Anne Frank


BARANGKALI tak ada yang tahu bagaimana sebuah harapan mampu bertahan di tengah badai ‘perang’ kebencian yang berkecamuk di suatu tempat. Namun sejarah selalu punya cerita tentang situasi serupa itu.

Di sebuah tempat, di zaman kebengisan Nazi pada perang dunia II, di mana udara demikian tebal oleh kebencian, kita bisa bercerita tentang seorang gadis bernama Anne Frank. Seorang gadis keturunan Yahudi  yang bernama asli Annelies Marie “Anne Frank” yang harus menjadi korban dari sutuasi paling absurd dalam riwayat manusia; kebencian atas nama sebuah kaum (ras).

Pada tahun 1940, Anne dan keluarganya terjebak di Amsterdam, ketika pasukan Nazi merangsek masuk ke negara tersebut. Setelah penganiayaan terhadap warga keturunan Yahudi semakin menggila, Anne Frank dan keluargaanya harus bersembunyi di balik rak buku di gedung tempat ayahnya bekerja. Dua tahun kemudian, mereka sekeluarga dikhianati dan diangkut ke kamp konsentrasi. Anne Frank dan kakaknya, Margot Frank, akhirnya dipindahkan ke kamp konsentrasi Bergen-Belsen dan meninggal dunia di sana pada bulan Februari 1945.

Kisah hidup Anne Frank menjadi abadi karena dia meninggalkan jejak catatan harian. Buku catatan hariannya ini kemudian terbit di tahun 1952 dengan judul “The Diary of A Young Girl”. Dan kita membaca nya dengan kecamuk rasa yang aneh.

Ini sepenggal tulisannya dalam buku hariannya tanggal 5 April 1944:

aku akhirnya menyadari bahwa aku harus mengerjakan tugas sekolahku agar tidak menjadi orang bodoh, agar tetap hidup, agar bisa menjadi seorang jurnalis, karena itulah yang aku inginkan! Aku tahu aku bisa menulis ..., tetapi masih harus dilihat apakah aku benar-benar punya bakat ...
Dan aku tidak punya bakat untuk menulis buku atau artikel surat kabar, aku selalu bisa menulis untuk diriku sendiri. Tetapi aku ingin mencapai lebih dari itu. Aku tidak bisa membayangkan hidup seperti ibu, Mrs. van Daan, dan semua wanita yang mengerjakan pekerjaan mereka dan kemudian terlupakan. Aku perlu memiliki sesuatu selain suami dan anak-anak untuk mengabdikan diriku! ...
Aku ingin menjadi orang yang berguna atau membawa kesenangan bagi semua orang, bahkan bagi orang-orang yang belum pernah aku temui. Aku ingin tetap hidup setelah kematianku! Dan itulah sebabnya kenapa aku sangat bersyukur pada Tuhan karena telah memberiku bakat ini, yang bisa kugunakan untuk mengembangkan diriku dan untuk mengekspresikan semua yang ada di dalam diriku!
Ketika aku menulis, aku bisa mengabaikan semua rasa peduliku. Kesedihanku menghilang, semangatku bangkit! Tetapi, dan itu sebuah pertanyaan besar, akankah aku mampu untuk menulis sesuatu yang hebat, akankah aku bisa menjadi jurnalis atau penulis?
—anne Frank

Memang terasa aneh dan menyimpan banyak ironi di sana. Bagaimana dalam keadaan di ujung telunjuk kematian, Anne Frank masih mampu memiliki sebuah cita-cita. Sebentuk harapan yang mengubah ‘muram’-nya situasi menjadi percik cahaya hidup yang kuat.

Barangkali, memang harapan tak mampu dibinasakan, bahkan oleh kebencian dan kematian itu sendiri. Dia senantiasa hadir dan mampu menekuk absurditas zaman, separah apapun udara pengap kebencian hadir di sana.

Membaca kisah Anne Frank seperti meletakkan kita pada semesta pemikiran seorang Albert Camus, seorang penulis besar Prancis, yang demikian dekat dengan pemikiran absurditas.  Dalam tulisan esai-nya tentang kondisi hidup manusia, dia mengambil mitologi Yunani, Sishipus.

Sishipus adalah manusia yang dikutuk dewa harus mendorong batu kepuncak bukit. Namun sesampai di puncak, dia dengan ringannya menggelindingkan kembali batu tersebut ke bawah dan kemudia mendorongnya lagi ke atas. Terus menerus dan sangat absurd.


Namun diakhir esainya, justru Albert Camus menulis bahwa kita hendaknya membayangkan atau setidaknya menganggap bila Sishipus bahagia. Mungkin karena Albert masih percaya akan adanya harapan, atau memang dibalik sikap absurditas tersebut, kita selalu diberi peluang berharap. ***
Diberdayakan oleh Blogger.