Perumahan dan Transportasi Publik Terpadu : Solusi Mengatasi Tekanan Subsidi BBM


MESKIPUN terus dihantui dengan mewarisi subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang sangat menekan anggaran pembangunan di tahun-tahun mendatang, Presiden dan Wakil Presiden Terpilih, Jokowi-JK terus bekerja menyusun program-program yang efektif untuk menekan beban subsidi BBM dalam negeri. Salah satu program yang menjadi fokus adalah program Perumahan Publik dan Transportasi Publik Terpadu. Program ini akan segera dijalankan dengan mengeksekusi pembangunan perumahan publik di simpul-simpul transportasi umum, terutama di kota-kota besar di tanah air.

Sebagaimana diketahui, wilayah perkotaan, khususnya kota-kota besar, tergolong dalam simpul-simpul pemakai BBM terbesar yang paling konsumtif. Hal ini karena kendaraan pribadi yang mengkonsumsi pemakaian  BBM bersubsidi  pertumbuhannya semakin tidak terkendali dan setiap tahun semakin membesar. Perkembangan kota-kota besar seperti Jakarta,  Surabaya, Medan, Palembang dan Makassar yang semakin mengalami perluasan, menjalar dan menyebar (sprawling and scattered) menyebabkan tidak tertatanya lokasi permukiman dan sistem transportasi yang memadai dan akhirnya membebani tingkat pemakaian BBM bersubsidi yang sangat tinggi.

Dengan demikian, program Perumahan Publik dan Transportasi Publik secara terintegrasi merupakan salah satu program andalan dari pemerintahan baru Jokowi-JK. Program ini disusun untuk busa menahan dan mengendalikan kenaikan dan pemakaian BBM secara bertahap, dan juga sebagai program pro-rakyat yang jauh lebih "excellent" dan tepat guna dibanding program sejenis pada masa sebelumnya. Namun demikian, progman ini hanya akan bisa efektif bila bila dibarengi dengan pemberantasan secara tuntas semua praktek mafia di tanah air, terutama migas dan mafia mobil murah. Sedang untuk memperlancar program ini pemerintah juga harus memberantas mafia tanah negara, mafia perizinan lokasi, mafia kredit perumahan , mafia infrastruktur permukiman dan bentuk kejahatan mafia lainnya.

Konsep penerapan program ini  adalah "Residential Transit Oriented Development" yang telah lama diterapkan di kota-kota besar dunia. Melalui program ini nantinya akan segera dibangun ratusan ribu unit apartemen sewa milik negara yang terjangkau pada radius 0-500 meter dari stasiun-stasiun maupun terminal-terminal transportasi publik di kota-kota besar, baik melalui skema penataan maupun pembangunan simpul-simpul baru. Program ini harus segera efektif dan sistemik untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan konsumsi BBM secara signifikan serta memberi permukiman yang layak bagi rakyat Indonesia.***
Diberdayakan oleh Blogger.