Pada Mulanya Adalah Fitnah


BAGAIMANA menjelaskan lahirnya totalitarianism? Hanna Arendt mungkin bisa menggambarkannya. Lewat bukunya yang monumental, “The Origins of Totalitarianism”, Arendt dengan sedikit rasa jengah menuliskan bagaimana sebuah kondisi (baca; realitas politik ) mulai membangun lahan lahirnya sistem politik dan pemerintahan yang memilukan ini. Sebuah realitas politik yang menjadi ‘bidan’ bagi kelahiran sebuah rezim yang banyak membuat nyali kita bergidik.

Barangkali memang tak ada yang memperkirakan bahwa di sebuah wilayah atau negara, bibit-bibit totalitarianism tumbuh berkemcambah. Namun Arendt dengan jitu mengulitinya hingga jauh ke jantung sehari-hari.

Mungkin rakyat pada umumnya di negara yang bernama Jerman atau Italia di awal abad 20, tak ada yang menyadari bila hari-hari mereka saat itu, sejarah mulai bergerak menuju ‘lorong’ yang pengap. Tak ada yang menyadari bahwa seorang yang bernama Hitler atau Mussolini perlahan mulai meletakkan tonggak narsisis-nya sekaligus “kebenciannya” pada satu ‘kaum’ dalam benak keseharian rakyat.

Fitnah, propaganda, agitasi serta berita hoax bertumbuh pesat. Kebohongan akan ancaman dari kaum Yahudi disertai cerita tentang kejayaan bangsa Arya berkelindan di tengah kondisi rakyat Jerman yang kehilangan kepercayaan diri setelah kekalahan dalam perang dunia ke I dan keterpurukan ekonomi yang menghantam.

Di sana, Hitler berhasil mendaur ulang berbagai kebohongan dan rasa benci itu menjadi semangat ultra-nasionalisme yang pekat. Menciptakan musuh bersama yang dianggap jadi ‘biang kerok’ segala derita kekalahan dan keterpurukan yang dialami rakyat Jerman.
Hitlet berhasil  mengubah warga menjadi kerumunan massa yang berderak dalam gegap gempita yel-yel megalomania. Sebuah kerumunan massa yang menuding marah sembari menyemburkan kebenciannya pada kaum Yahudi.

Lalu sejarah mencatatnya dengan pilu. Adegan pembersihan etnis sekaligus agresivitas ekspansi militer menjalar dalam gaung propaganda kebencian. Semua bergemuruh dalam kobaran api dan semangat menghancurkan musuh.

Memang, sejarah kadang demikian pahit untuk kita telan. Namun, di hari-hari terakhir ini, di negeri kita, Indonesia, suasana di awal mula lahirnya totalitarianism tersebut tumbuh dengan suburnya. Serbuan berita bohong (hoax), kebencian, fitnah berkecambah ddan beranak-pinak. Penggiringan opini kebencian ini bahkan sudah sedemikian mengerikan karena zaman demikian terbuka dengan teknologi informasi. Saat ini, kita seperti berada dalam suasana hiruk-pikuk kebencian yang menjalar dan kesumat permusuhan yang membahana. Segalanya berawal dari fitnah. (*) 
Diberdayakan oleh Blogger.