Bela Mafia Pangan, Ada Apa dengan Mereka?


SEJAK pemerintahan Jokowi-JK mencanangkan kebijakan pemberantasan mafia pangan dengan membentuk Satgas Pangan, berbagai langkah berani telah ditunjukkan dan berhasil melakukan upaya penegakan hukum yang tegas.

Sinergi antara Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Polri sepertinya membuat para mafia pangan semakin merasa jerih dan ketar-ketir.

Langkah berani penegakan hukum terhadap mafia pangan ini kembali ditunjukkan ketika Satgas Pangan berhasil menggerebek gudang beras PT IBU di Bekasi, (20/7/2017) yang diduga selama ini melakukan penampungan dan pengemasan dari beras subsidi ke beras premium. Hasilnya memang fantastis, di gudang tersebut ditemukan 1.161 ton beras subsidi pemerintah yang nantinya dikemas ulang dan dibanderol dengan harga selangit.

Dengan penggerebekan tersebut, berbagai opini silang pendapat bergaung di media massa dan media sosial (medsos). Tak bisa dielakkan, temuan ‘kakap’ Satgas Pangan tersebut jelas membuat para ‘pemain’ yang mungkin selama ini menikmati juga hasil keuntungan dari cara ‘kotor’ tersebut menjadi berang dan seperti ‘kebakaran jenggot’.

Salah satu yang dinilai demikian gencar melakukan protes terhadap penggerebekan mafia pangan tersebut adalah anggota DPR dari Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mulyadi.

Dari berbagai komentarnya di media massa, Viva mengatakan dalam soal beras, pemerintah hanya omong doang dan meragugan semua pernyataan Menteri Pertanian terkait beras. Berikut kutipan Viva diberbagai media.



Subsidi Beras IR 64, Anggota DPR Ini Sangsikan Pernyataan Mentan http://nusantaranews.co/subsidi-beras-ir-64-anggota-dpr-ini-sangsikan-pernyataan-mentan/

Politisi PAN Ini Ingatkan Mentan Tidak Menggoreng Beras Oplosan http://rilis.id/politisi-pan-ini-ingatkan-mentan-tidak-menggoreng-beras-oplosan-2.html

Agaknya pernyataan Viva Yoga ini demikian membela para mafia pangan dan menihilkan hasil kerja keras pemerintah, khususnya Satgas Pangan dalam upayanya memberantas mafia pangan di negeri ini. Dan yang terkesan lebih naïf lagi adalah serangannya terhadap Menteri Pertanian, padahal semua mengetahui bahwa kerja pemberantasan mafia pangan dikomandoi oleh Polri yang kemudian membentuk Satgas Pangan. Ada apa dengan Viva Yoga?

Demikian pula dengan penyataan Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Indef yang senantiasa memandang negatif semua capaian pemerintah terkait pangan. Dalam kasus penggerebekan Satgas Pangan terhadap gudang PT IBU, Enny malah memberi komentar ‘aneh’ dan seakan-akan membenarkan tindakan pelanggaran hukum tersebut. Ini kutipannya:


Melacak sepak terjang dan komentar kedua orang ini (Viva Yoga dan Enny –penulis), agaknya mereka memang senantiasa memberi nada negatif terhadap kinerja pemerintah sejak berbagai gebrakan dilakukan untuk memotong mata rantai distribusi pangan dan memberantas mafia pangan yang selama ini telah menangguk keuntungan sangat besar di atas penderitaan petani sebagai produsen dan rakyat sebagai konsumen.

Padahal dalam hal pengambilan keuntungan dari pedagang, Wapres Jusuf Kalla (JK) sendiri dengan tegas mengatakan “pedagang jangan mengambil keuntungan besar dari dagang beras”



Lalu mengapa kedua orang ini terus demikian ‘sibuk’ melakukan pembelaan terhadap terduga mafia pangan tersebut? Ada apa dengan mereka? Tidak mengherankan bila ada yang mensinyalir mereka berada dalam jejaring (komplotan) yang berada dibalik “permainan” pangan di negeri ini dan masuk ke dalam kelompok yang ingin menjadikan bangsa ini terus lemah dan tak berdaulat secara pangan dengan menangguk keuntungan dari ‘permainan’ mafia pangan, baik dalam hal impor maupun mengoplos pangan. ***
Diberdayakan oleh Blogger.