Membincangkan Pilkada Jakarta


SAYA selalu membayangkan bila pemilihan kepala daerah (pilkada) atau pemilihan pemimpin lainnya adalah benar-benar sebuah ‘pesta rakyat’. Sebuah ajang rakyat untuk bergembira. 

Sebagaimana sebuah ‘pesta’, semua rangkaian peristiwa yang ada di dalamnya hanya menyampaikan satu warna pesan: "Kegembiraan".

Kegembiraan rakyat di sini bukanlah sejenis kegembiraan yang naïf, atau sejenis pesta pora yang melupakan diri. Kegembiraan rakyat pada pilkada harus dimaknai sebagai kegembiraan substantif. Kegembiraan sebuah kemenangan karena pada ajang inilah rakyat benar-benar menjadi pemegang kedaulatan dalam arti sesungguhnya.

Dengan kata lain, kegembiraan rakyat pada pilkada  adalah kegembiraan menjadi “penguasa sesungguh”-nya. Dalam konteks itu, rakyat menjadi pemegang “saham’ yang berhak menentukan siapa yang bakal mampu “melayani” mereka. Pilkada kegembiraan adalah pilkada untuk memilih para “pelayan”.

Namun, dalam banyak peristiwa pilkada, kita jarang menemukan “gambaran momentum” tersebut. Yang banyak tersaji justru sebaliknya, rakyat senantiasa menjadi “kayu bakar” para kandidat yang bertarung dalam pemilihan. Rakyat dimanipulasi menjadi sebuah kerumunan dan “dibakar” untuk kemenangan sang kandidat.

Saya pernah berpikir, dalam konteks sebuah masyarakat yang baru belajar berdemokrasi.  barangkali kita memang harus melewati tahapan ini. Bagaimana pun, sebuah demokrasi yang sehat memang harus ditandai dengan munculnya warga-negara dan bukan lagi sebuah massa kerumunan.

Yang menjadi masalah adalah semakin lama pilkada di negeri ini semakin terlihat tak bermutu. Alih-alih menjadi warga-negara, justru kita semakin terlihat tenggelam dalam arus kerumunan yang kehilangan akal sehat. Tensi kecerewetan kita memang menjadi demikian tinggi, namun yang dominan bukanlah kecerewetan warga-negara yang kritis dan rasional, namun kecerewetan yang berbau nyinyir bahkan cenderung desruktif.

Contoh paling memiriskan dari gambaran ini adalah rangkaian peristiwa dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Inilah pilkada yang paling tak rasional serta tak memiliki nilai positif bagi terbangunnya warga negara di sebuah negeri yang demokratis. Sebuah rangkaian peristiwa yang demikian “busuk” karena rakyat digiring untuk saling membenci, saling menghujat dalam baluran sentiment keagamaan dan kesukuan.

Pada pilkada DKI Jakarta ini, kita menyaksikan bagaimana sebuah toleransi dikoyak-koyak oleh sebuah ambisi beberapa orang elite negeri ini. Rangkaian fitnah, berita kebohongan (hoax) berseliweran riuh dan menyesaki udara. Inilah pilkada yang begitu banyak merontokkan nilai-nilai positif dari demokrasi dan kedaulatan rakyat. Inilah pilkada yang paling memilukan. (*)
Diberdayakan oleh Blogger.