20.3.17

Hukum Kekekalan Kritik Para Intelektual


DI MEDIA SOSIAL (medsos) para nietizen pernah berseloroh dengan memplesetkan sebuah formulasi terkenal dalam teori fisika yakni “Hukum Kekekalan Massa dan Energi” dengan kalimat lucu; “Hukum Kekekalan Kritikus”. Makna seloroh ini, barangkali berupa ejekan, atau sekadar sarkasme untuk sindiran pada beberapa intelektual (cendekiawan) yang dianggap tidak konsisten dalam integritas prinsip keilmuan dan karakter mereka.

Meminjam bahasa anak-gaul, pendapat para intelektual (cendekiawan) tersebut demikian cepat berubah “warna’ 360 derajat seiring letak arah “mata angin” kepentingan kelompok atau orang yang “membelinya”  “Pagi tahu sore tempe”, ini kalimat sarkastik yang juga cukup populer di kalangan para pengguna media sosial.

Apakah virus yang banyak menghinggapi para intelektual (cendekiawan) dengan gaya dan sikap “pagi tahu sore tempe” ini hanya mewabah di Indonesia atau memang menjadi bagian dari sejarah para intelektual (cendekiawan) di jagat raya ini? 

Terus terang, saya tak tahu. Namun Julien Benda dalam karya monumentalnya “Pengkhianatan Kaum Cendekiawan” bisa menjawabnya dengan jitu. Terbit pertama kali di Prancis pada tahun  1927 dengan judul “La Trahison des Clercs”, Julien Benda menggali lubang renungan mendalam tentang peran dan kewajiban para cendekiawan di tengah masyarakat.

Latar yang membidani lahirnya esai besar ini adalah sebuah peristiwa yang sangat menggemparkan masyarakat Prancis di tahun 1894 yang karib disebut “L’Affaire Dreyfus, di mana seorang perwira Prancis keturunan Yahudi bernama Dreyfus, diadili atas tuduhan menjual rahasia militer kepada dinas intel Jerman. Oleh pengadilan, Dreyfus dinyatakan bersalah dan dibuang selama sepuluh tahun.

Sebagai reaksi atas pengadilan yang “sesat” dan tak adil itu, sejumlah cendekiawan, antara lain Emile Zola, bangkit dan mengumumkan sebuah “Manifes Para Intelektual”. Dengan Manifes itulah para cendekiawan (yakni para ilmuwan, seniman dan filsuf) untuk pertama kalinya menyatakan diri sebagai sebuah golongan tersendiri dalam masyarakat dengan peran dan tanggungjawab serta tugas tersendiri.

Lalu, apa benang merah yang terjalin antara karya Julien Benda dengan kondisi kekinian dari para kelompok masyarakat yang kerap disebut intelektual (cendekiawan) ini di Indonesia?

Jawabnya mungkin bisa sedikit bombastis dan lebai yakni seandainya Julien Benda, hidup dan saat ini bermukim di Indonesia, maka dia tidak akan pernah menulis karya besar “Pengkhianatan Kaum Cendekiawan” ini, bukan karena tingkat pemahamannya naïf, namun dia pun akan masuk dalam jejaring belitan besar para intelektual “pagi tahu, sore tempe” tersebut.

Kondisi di republik ini memang sering mempertontonkan hal yang aneh sekaligus ajaib. Banyak hal yang berjumpalitan dalam kadar nilai maupun paradigma yang berlangsung. Para intelektual pun tak luput dari sengkarut nilai dan jumpalitannya situasi di republik ini, terutama di sektor politik.

Para intelektual –apalagi ketika dia sudah mulai terjun ke dunia politik praktis, maka yang muncul menguasai karakternya adalah sikap seorang politisi dan bukan kecendekiawanannya. Begitu pula dengan para cendekiawan yang kerjanya demikian sibuk melakukan kritikan di sana-sini, pada akhirnya kritikan yang dilontarkannya hanya sekedar ‘alat pancing dan umpan’ untuk dilirik dan dipakai dalam pemerintahan. Dengan kata lain, kritikannya hanyalah “alat tawar-menawar” dan semacam “lamaran kerja” dalam versi lebih ‘ngintelek’.


Dan apabila mereka tak terpakai lagi atau tidak dipekerjakan lagi, maka nafsu kritikusnya bangkit kembali dengan tujuan dilirik dan dipekerjakan lagi. Inilah hukum kekekalan kritikus yang banyak mengidap para intelektual (cendekiawan) kita di republik ini, (*)

Related Posts

Hukum Kekekalan Kritik Para Intelektual
4/ 5
Oleh