Generasi di Republik Caci-Maki


BARANGKALI sejarah memang kerap menyisakan ‘sampah’ pada setiap zamannya. Dan kelak, anak-cucu kita bakal membaca bahwa di sebuah zaman, di era tahun 2000-an, negeri ini (baca: Indonesia) kebencian demikian membuncah. Sebuah kebencian yang ditanak dengan ‘menjual’ sentiment keagamaan dan kesukuan. Kebencian yang lebih menyerupai sikap intoleransi paling vulgar dan dipertontonkan dengan kesombongan paling tinggi. Sebuah republik caci-maki.

Sejarah memang kadang terlihat demikian ‘memilukan’ sekaligus ‘memalukan’  ketika kita sudah mampu membacanya dengan jernih. Namun, apa boleh buat, barangkali, saat itu kita sudah berada dalam situasi kasip dan hanya mampu menyesali diri.

Pada akhirnya realitas memang tak mampu kita elakkan. Saat ini, di republik ini, atmosfir udara demikian terlihat sesak oleh raungan dan makian. Fitnah dan kebohongan dipuja sebagai kebenaran. Agama di seret ke sana-ke mari untuk digaungkan sebagai ‘bendera’ rasa benci. Dan kita, sebagian dari kita, hanya bisa ‘bersembunyi’ dalam diam.

Indonesia, sebuah negeri yang ‘akar’ eksistensinya ditanam dengan berbagai ragam suku, bangsa, bahasa dan agama ini, mulai koyak dirobek oleh semangat intoleransi yang sangat agresif. “Ketika Anda tak sependapat, Anda adalah musuh kami”, demikian corak semangat yang membaluri udara kita saat ini.

Lalu bakal ke mana republik ini melangkah kelak? Terus terang saya tak tahu. Namun saya teringat kisah seorang perempuan muda bernama Anne Frank. Di tengah amukan kebencian meradang serta udara horor kematian  yang ditebar rezim Nazi di era perang dunia ke II, gadis keturunan Yahudi ini menulis buku harian yang tetap lembut dan memaafkan. Dan di sini, kita sepertinya layak untuk tetap menaruh harapan. (*)
Diberdayakan oleh Blogger.