Hanya Ada Satu Kata: Kebencian


ADA sebuah peristiwa sejarah di mana kita pantas meletakkan diri untuk ‘berkaca’ sejenak. Dan itu bisa didapatkan dari sejarah Tiongkok di era komunisme dibawah pimpinan Ketua Mao-Ze-dong. Pada tahun 1966, pemimpin Komunis Cina Mao-Ze-dong mengibarkan sebuah revolusi yang dikenal sebagai “Revolusi Kebudayaan” dan dampak dari revolusi tersebut demikian memiriskan hati.

Banyak pengamat sejarah mengatakan bila kelahiran dari “Revolusi Besar Kebudayaan Proletariat” di Cina akibat kegundah-gulanaan sang Pemimpin Mao menyaksikan semangat revolusi proletariat mulai luntur. Pemikiran dan gagasan dari banyak kaum intelektual Cina dianggap mulai bias dan cenderung “liar”. Ini dianggap sangat membahayakan ‘stabilitas’ doktrim partai dan ditakutkan mulai ‘meracuni’ pikiran kaum muda. Memang, kebebasan berpikir di era tersebut adalah sebuah hal yang ‘tabu’.

Lalu lahirlah Revolusi Kebudayaan. Sebuah revolusi yang ‘ironiknya’ diturunkan dari ‘menara gading’ kekuasaan. Tiba-tiba, rakyat Cina seperti digiring dalam “arena konflik” di antara sesama warga. Saling curiga ditumbuh-kembangkan dengan suburnya. Fitnah dan hasutan bergelimang dalam pikiran.  Teror dan ketakutan adalah suguhan sehari-hari.

Inilah yang kemudian diceritakan kembali oleh Liang Heng dan Judith Shapiro dalam buku otobiografinya “Tragedi Anak Revolusi”.

Liang Heng memang pantas memberi judul bukunya ini dengan kata awal “Tragedi”. Sebuah rangkaian peristiwa yang dialaminya sendiri dan memang menjadi sebentuk trauma yang memilukan. Liang Heng ada di pusaran ‘kekacauan’ itu dan menjadi seorang “anak revolusi yang akan menjadi korban”. Dialah yang dengan jelas dimaksud oleh sebuah ungkapan “revolusi memakan anaknya sendiri”.

Kejadian awal di masa-masa itu, langsung membentur ruang-ruang paling sensitive dari sejarah hidup Liang Heng. Orang tuanya “terpaksa” bercerai  demi partai. Di sana, partai mulai menumbuhkan semacam sikap saling curiga, bahkan antar keluarga sekalipun. Orang tua, saudara, family, tetangga menjadi saling tak menaruh kepercayaan lagi. Inilah saat di mana tiba-tiba kita dijemput oleh sekelompok orang karena tadi siang telah dilaporkan –entah oleh orang tua, anak, saudara, tetangga, atau sahabat kita.

Saat itu, anak-anak muda digiring menjadi “Anak Ketua Mao” yang baik. Dijejali semangat untuk curiga dan rasa tanpa kasihan. Mengunyah hasutan setiap hari. Maka teror pun menelusup sampai ke tempat paling privat manusia. Roda revolusi bergerak melindas seluruh negeri. 

Kemiskinan, sovinisme dan teror Pangawal Merah semakin meluluhlantakkan kemanusiaan yang masih tersisa saat itu. Dan korban pun berjatuhan. Pembantaian manusia menjadi bagian yang tak terelakkan. Saling curiga. Saling menghasut. Saling Melaporkan. Inilah “permusuhan” yang dibangun dengan sistemik hanya untuk “semangat” kebenaran yang digaungkan.

Lalu, di sini di Indonesia kita ini,  saya tiba-tiba merasa bergidik. Suasana itu mulai terasa, walau dalam versi yang berbeda. Namun semangat membenci, fitnah, agitasi dan hasutan yang ada terasa punya kemiripan. (*)
Diberdayakan oleh Blogger.