Jagat Demokrasi dalam Jiwa Manusia yang Terbelah


PUTARAN kedua Pemilihan Gubernur DKI Jakarta telah berlangsung, Rabu 21 April 2017 lalu. Dari hasil hitung cepat (quick count) beberapa lembaga survei yang terbilang kredibel, kemenangan telak Anies-Sandi atas Ahok-Djarot  memang telah diprediksi.

Setidaknya dari beberapa analisa para pakar politik yang terpublikasi sebelum hari H pemilihan, telah mulai “meraba” gerakan-gerakan yang semakin mengeras dalam menentang keberadaan Ahok. Bahkan dalam analisa seorang Burhanuddin Muhtadi menyebutkan bahwa fenomena “keterbelahan” antara otak dan hati dari para pemilih di Jakarta demikian mengencang. 

Artinya, dalam beberapa kali survei yang dilakukan, warga Jakarta pada umumnya mengakui bila kinerja Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terbilang bagus bahkan kinclong. Namun pengakuan atas hasil kinerja tersebut –yang notabene merupakan hasil kerja otak- tidak berbanding lurus dengan output kecenderungan emosi (baca: perasaan) yang lebih cenderung menegasi hasil kerja otak (rasionalitas).

Hal ini tercermin hasil survei akhir Maret 2016 dimana tingkat kepuasan terhadap kinerja Ahok-Djarot menunjukkan angka mencapai kisaran 70%. Namun ditingkat elektabilitas pasangan petahana ini anjlok hingga 49%.

Namun di sini, saya tak hendak “menggarami laut” terkait analisa fenomena keterbelahan otak-hati itu. Di sini saya hanya ingin sedikit meletakkan proses “pembacaan” politik-psikologis dari fenomena kemenangan Anies-Sandi dan kekalahan telak Ahok-Djarot dalam perspektif  “identitas buatan”  dalam jagad simulacra-nya Baudrillard.

Sebagaimana diketahui, Baudrillard adalah seorang pemikir kontemporer abad 21 yang meletakkan basis filsafatnya dengan cara mendekonstruksi (membongkar) semua pemikiran-pemikiran yang dianggap telah mapan dengan kebenarannya. Menurutnya, pada zaman ini, seluruh proses interaksi dan bangunan relasi kemanusiaanya kita adalah sebentuk “topeng” yang dibentuk oleh pola konsumerisme yang sangat akut. Pola inilah yang kemudian membentuk sebuah “identitas buatan” yang secara simetris membangun sebuah “dunia buatan”.

“Identitas buatan” model inilah yang secara tak sadar kita amini dalam pola interaksi kita dengan “dunia buatan” itu. Dalam istilah Baudrilard segala proses aktifitas kita –termasuk asumsi-asumsi kebenaran yang kita yakini- sebenarnya hanya ilusi. Topeng besar yang berlapis-lapis sehingga tak mampu kita temui “wajah” yang asli.

Jadi tak mengherankan bila Burhanuddin Muhtadi menemukan lewat survei-empiriknya sebuah jiwa yang “terbelah”. Ini merupakan fenomena pasca-modernitas  yang telah lama temukan dalam jagat mutakhir ini. Jadi tak ada yang baru di sana. Segala yang terkait dengan isu-isu SARA (suku, agama, ras. antar golongan) hanyalah bagian yang melekat dalam “identitas buatan” dan “dunia buatan” tersebut. Dia hanyalah sejenis “obat penguat” untuk semakin mengukuhkan "topeng kebenaran" dalam “identitas buatan” tersebut.

Di sini saya tak mengatakan bila kemenangan Anies-Sandi adalah hasil dari proses demokrasi yang keliru. Pasalnya. karena dunia kita saat ini telah "terjebak" dalam femonema jagat seperti itu. Sebuah konsep yang dirancang rasionalis lewat demokrasi-pemilihan langsung, namun dilakukan oleh manusia (baca: warga) dengan jiwa yang telah “terbelah’ di sebuah “dunia buatan” dengan “identitas buatan”. Jadi apa boleh buat. ***
Diberdayakan oleh Blogger.