jaya- sebagai simbol pemersatu bangsa harus tercermin dalam pengembangan dan pengelolaan infrastruktur nasional.

Kesadaran bahwa laut menjadi bagian yang sangat penting dalam eksistensi nasional serta menjadi simbol pemersatu bangsa telah menjadi pemahaman publik. Namun upaya untuk mewujudkannya dalam dimensi program prioritas serta memberi kontribusi terhadap arus kelancaran muatan barang dan penumpang masih terasa belum maksimal.

Dengan demikian, pemerintahan Jokowi-JK  memandang bahwa konektivitas laut dapat benar-benar terealisasikan bila paradigma land oriented diubah menjadi maritime oriented. Dengan pendekatan baru ini diharapkan beban transportasi darat yang sangat berat, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera, dapat dipindahkan melalui jalur laut dengan tetap mempertahankan nilai-nilai keekonomiannya.

Guna mencapai hal tersebut, ada beberapa aspek yang berkaitan dengan konektivitas laut (tol laut) sangat membutuhkan pembenahan, yakni: Pertama, tol laut membutuhkan pembenahan infrastruktur dan revitalisasi pelabuhan. Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak harus dinaikkan kapasitasnya agar dapat menjadi pelabuhan yang benar-benar bercorak internasional dengan melayani kapal-kapal dengan ukuran sangat besar serta memiliki kedalaman perairan pelabuhan sekitar 16 meter. Pelabuhan Kuala Tanjung dan Pelabuhan Bitung yang ditetapkan dalam perencanaan jangka panjang sebagai pelabuhan Internasional dipercepat penyelesaiannya. Pelabuhan-pelabuhan lain seperti Makassar, Pelabuhan Belawan dan Pelabuhan Sorong di tingkatkan kapasitasnya sebagai pelabuhan utama agar mampu melayani kapal yang membutuhkan tingkat kedalaman perairan pelabuhan sekitar 12 meter. Fungsi pelabuhan di atas juga sangat ditunjang oleh kapasitas pelabuhan pengumpang (feeder fort) yang tersebar dari Sabang hingga Merauke dengan kedalaman perairan sekitar 10 meter.

Kedua, yang perlu dibenahi dalam merealisasikan program ini adalah penyediaan sarana angkutan dalam bentuk kapal yang menyesuaikan dengan kapasitas pelabuhan, jumlah muatan dan jenis muatan yang diangkut. Kecenderungan pola angkutan muatan di dunia mengarah pada penggunaan kapal kontainer dan bulker. Dengan itu, tol laut membutuhkan ketersediaan kapal jenis ini dalam berbagai ukuran antara 500-3000 TEU's untuk ukuran container serta 30.000-50.000 DWT. Selain dua jenis kapal tersebut, kebutuhan akan kapal tanker juga mendesak, khususnya untuk mendistribusikan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) pada ukuran sekitar 6500-17.500 hingga 50.000 DWT. Ini juga termasuk penyiapan kapal-kapal LNG ukuran kecil beserta terminal penerimanya untuk mendistribusikan energi murah dan bersih, khususnya untuk pembangkit listrik serta industri. Di samping itu, untuk mengamankan wilayah perairan Indonesia dari illegal logging, illegal fishing, illegal mining serta human trafficking, maka kebutuhan kapal jenis patroli juga sangat dibutuhkan.

Program penyiapan sarana dan revitalisasi galangan kapal ini dapat memberi kemanfaatan bagi industri kapal nasional. Program ini dibutuhkan mengingat usia fasilitas galangan kapal di Indonesia telah  berkisar 100 tahun. Skenario realisasi yang paling memungkinkan adalah merevitalisasi galangan untuk mampu membangun kapal (di luar PT.PAL) dengan kapasitas 10.000-15.000 DWT. Program ini diharapkan mampu menambah jumlah armada kapal nasional dari 10% menjadi 30% dan mampu meremajakan kapal-kapal nasional dari 70% menjadi 30%.  Selain itu, sarana yang juga perlu disiapkan adalah pengadaan kapal-kapal perintis untuk melayani rute daerah terluar dan terpecil di Indonesia.

Keberhasilan tol laut dalam memberi solusi kelancaran barang, pengurangan waktu distribusi serta pengurangan biaya logistik tidak mudah terealisasi tanpa dukungan peraturan, kebijakan dan sistem pendukung lainnya. Besarnya investasi jangka panjang mustahil mampu ditanggung oleh anggaran pemerintah pusat saja. Karena itu, kemitraan antara pemerintah pusat, swasta, BUMN, BUMD, pemerintah daerah, termasuk pendanaan asing menjadi kunci penting keberhasilan program ini.

Saat ini, biaya logistik nasional masih berada pada angka 27% dari PDB, sedangkan biaya logistik dunia berada pada kisaran 10-15% dari total PDB. Oleh karena, pemerintahan Jokowi-JK bertekad untuk melakukan percepatan realisasi koneksivitas nasional berbasis laut. Upaya lain yang akan dilakukan adalah melalui pendekatan kebijakan (regulasi) dengan revitalisasi serta pengarusutamaan kerjasama pemerintah dengan swasta, penguatan dan kejelasan fungsi operator dan regulator, peningkatan peran dan daya saing BUMN, perbaikan kebijakan pricing, funding dan financing untuk sektor transportasi serta merevitalisasi sarana transportasi .

Selain pendekatan kebijakan, pendekatan prosedur dan sistem juga perlu dilakukan antara lain, dengan memaksimalkan pelayaran short sea shipping dengan operasi pelayaran yang terjadwal dan tepat waktu pada koridor-koridor strategis, peningkatan aksesibilitas pengangkutan barang di wilayah tertinggal dan pembangunan sistem informasi logistik untuk menjamin ketersediaan kargo sesuai dengan ukuran dan rute kapal.

Tol laut sebagai salah satu perwujudan konektivitas berbasis kelautan adalah sebuah konsep sistem kebijakan transportasi jangka panjang yang mampu memberikan jaminan meningkatkan  jumlah barang dan muatan (cargo flow), berkurang waktu distribusi secara signifikan, akses yang merata di seluruh wilayah, sinergi antara pusat-pusat pertumbuhan yang pada akhirnya menurunkan biaya logistik.

Pemerintahan Jokowi-JK optimis dengan konektivitas nasional berhasil laut ini akan terealisasi bila semangat kerjasama berbagai elemen bangsa bergerak bersama, sehingga harapan terwujudnya konsep kejayaan negara maritim mampu terwujud dan menjadikan Indonesia sebagai negara besar dan mandiri.****
Diberdayakan oleh Blogger.