Karl Marx, Komunisme dan Bayangan Orang-nya Plato


SAYA selalu membayangkan lelaki brewok itu  tengah tenggelam dalam tumpukan buku-buku tebal di sebuah perpustakaan umum di Berlin, Jerman. Rambutnya yang gondrong dan berantakan itu seolah mempertegas bila lelaki ini senantiasa ‘bertengkar’ dengan segala tren fashion yang ada. Dialah Karl Heinrich Marx yang lebih dikenal sebagai Karl Marx.

Dari riwayatnya, kita mengenal sosok ini lahir pada 5 Mei 1818 dari sebuah keluarga Yahudi yang berpaham sangat liberal dan progresif di Tier Kerajaan Prusia. Diusia yang ke 17, Karl muda memasuki Universitas Bonn dam mengambil jurusan hukum. Namun karena nilainya jelek dan ketertarikannya pada kesusastraan dan filosofi, ayahnya memaksakan untuk pindah  ke universitas lain, yakni Fredrich-Wilhelms-Universitat di Berlin.

Di sinilah Karl Marx mulai banyak menulis puisi dan esai tentang kehidupan dengan bahasa teologi yang diwarisi dari ayahnya. Namun di saat ini pulalah Karl Marx mulai menekuni filosofi Hegel dan mulai bergabung dengan kelompok Young Hegelian. Tak lama kemudian, dia mulai menyebarkan prinsip-prinsip kritisme sosial dengan memakai landasan dealiktika Hegel namun dengan keras menolak sifat abstrak filsafat Hegel dan mulai meletakkan sejarah sosial  dalam ‘pisau bedah’ analisisnya.

Lalu Lahirlah buku “Communist Manifesto” (1848) yang dibuka dengan kalimat “Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas”.

Memang, sejak awal, Karl Marx adalah seorang teoritikus. Daya pikat dari filsafat sejarah yang ditawarinya kemudian semakin utuh ketika dia bertemu dengan Friedric Engels, seorang pemikir praktis yang demikian kritis terhadap kondisi yang dihadapi oleh kelas pekerja saat itu di Prancis.

Lalu jadilah teori Karl Marx  menjadi daya dorong untuk sebuah kekuatan politik. Di Rusia, warisan Karl Max ini didengungkan oleh Marxist Bolsheviks dan kemudian memperoleh kemenangan Revolusi oktober Rusia. Dunia pun mulai bergerak masuk ke dalam era “Perang Dingin”

Namun sejak keruntuhan “Tembok Berlin” dan tumbangnya paham komunisme di Uni Soviet, paham komunisme menjadi sangat tidak menarik lagi. Daya pikatnya hancur dan dunia melihatnya sebagai sebuah masa lalu yang buruk dan tak mengenakkan. Kini komunisme hanya tersisa dalam keping-keping keruntuhan dan hanya mampu bertahan sebagai “pajangan’ untuk sebuah aset sejarah dari pelajaran tentang ideologi. 

Di negara Tiongkok, paham Komunisme memiliki wajah yang ‘aneh’ karena telah berkamuflase dengan Kapitalisme. Di Kuba, Komunisme perlahan hanyut bersama wafatnya Fidel Castro, sedang di Korea Utara, Komunisme mengejahwahkan dirinya lewat “kegilaaan” sang presiden muda.

Komunisme tak punya daya pikat apa-apa lagi. Sebagai ideologi, Komunisme telah gagal dan menjadi ideologi afkir. Namun lucu dan ironiknya, di Indonesia, saat ini, Komunisme dipakai kembali sekelompok orang sebagai alat politik untuk menyebar kebencian. Seakan-akan Komunisme masih perkasa dan menakutkan. Dan lebih ironic lagi, banyak dari kita mengamini model penyebaran isu seperti ini atau setidaknya termakan oleh isu ini


Kita mendadak seperti apa yang pernah diceritakan filsuf Plato, “orang yang terikat dalam gua yang gelap dan hanya diterangi seberkas cahaya dari api unggun dan melihat bayangannya sendiri selama bertahun-tahun, sehingga suatu ketika, dia menganggap bayangannya itu adalah sebuah realitas. Sebuah kenyataan”(*)
Diberdayakan oleh Blogger.