Gebrakan Mentan untuk Pemberdayaan Perempuan dalam Pembangunan Pertanian.



KEMENTERIAN PERTANIAN (Kementan) sangat menyadari dan memahami peran penting perempuan dalam.pembangunan pertanian nasional. Dengan demikian, Kementerian Pertanian membuat langkah langkah konkrit pemberdayaan wanita  tani atau secara umum bagi perempuan yang bekerja di sektor pertanian.

Sejak dinahkodai Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, berbagai langkah telah dilakukan yang tentunya sejalan dan mendukung:(1) Pasal 1 UU No. 7/1984 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala. Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan/CEDAW, (2)Perspektif keadilan dan kesetaraan gender yang merupakan Tujuan SDGs ke-5 yaitu Kesetaraan Gender.

Menurut Mentan, langkah-langkah tersebut juga disusun dengan mempertimbangkan potensi perempuan di Indonesia dalam mendukung terwujudnya ketahanan pangan. “Kalau kita asumsikan separuh jumlah petani di Indonesia adalah wanita, maka jumlahnya akan mencapai 40 s/d 50 juta. Potensi ini sangat besar untuk mendukung tercapainya ketahanan pangan”, ujar Mentan.

Program  pemberdayaan dalam konteks kesetaraan perempuan di sektor pertanian sebenarnya telah lama dilaksanakan. Secara intensif program tersebut dilaksanakan untuk (1) mengangkat peran, derajad dan mengurangi beban kerja (fatique) perempuan yang bekerja disektor pertanian atas dasar kajian faktor kemanusiaan, (2) memilihkan peran perempuan sehingga potensinya dapat berperan aktif dalam pembangunan pertanian.

Bentuk konkrit dari program tersebut dalam 2 tahun terakhir ini diantaranya: (1) Program PUG untuk bekerjasama dengan beberapa organisasi perempun pusat maupun daerah, (2) Pengembangan dan pembinaan Kelompok Wanita Tani (KWT) untuknpara wanita di pedesaan meningkatkan produktivitasnya, (3) Bantuan alat dan mesin pertanian untuk metingankan beban kerja para wanita tani, (4) Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari baik di petkotaan maupun pedesaan yang mana peran wanita sangat dominan untuk pperbaikan gizi keluarga dan ketahanan pangan masyarakat.

Sebagai bukti pengakuan potensi ibu ibu yang tergabung pada PKK, Dharma Wanita, Bayangkari dan organisasi kewanitaan lainnya, Pemerintah melalui Kementan telah mencanangkan Gerakan Tanam Cabe dan  akan membagikan 10 juta bibit cabe ke seluruh Indonesia. Targetnya adalah ibu-ibu di seluruh Indonesia. Mentan telah tandatangani MoU dgn organisasi Wanita seperti PKK, IWAPI, dan lain-lain adalah bukti komitmen Mentan.

Keterlibatan perempuan melalui pemanfaatan lahan pekarangan untuk sayuran,  memberikan manfaat antara lain 1). meningkatkan akses dan partisipasi perempuan terhadap kegiatan pertanian dan ekonomi keluarga; 2)meningkatkan asupan gizi keluarga dari 2018 menjadi 2180 kkal/kap/hari: 3) meningkatkan asupan protein keluarga dari 75,86 menjadi 79,37 gr/kap/hari.; 4) meningkatkan pola pangan harapan (PPH) dari 65,5 menjadi 77; 5) mengurangi pengeluaran sehari-hari keluarga utk konsumsi pangan; 6) tersedianya bahan pangan yang segar bagi keluarga; 7) menambah pendapatan keluarga.

Dengan demikian, sangatlah beralasan bahwa salah satu upaya untuk mengatasi permadalahan cabai, Kementan mengajak peran ibu ibu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Tentu secara komprehensif,  Kementan telah meluncurkan program program peningkatan produksi cabai. Dengan demikian diharapkan kita akan mempunyai solusi permanen permasalah cabai.

Pemberdayaan Perempuan dalam Ketahanan Pangan

Kini berbagai program memberdayakan perempuan dalam pembangunan pertanian terus digalakan oleh Kementerian Pertanian. Kelompok Wanita Tani terus didorong mengembangkan usaha produktif  dan memanfaatkan pekarangan. Pada tahun 2016 sudah dikembangkan Kawasan Rumah Pangan Lestari pada 4.877 desa untuk mencukupi kebutuhan konsumsi maupun menambah pendapatan rumahtangga.

Berkaitan dengan cabai, disampaikan bahwa pada saat musibah El-Nino 2015 Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meluncurkan terobosan menanam cabai di musim kering (off-seasson) guna mengatasi shortage.  Pada saat itu Mentan Amran menyadari kebiasaan menanam cabai hanya di musimnya sehingga terjadi defisit pada saat bulan-bulan tertentu.

Hasilnya,  produksi cabai 2015 sebesar 1.915 ribu ton  atau naik 2,14% dengan produksi relatif merata antar bulan sehingga tidak terjadi shortage. Selanjutnya pada 2016 program menanam cabai ditingkatkan dengan hasil 1.918 ribu ton atau naik 0,16%.  Pada 2016 ketersediaan cabai besar  1,14 juta ton atau surplus 230 ribu ton dibandingkan kebutuhan, sedangkan ketersediaan cabai rawit 874 ribu ton atau surplus 224 ribu ton dibandingkan kebutuhan.  Untuk diketahui pada 2016 ini tidak ada impor cabai segar.

Pada 2017 lebih digalakkan lagi menanam cabai dengan target minimal 15 ribu hektar yang mulai dicanangkan bertempat di Cilodong Depok pada akhir 2016. Bersama-sama ibu ibu PKK digalakan menanam cabai di pekarangan dengan target 50 juta pohon.  Program ini diharapkan akan lebih memperkuat ketersediaan pasokan dan stabilitas harganya. Untuk itu dapat dijelaskan bahwa harga cabai di tingkat konsumsi naik pada awal Januari 2017 adalah fenomena sesaat saja akibat berbagai faktor dan diyakini akan segera kembali pulih.

Terkait dengan adanya kesalahpahaman yang terjadi yang dianggap mendiskreditkan  perempuan, perlu dijelaskan bahwa tidak ada niatan sedikitpun untuk memberikan stigma negatif pada perempuan. Justru sebaliknya malah menghargai dan mengakui peranan perempuan dalam pembangunan bangsa ini.  Pada tanggal 12/1/2017 di Sulawesi saat bertemu para ibu ibu kawan lama yang tidak pernah jumpa, Mentan Amran berkelakar kepada teman-teman berbicara tentang harga cabai tidaklah dimaksudkan untuk mendiskreditkan perempuan, tetapi memang itu lah gaya bicaranya.  Sehingga mohon maaf dan mohon dimaafkan terhadap hal tersebut.

Untuk diketahui, di berbagai forum pertemuan Ibu PKK, rapat IWAPI dan lainnya Menteri Pertanian selalu menyampaikan “bangsa Indonesia ke depan akan semakin maju dan kuat, kuncinya ada para Ibu, Ibu yang mendidik dan membesarkan kalian”.  Untuk itu sayangilah Ibumu.  Demikian juga pada berbagai kesempatan Menteri Pertanian juga menyampaikan “di balik kesuksesan suami, pasti ada perempuan hebat yaitu sang istri mendukungnya”

Sebagai informasi Kementerian Pertanian memperoleh prestasi Anugerah Parahita Ekapraya Tingkat Mentor tahun 2016, karena telah berhasil mengembangkan pengarusutamaan gender yaitu memberikan kesempatan yang sama antara perempuan dengan laki-laki dalam partisipasi, akses, kontrol dan menikmati manfaat dari berbagai program yang ada.  Proses internalisasi pengarusutamaan gender dalam kehidupan sehari-hari ini dengan maksud guna mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.

Memang masih banyak program yang harus dituntaskan dan sekarang waktunya untuk mulai bekerjasama antar semua elemen bangsa, termasuk perempuan. Jika kita bergerak bersama-sama maka permasalahan bangsa ini dapat segera terselesaikan.


Mentan Bangga pada Kecepatan Ibu Ibu Tuntaskan Masalah Cabai

Terkait dengan semua itu, dalam sambutannya di Rakor Pangan di Kendari yang dihadiri para pemangku kepentingan pertanian, Menteri Pertanian menyatakan saat ini pembangunan pertanian kita sudah maju. Ini terbukti bahwa tahun 2016 kita tidak impor beras, impor jagung turun 66 persen dan bawang sudah ekspor.

Menyinggung permasalahan cabai yang akhir akhir ini ramai diberitakan di berbagai media, mentan menyampaikan beberapa solusi telah dilakukan sejak awal. Kementan telah bagi bagi bibit cabai 10 juta bibit kepada ibu ibu PKK. Bahkan sekarang lanjut Menteri Ibu -Ibu PKK telah punya program pengembangan cabai.

"Saya bangga pada ibu ibu PKK, IWAPI, ibu rumah tangga" mereka sudah menanam begitu antusias dipekarangannya.Saya pernah berdiskusi dengan ibu PKK di Cilodong, Jabar. Mereka mengatakan akan siap mengembangkan tanaman cabai. Itulah bangganya saya terhadap ibu - ibu, kata Mentan.

Ibu -ibu mempunyai potensi besar dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional, khusus untuk membantu mengatasi permasalaham cabe saat ini", " Mentan terhadap teman temanya yg setelah17 tahun tidak ketemu" ungkap Mentan Amran pada temu kangen dengan Ibu ibu di Konawe Utara, Sulteng (12/1/2017) lalu.

Dengan becanda Mentan memotivasi ibu ibu untuk menyediakan sebagian kecill waktunya untuk menanam dan merawat cabe di pekarangan. Hal serupa juga pernah disampaikan Mentan saat menghadiri dan membeti arahan pada Kongres PKK se Indonesia di Jakarta bulam Desember lalu.

Dalam sambutannya, Mentan Amran  mengatakan "salah satu cara paling rasional memenuhi permintaan cabai yakni dengan meminta masyarakat menanam di rumah, khususnya ibu-ibu".

Sebagai bukti cinta dan pengakuan potensi ibu ibu yang tergabung pada PKK, Dharma Wanita, Bayangkari dan organisasi kewanitaan lainnya, Pemerintah melalui Kemtan telah mencanangkan Gerakan Tanam Cabe dan  akan membagikan 10 juta bibit cabe ke seluruh Indonesia. Targetnya adalah ibu-ibu di seluruh Indonesia. Mentan telah tandatangani MoU dgn organisasi Wanita seperti PKK, IWAPI, dll. adalah bukti komitmen Mentan.

Diakhir sambutannya, secara tulus Mentan mengatakan "Kami menyayangi ibu ibu, karena kami bapak bapak sàngat sadar, tidak mungkin ada bapak bapak hebat tanpa ibu ibu yang hebat". Mentan menegaskan, dirinya sangat menyayangi ibunya, 15 tahun lamanya Mentan Amran merawat ibunya.(*) 

Diberdayakan oleh Blogger.