Puisi


SEBUAH sajak atau puisi pada akhirnya tak memiliki apa-apa lagi selain dirinya sendiri. Ketika dilepas ke publik (baca: kehidupan), segala kemungkinan interpretasi bisa saja terjadi. Kata-kata atau apa pun yang ada dalam sebuah puisi bakal terus mengalir, membuahi dan beranak-pinak dalam imajinasi siapa pun yang pernah “menyentuh”-nya.

Dalam konteks ini, penyair hanyalah seorang “bidan” yang terlibat dalam sebuah proses persalinan (kelahiran) sebuah puisi. Setelah rampung, penyair hanyalah satu diantara mereka yang tak lagi memiliki hak apa pun terhadap hidup sebuah puisi. (*)
Diberdayakan oleh Blogger.