Ketika Bunga Melawan Kebencian: Sebuah Pembacaan Tanda


INI bukan terjadi dalam sebuah film melodramatik ala Hollywood. Bukan pula ditulis dalam sebait puisi yang memerlukan penafsiran ilmu hermeneutika. Peristiwa ini terjadi dalam realitas sehari-hari, di Ibu Kota Jakarta, di sebuah pagi yang sibuk dan nyaris tak acuh.

Di halaman Kantor Balai Kota Jakarta, pagi itu, pasca kekalahan Gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Wakil Gubernur petahana Djarot Saeful Hidayat pada Pilkada Jakarta 2017, mendadak diserbu beribu-ribu karangan bunga. Ibu Kota Jakarta tersentak, Indonesia terkaget-kaget bahkan dunia terpesona.

Tulisan dalam karangan bunga tersebut beraneka ragam, namun intinya adalah sebentuk ucapan terimakasih dari warga atas sejarah kepemimpinan yang telah dicatatkan Ahok-Djarot selama masa jabatannya sebagai Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Tak berapa lama berselang, fenomena bunga itu kembali menyerbu istana Presiden; isinya berupa dukungan pada Presiden Jokowi untuk tetap membingkai Indonesia ini dalam NKRI. “Gerombolan” bunga itu juga “menyerang” Mabes Polri  dan memberikan dukungan untuk tegas menindak tegas ormas anti Pancasila. Tidak berhenti di sana, karangan bunga tersebut menjalar ke kota-kota lain di Indonesia.

Berbagai opini dan penafsiran kemudian berseliweran baik di media mainstream, terlebih di media sosial. Pro-kontra membumbung. Ada yang membuncah kagum, banyak pula yang nyinyir penuh kebencian. Bahkan tepat di hari Buruh (May Day) sekelompok orang yang mengatasnamakan buruh membakar karangan bunga di halaman Balai Kota Jakarta. Dinamika politik Indonesia memang benar-benar penuh fenomena yang “mengasyikkan” untuk dicermati.

Di sini, saya tak ingin menambah “daftar” panjang pro-kontra tersebut. Opini kebencian telah sedemikian “merasuki” aliran darah bangsa ini. Dan saya tak ingin ikut dalam gelombang arus saling menghujat dan memaki tersebut.

Di sini, saya hanya mencoba meletakkan diri sebagai seorang ‘pengamat” yang berjarak. Membaca sebuah fenomena “ada bunga di mana-mana” tersebut dalam tarikan perspektif sebuah “tanda”. Sebentuk simbol dalam sebuah napas semiotika biasa.

Terlepas dari berbagai prasangka dan opini dibalik “serbuan” karangan bunga yang menganggap semua itu direkayasa dan dikendalikan dari ‘atas’, pembacaan ‘tanda” dalam fenomena bunga ini sangat monumental. Setidaknya, fenomena bunga ini meletakkan “warna” lain dalam arus dinamika politik kebencian –ironisnya mengatasnamakan agama- yang mewabah di negeri ini.

Saya katakan memberi “warna” lain karena pilihan bunga atas pembacaan “politik” di sebuah negeri yang “diamuk” kebencian demikian menghentak. Bagaimana pun bunga merupakan “penanda-ditanda” yang demikian cemerlang membahasakan “CINTA”. Bunga, seperti lagu, merupakan bahasa universal. Sebuah kedekatan dari sifat-sifat asali manusia yang tidak terkotak-kotak dalam sekat, entah itu agama, ras dan antar golongan (SARA).

Bunga juga disimbolkan sebagai sebuah “perlawanan” damai. Sebuah tanda yang meletakkan dirinya untuk menegasi kekerasan, perang dan keserakahan. Ini diperlihatkan oleh generasi “bunga”. Generasi penentang perang yang menamakan dirinya kaum hippies di era tahun 60-an. Sebuah generasi di mana penyanyi John Lenon melahirkan karya abadinya; Imagine.

Lebih jauh lagi, dalam pembacaan semiotic, “penanda-ditandai” akan menjadi jelas bila diletakkan dalam rumusan baku “padanan lawan katanya” yakni kebencian, kekerasan, hujatan, primordialisme, maskulinitas dan SARA. Semua itu  seperti memperoleh antiklimaks dalam simbolisasi bunga yang universal, lembut, rapuh dan feminim.

Jadi apapun yang melatarbelakangi “serbuan” karangan bunga tersebut, direkayasa atau spontanitas, dikendalikan dari “atas” atau pun gerak kesukarelawanan, ini menjadi momentum “perlawanan” damai yang tak menyakiti siapapun, namun bisa sekaligus sangat menyakitkan bagi para “pengusung” kebencian. Seperti karangan bunga yang bisa dipakai sebagai ungkapan "rasa syukur" sekaligus bisa untuk "ungkapan duka cita".

Sebuah simbolisasi “perlawanan” yang meletakkan cinta-kasih di pucuk “bahasa”-nya. Sebuah "perlawanan" yang sedari awal mengetahui bahwa pada akhirnya harus kalah dengan kebencian, namun terus bergerak memberi seberkas cahaya. 

Dia juga adalah sebentuk puisi cinta yang hidup, yang hadir. Memang terlihat sangat rapuh serta ringkih namun punya gaung kemanusiaan yang mewah.

Dalam konteks sejarah yang berlainan (era Orde Baru) namun memiliki esensi sama yakni “perlawanan” akan kekerasan, kebencian dan prasangka, saya tiba-tiba teringat dengan kalimat pendek yang menjadi judul buku kecil sastrawan Seno Gumira Ajidarma: “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”. Ketika kebencian, caci maki, pemaksaan kehendak, hujatan dikibarkan dalam “bendera” atas nama agama, ras dan antar golongan, “BUNGA” harus bicara. ***
Diberdayakan oleh Blogger.