Indonesia dalam 1/2 Gelas Air


BAGAIMANA kita membincangkan negeri Indonesia ini, saat ini? Sejujurnya saya harus mengatakan “muram’ dan ‘buram’. Di negeri ini, waktu seakan berkerumun dalam gumpalan jelaga pekat yang berisi kegaduhan suara dengan tensi yang demikian tinggi oleh nada kebencian dan hasutan.

Hari-hari ini, di media sosial, kita selalu “ditampar” oleh beribu-ribu makian, fitnah, berita bohong, hasutan, agitasi dan rasa kebencian yang membumbung. Ruang interaksi dan relasi kemanusiaan kita seakan hanya menghadirkan warna kemarahan yang telah kesumat. Di media sosial, kita menjadi ‘pembenci’ yang mengajak orang untuk ikut membenci –dengan cara apa pun, meski itu berupa fitnah dan kebohongan.

Benarkah republik ini sedemikian ‘muram’ dan ‘buram’? Sejujurnya saya harus mengatakan iya. Namun, dalam situasi seperti ini, saya menemukan sebuah tulisan ringkas tapi mampu sedikit banyak membantu memperbaiki cara pandang saya terhadap situasi negeri ini yang saya anggap berada pada titik paling nadir. Tulisan tentang “segelas air” sebagai perumpaan sebuah cara pandang. Begini tulisan tersebut:

“Jika setengah gelas air dimasukan ke dalam sebuah gelas, apakah gelas tersebut setengah isi atau setengah kosong? Mungkin Anda pernah mendengar cerita tentang dua orang anak yang optimis dan pesimis mengenai sikapnya terhadap ember berisi air setengahnya, apakah setengah isi atau setengah kosong. Tetapi yang akan dibahas disini lain lagi, karena jawaban setengah isi maupun setengah kosong keduanya bisa salah bisa juga benar.

Jika Anda menjawab bahwa gelas tersebut penuh, itu juga juga bisa menjadi jawaban yang benar. Dan justru inilah jawaban yang paling benar. Mengapa? Karena gelas tersebut memang penuh: setengah diisi oleh air dan setengah lagi diisi oleh udara, jadi totalnya gelas tersebut penuh. Yang menjawab setengah isi juga bisa benar jika sudut pandang terhadap isi gelas tersebut tertuju pada air saja. Udara dilupakan untuk sementara.

Setengah kosong juga benar, secara harfiah. Tetapi jawaban seperti menunjukan bahwa kita selalu fokus terhadap yang tidak ada bukan fokus terhadap yang ada yang akan membuat kita memiliki rasa bersyukur. Sementara rasa syukur akan meningkatkan motivasi diri kita. Tetapi untuk kontex lain jawaban ini ada baiknya, misalnya saat kita sedang membuat rencana mencapai sesuatu, kita harus melihat kekosongan sehingga bisa menentukan tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk mengisinya.

Ternyata, dari gelas yang terisi air setengahnya bisa memberikan banyak sudut pandang. Hal ini memberikan hikmah kepada kita bahwa dalam melihat sesuatu harus dari berbagai aspek, kita tidak bisa melihat dari satu sisi saja dan kemudian menghasilkan kesimpulan yang seolah tidak bisa diganggu gugat lagi. Jika kebetulan kita melihat pada satu aspek yang positif, Alhamdulillah, tetapi jika kita kebetulan melihat pada aspek yang negatif, maka kehidupan kita akan terjebak selamanya pada kepercayaan negatif.” (*)
Diberdayakan oleh Blogger.