Sosmed dalam Belitan Kritikus dan Pembenci


APA yang membedakan seorang kritikus (baca: intelektual) dengan seorang pembenci (baca: penghujat)? Seorang kawan jurnalis senior menjawabnya enteng; yang membedakan keduanya adalah letak posisi “jari telunjuk”-nya. Seorang kritikus lebih meletakkan “jari telunjuknya” (baca: tudingan) pada ranah “apa, kenapa dan mengapa”, sedangkan pada seorang pembenci, seluruh energi jari telunjuknya digerakkan pada “siapa”.

Dengan kata lain, seorang kritikus ( intelektual) sangat menabukan ad hominem; yang kurang lebih artinya adalah menyerang diri pribadi seseorang dan bukan mengeritik pandangan atau pendapatnya. Sedangkan penghujat dan pembenci justru senantiasa menyasar diri pribadi seseorang. Jari telunjuk sang pembenci adalah semacam “vonis terakhir” bahwa apapun yang melekat dalam sosok tersebut pastilah busuk, jelek, bohong dan tak bisa dipercaya.

Barangkali dalam timbangan tertentu, apa yang dikatakan kawan saya itu ada benarnya. Namun ketika rujukan ini coba diletakkan dalam konstalasi era digital sosial media (sosmed) dan kecenderungan peradaban simulacranya Baudrilard (antara fakta dan fiksi yang membaur, antara realitas dan ilusi saling bercampur) , maka segalanya hadir dalam sebuah keserempakan yang sangat membingungkan.

Peradaban saat ini, segalanya terkonvergensi dalam pusaran simulacra tersebut. Dalam politik, gejalanya ditandai dengan semakin terkonvergensinya sesuatu aktivitas politik ke dalam politik personaliti. Personal Brand jadi acuan paling utama dan di sana kita tak bisa membedakan mana polesan, mana asli.

Demikian pula yang terjadi dalam jagat intelektual dengan semakin rumitnya percampuran antara kritikus dengan pembenci.Bagaimanapun, kata beberapa filsuf postmodern, zaman seperti ini merupakan zaman “pembusukan’ nilai-nilai lama sedangkan nilai baru tak akan pernah lagi menjadi mapan. Semua demikian cepat menjadi usang.

Situasi seperti ini sangat “tercium” dalam dunia sosial media (sosmed) kita. Di ruang maya ini, kita tak lagi mampu membedakan mana yang kritikus dan mana yang pembenci. Semuanya tumpah ruah menjadi baur dan sering bersalin rupa. Seorang intelektual busa menjadi pembenci dan seorang pembenci bisa menjadi intelektual.

Dalam kondisi serupa ini, kita tak bisa lagi mengharapkan “rujukan” baku pada seseorang, karena dinamikanya demikian  jumpalitan. Jagat sosmed memang menyajikan dunia yang kadang demikian paradox. Kalimat adigium ad hominem yang dulu sangat dijaga oleh kalangan terdidik, saat ini telah menjadi demikian usang. Bukan karena adigium itu terbukti salah, namun karena realitas zaman telah mendekonstruksi (membongkar habis) nilai-nilai tersebut.


Saat ini, apa pun pendapat dan penilaian kita terhadap sesuatu, mau-tak mau personalitas bakal hadir di sana. Inilah hukum besi peradaban simulacra-nya Baudrilard. Apa boleh buat, kecuali menjadi anonim dan menghilangkan apapun terkait identitas kita(*)
Diberdayakan oleh Blogger.