Dengki


SEJARAH kebencian memang seumur keberadaan manusia di muka bumi ini. Bahkan, mungkin jauh sebelum manusia terjejak di bumi. Di suatu tempat -orang biasa menyebutnya dengan berbagai istilah seperti surga, kayangan atau semacamnya, kebencian itu hadir dan mulai menjelma sebagai ‘ular’ atau sebagai iblis yang tak rela menempatkan manusia sebagai makhluk termulia ciptaan Tuhan.

Sejarah kebencian –seperti yang tertera dalam berbagai kitab suci, mitologi maupun cerita rakyat memang senantiasa dimulai dengan terbitnya sifat dengki yang membumbung tinggi. Sebuah sifat yang berlumur kesombongan dan menganggap ‘yang lain’ sebagai tak punya harga dan nilai.

Sikap kesombongan inilah yang dicetuskan Iblis ketika dia ‘memprotes’ Tuhan ketika diperintahkan tunduk dan sujud pada manusia. Riwayat bara api kedengkian ini memang menjadi bagian paling purba dari seluruh sejarah kemanusiaan kita. Atmosfir yang ditularkannya pun demikian dahsyat dan mampu beranak-pinak dengan cepat.

Barangkali, suasana seperti inilah yang terlihat demikian dominan akhir-akhir ini di Indonesia. Sumbu kedengkian yang meraung-raung di tengah kecurigaan dan rasa percaya yang rontok. Bahasa kita akhir-akhir ini penuh sesak dengan tudingan. Fitnah, caci maki dan berita kebohongan bagai virus yang menjalar dan menjadi wabah sosial yang menyesakkan dada.

Mengapa, republik yang sejatinya dibangun dengan semangat kebersamaan, toleransi tinggi serta ketulusan yang dalam itu mampu terjungkir balikkan? Entalah. Namun yang pasti ketika kedengkian itu hadir dalam syahwat keinginan untuk berkuasa serta menjadikan sentiment agama dan suku sebagai kendaraan politik. Maka Machiavellisme yang menghalalkan segala cara menjadi perilaku yang memiriskan. Ironinya, kebanyakan dari kita tak sadar telah digiring dan dijadikan ‘bola salju’ kedengkian tersebut. (*)
Diberdayakan oleh Blogger.