6.2.17

Politik “Gorengan” Pilkada


BARANGKALI setiap ada momen pemilihan, baik itu pemilihan presiden, DPR mauppun  kepala daerah, kita bisa jadikan barometer untuk menakar sampai sejauh mana kedewasaan politik dan berdemokrasi bangsa kita. Pasalnya di momen seperti inilah “karakter” dan syahwat kekuasaan dari elite politik  dan cara kita (baca: rakyat kebanyakan) memaknai arti demokrasi dipertunjukkan dengan vulgar dan nyaris telanjang.

Setiap momen pemilihan dalam kontek sistem demokrasi, sejatinya adalah “alat rakyat” untuk menunjuk para “pelayan” mereka serta jadi “palu vonis” untuk menghukum elite yang tidak menjadikan rakyat sebagai “tuan” selama para elite itu diberi amanah. Setiap momen pemilihan, sejatinya adalah tanda bahwa rakyat menjadi pemegang daulat penuh atas nasib bangsa dan negara ini ke depan.

Namun bagaimana pun sebuah sistem demokrasi yang sehat dan dewasa memang memerlukan banyak prasyarat agar mampu berdiri tegak. Salah satunya adalah terbitnya sebuah kesadaran rasional warga negara serta kemampuan masyarakat untuk meletakkan politik sebagai sebuah tahapan untuk menuju kesejahteraan bersama.

Dengan demikian, sebuah momen pemilihan hanyalah sekedar tahapan, bukan tujuan. Namun, di negara yang memang masih belajar meletakkan demokrasi sebagai sebuah sistem politik bernegara, agaknya perilaku “aneh” dan kontradiktif memang masih berseliweran di tengah sebuah ajang pemilihan.

Hal yang paling menonjol dalam setiap momen ini adalah bagaimana para elite politik kita bermanuver dengan “gaya Machiavelli”. Menghalalkan segala macam cara untuk meraih tampuk “basah” kekuasaan. Politik pilkada kita masih sangat mengedepankan syahwat kekuasaan. Sebuah politik untuk meraih privilege serta politik bergaya aristocrat berbungkus demokrasi.


Inilah yang menjadikan politik pilkada kita lebih banyak mempertontonkan “politik gorengan”. Politik yang hanya menjadikan isu-isu artifisial seperti menjual sentiment suku, agama sebagai alat “gorengan”. Alih-alih membuat kesadaran politik masyarakat terbangun, politik “ gorengan” pilkada yang cenderung memperkokoh “kebodohan” rakyat karena senantiasa digiring untuk saling membenci dan memaksa kita untuk ikut membenci. Dan ini terjadi saat ini di negeri kita. (*)

Related Posts

Politik “Gorengan” Pilkada
4/ 5
Oleh