Tujuh Terobosan Baru Menteri Pertanian Mulai 2015.


KEMENTERIAN PERTANIAN  (Kementan) yang dinahkodai Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman  hingga saat ini terus melakukan berbagai terobosan baru dalam upaya menuju pertanian berkelanjutan.

Adapun tujuh terobosan baru tersebut adalah:

Pertama, membuat regulasi baru dan merevisi regulasi yang menghambat. Misalnya pada waktu sebelumnya pengadaan benih dan pupuk secara lelang sehingga penyaluran tidak tepat musim, direvisi Perpres 174/2014 menjadi penunjukkan langsung sehingga penyediaan benih dan pupuk bisa cepat dan tepat musim.


Kedua, membangun infrastruktur besar-besaran 2,6 juta hektar irigasi tersier, memperbaiki atau optimasi lahan 932 ribu hektar, termasuk mekanisasi dengan bantuan 80.000 unit alsintan, seperti pompa air, traktor, rice transplanter, combine harvester dan lainnya. Juga perbaikan kegiatan budidaya (on-farm) seperti benih, pemupukan dan lainnya.

Kebijakaan dan program tidak berhenti di tahun 2015, namun terus dilanjutkan pada 2016 dan selanjutnya sesuai tahapan dan skala prioritas. Skala prioritas 2016 adalah mencetak sawah 200 ribu hektar, mekanisasi dengan lebih dari 100.000 unit alsintan, alih teknologi benih unggul padi 4,5 juta hektar, jagung 1,5 juta hektar dan kedelai 750 ribu hektar dan rehabilitasi irigasi tersier 467 ribu hektar serta impor 25 ribu sapi indukan.

Berbagai kebijakan dan pogram ini terbukti telah memberikan hasil nyata pada pembangunan pertanian. Hasilnya, pertama, program mempersenjatai petani dengan alsintan telah mampu menghemat biaya produksi, efisiensi tenaga kerja dan mengurangi lossis.  Dampaknya produktivitas padi naik dari 5,14 ton/ha tahun 2014 menjadi 5,34 ton/ha tahun 2015. Produktivitas tenaga kerja juga meningkat seiring dengan mekanisasi pertanian.

Ketiga, Mentan Amran memperbaiki unsur pendukung (supporting-system) dan manajemen cara membangun dengan cara penguatan kelembagaan petani, kapasitas SDM dan aparat, kualitas riset dan pemanfatannya, program dirancang secara sistemik dan masif dan setiap kegiatan dilaksanakan dengan output terukur. Selain itu, melalui pengawalan program ketat melibatkan semua unsur termasuk penegak hukum, pemantauan secara harian/mingguan, dan menerapkan system reward and punishment.

Dengan berbagai cara ini,  hasil yang diperoleh yaitu luas tanam meningkat, teknologi jajar legowo diterapkan, masalah di lapangan langsung diselesaikan, birokrasi transparan, bersih dan melayani petani dan pemalsuan pupuk diproses hukum serta penyelundupan dan impor illegal ditangkap atau dimusnahkan.

Keempat, pada upaya tata kelola air irigasi, Mentan Amran memegang prinsip “tidak ada air berarti tidak ada kehidupan”. Upaya ini terbukti mampu mengatasi lahan mengalami kekeringan. Berdasarkan hasil kunjungan kerja lebih dari 300 kabupaten, dijumpai 3,35 juta ha lahan membutuhkan air.

Untuk menjamin tata kelola air agar terus mengurai kekeringan, Mentan membangun sinergisme dengan Menteri PUPR dan Menteri LHK serta menetapkan prioritas 2017-2019 revitalisasi irigasi dan sumber air. Hal ini ditempuh dengan cara membangun atau memperbaiki jaringan irigasi tersier dan pompanisasi 20 ribu unit/tahun untuk melayani air padasawah irigasi 4,76 juta ha. Selain itu, membangun pintu-pintu air di Kalimantan, drainase di lahan rawa lebak Sumatera. Mentan pun membangun embung di lahan tadah hujan, dam-parit, long-storage, sumur dangkal, sehingga mampu melayani sawah non irigasi  3,35 juta ha semula ditanami satu kali menjadi minimal dua kali (IP-200).

Kelima investasi dan hilirisasi. Mentan memberi kemudahan investasi di sektor pertanian dengan cara merevisi regulasi terkait lahan, perijinan dan keringanan pajak. Hasilnya diperoleh komitmen investor dalam negeri dan asing. Yaitu investor pada 15 Pabrik Gula (PG) eksisting komitmen membuka lahan tebu seluas 300 ribu ha, investor 19 PG baru pada lahan 500 ribu ha dan  empat investor mengembangkan 500 ribu ha untuk jagung. Selain itu, sembilan investor pengembangan ternak di lahan 1 juta. Realisasi investasi tersebut saat ini adalah PG di Lamongan, PG di Dompu dan investasi ternak sapi di Sumba Timur sudah siap diresmikan pada bulan Juni 2016. Demikian juga hilirisasi mengolah produk produk pertanian juga meningkatkan nilai tambah. Produk kelapa sawit tidak hanya CPO tetapi sudah diolah menjadi minimal 43 jenis produk turunannya.

Keenam, Mentan melalukan penanganan tata niaga terkait rantai pasok yang panjang dan gejolak harga pangan. Ini  diatasi Mentan dengan resep bisnis yaitu “sedikit kali banyak”.  Maksudnya sedikit keuntungan dikalikan banyak pembeli dan bukan sebaliknya, sehingga 2016 dibangun minimal 1.000 Toko Tani Indonesia (TTI) dengan membeli langsung ke petani dengan harga wajar dan menjual langsung ke konsumen dengan harga lebih murah. Dengan demikian, dampaknya adalah rantai pasok menjadi lebih pendek. Petani mendapat jaminan pasar dan menikmati harga wajar, pedagang memperoleh normal profit dan konsumen tersenyum.

Ketujuh, Mentan mengeluarkan kebijakan pengendalian impor dengan cara importasi hanya dilakukan sesuai kebutuhan alias bukan keinginan. Kemudian, mendorong ekspor komoditas kelapa sawit, karet, kakao, kopi, sayur, buah-buahan dan lainnya telah menunjukkan hasil. Sehingga trend impor pangan seperti bawang merah, jagung dan lainnya menurun drastis dan ekspor pangan meningkat. Ekspor bawang merah 2015 naik 90% dan impor nya turun 77% dibandingkan 2014.(*)


*sumber Pusdatin Kementan
Diberdayakan oleh Blogger.