12.4.17

Surat dari Seorang Kawan Tentang Tokoh Ini.


BEBERAPA waktu lalu, saya menerima surat dari seorang kawan lama yang saat ini bermukim di Jakarta. Dia seorang aktivis pendidikan dan seorang pengajar di sebuah universitas yang didirikan oleh Nurcholish Madjid atau Cak Nur.

Isi suratnya kurang lebih begini:

“Gambaran politik di Indonesia memang terbilang sedikit ‘ajaib’. Ada banyak cerita yang bisa kita kisahkan betapa ‘ajaib’-nya model prilaku politik di negeri ini. Ketika kita mencoba dengan sedikit serius ‘membacanya’, maka yang tersaji adalah sebuah jagat ‘aneh’ di mana para praktisinya demikian memiliki “seribu wajah’.

“Politik dengan model “Dasa Muka” ini memang menjadi bagian yang banyak membikin kita kerap terkaget-kaget dalam kebingungan. Seorang yang dulu banyak dikenal sebagai cendekiawan, menjadi panutan anak muda dan sanggup menggerakkan harapan sejuta kaum muda untuk peduli pada pendidikan, ketika memasuki jagat politik praktis, mendadak berputar 180 derajat”

“Kata-katanya yang demikian fasih dan “menyihir” itu kemudian dijadikan sebagai ‘amunisi’ untuk membangun retorika ‘kekuasaan” dan bukan lagi retorika ‘kemaslahatan”.

“Politik demi kekuasaan memang sanggup melahirkan watak-watak baru di mana prinsip-prinsip hidup yang dianggap telah melekat pada karakternya, tiba-tiba "mengelupas" dengan cepat. Tokoh yang dahulu demikian karib dengan dengan “rajutan kebhinekaan’, penghormatan pada kemanusiaan dan jiwa merdeka yang berpihak pada keberagaman, lewat politik kekuasaan, memdadak menjadi tokoh yang “keras”, rigid dan tega menjual “integritas hidup keilmuannya” demi sekursi kekuasaan yang dianggapnya sangat menggiurkan”

“Maka manuver-manuver politik ala “Machiavelli” menjadi bagian dari langkah politiknya. Dengan “menggadaikan’” prinsip yang dulu teguh dia kibarkan, dia berubah menjadi “penganut” dan “perangkul” kelompok yang selama ini dikenal punya riwayat intolerasi yang membumbung, dan catatan kekerasan dalam pemaksaan kehendak. Sebuah kelompok yang demikian tega “menjual’” SARA (Suku-Agama-Ras) untuk “membumi-hanguskan” penentangnya. Yang kerjanya setiap hari “berteriak” atas nama agama lalu mempertontonkan kekerasan dalam pemaksakan kehendaknya”.

“Dan tokoh yang baru terjun di jagat politik ini mengagung-agungkannya. Memujinya, bukan karena sedari dulu mereka punya kesamaan keyakinan dan prinsip perjuangan, namun tak lebih karena tokoh ini ingin memperoleh dukungan dengan “menggadaikan” kehormatannya, integritasnya, kecendekiawanannya serta ketakutannya untuk tak punya pengaruh lagi di masyarakat. Apalagi, dalam menilik  riwayat karirnya di pemerintahan dia tergolong tokoh yang “gagal” dan “ditendang” karena punya kinerja tak becus”.

Inilah surat ringkas kawan saya yang demikian gelisah menyaksikan tokoh idolanya demikian berubah karena target politik kekuasaan yang demikian telah membiusnya.

Terus-terang saya tidak tahu tokoh siapa yang dimaksudnya. Namun saya cukup paham mengapa kawan saya menulis tentang ini. Bukan karena kawan saya ini marah namun dia sangat kecewa. Dan sampai saat ini saya terus menerka siapa gerangan tokoh yang dimaksudnya. (*)

Related Posts

Surat dari Seorang Kawan Tentang Tokoh Ini.
4/ 5
Oleh