Nurcholish Madjid


SOSOKNYA tenang dan dalam. Sebagian orang mengumpamakannya serupa air tenang yang mampu menghanyutkan. Memang sosok cendekiawan besar ini bukanlah seperti “air beriak” yang terlihat ganas menderas tapi dangkal. Dia lebih pada oase yang sejuk di padang gersang pemikiran Islam

Namun semua orang tahu, dibalik senyum yang  dalam dan demikian teduh itu, pemikiran yang dilontarkannya sanggup ‘menggempa’ jagat pemikiran Islam di Indonesia. Bahkan ada yang membandingkannya dengan Nasr Abu Said, seorang pembaharu Islam di Mesir pada abad ke 20 yang dengan berani meletakkan metode tafsir al-Qur’an dalam sejarah dengan memakai “pisau” ilmu hermeneutika.

Dialah Nurcholish Majid, sosok pembaharu yang banyak dikagumi sekaligus banyak disalahpahami. Pemikirannya tentang Islam Inklusif, Islam yang terbuka dan merangkul, banyak ditafsirkan sebagai pemikiran yang berpaham sekuralisme oleh kaum Islam “garis keras”. Cacian dan makian menjadi menu sehari-hari pemilik senyum yang damai ini.

Di sini, saya tak hendak “membedah” pemikirannya yang banyak dianggap kontroversial tersebut. Tulisan ini hanya meletakkan diri sebagai ‘pengingat’ bahwa bangsa kita pernah memiliki sosok besar ini. Dan sekaligus menegaskan bahwa bangsa ini tak “kurus” oleh dinamika pemikiran Islam.

Barangkali, di suatu waktu dengan generasi yang dilahirkannya memang mampu ‘mencetak’ masa-masa ke-emasan. Masa ini ditandai dengan lahirnya pemikir dan pembaharu dalam berbagai bidang. Kita masih ingat bagaimana generasi 1908 yang menjadi ‘bidan’ lahirnya rasa kebangsaan. Demikian pula dengan generasi 1928 yang menancapkam “bendera” persatuan, satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air.

Pada generasi 1945, kita membuncah dalam pemikiran besar kemerdekaan. Sosok Soekarno, Moh. Hatta, Syahrir, Tan Malaka, KH Wahid Hasyim, Moh. Natsir, Agus Salim adalah sederet nama yang berbinar terang dalam cahaya harapan baru negeri yang masih bayi tersebut.

Di generasi 1970-1980, muncullah nama-nama Nurcholish Majid, Abdurrahman Wahid (Gusdur), Syafii Maarif, Amin Rais, Dawan Raharjo yang dikenal sebagai pemikir pembaharu Islam di Indonesia. Mereka mungkin banyak tidak sepaham dan perdebatan menjadi demikian menarik disimak. Namun semuanya berada dalam koridor saling menghargai. Tak ada pemaksaan kehendak. Tak ada Intimidasi dan ‘pengkafiran’ diantara mereka. Inilah puncak kecendekiawanan seseorang, di mana toleransi menjadi basis segala aktifitas kemanusiaan mereka. Islam di masa ini menjadi Islam yang penuh gairah dalam bingkai yang mengagumkan.

Dan di sana Nurcholish hidup dengan ruang ekspresi pemikirannya yang ‘melenting’ dan menjadikannya salah satu  “bintang" yang bercahaya di langit Indonesia. Pemikiran dan perbincangan tentang Islam di masa ini membikin kita “cerdas” dan kritis. Dengan sendirinya juga menjadi toleran.

Lalu bagaimana dengan kondisi saat ini, di masa tahun terakhir ini? Saya tak mau meneruskan tulisan ini, karena tiba-tiba saya menjadi sangat sedih untuk itu.***
Diberdayakan oleh Blogger.