Kritik Kebijakan Pertanian Bustanul Arifin Justru Terkesan Sangat Politis


PENGAMAT PERTANIAN Bustanul Arifin pernah mengatakan bahwa pembangunan pertanian selama pemerintahan Jokowi-JK terlihat hanya mengejar target politis  dan tidak berdampak pada meningkatnya kesejahteraan petani -terutama petani kecil-. Pernyataan Bustanul ini dinilai sama sekali tak memiliki dasar dan data yang kuat.

Bahkan terkesan pernyataan pengajar Universitas Lampung (Unila) ini justru sangat tendensius dan berbau kepentingan politik. Apalagi dari informasi yang beredar, dia juga punya ambisi besar untuk menjadi menteri di pemerintahan Jokowi-JK. Bahkan di masa awal penyusunan kabinet kerja Jokowi-JK tahun 2014, namanya sempat beredar dan diusulkan oleh Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) http://www.beritasatu.com/nasional/205644-hippi-usulkan-nama-yang-layak-masuk-kabinet-jokowi.html.  Dengan demikian, persentuhan politik Bustanul memang telah mulai tercium di sana.

Tak ada yang menampik bila, Bustanul sebagai seorang pengamat pertanian, telah punya nama yang cukup terkenal. Namun dalam hal sektor pertanian, pengetahuan teoritis saja tidaklah cukup. Di sana banyak terkait persoalan teknis lapangan serta kemampuan managemen kuat dalam membangun sinergi, baik internal kementerian pertanian maupun antar kementerian dan lembaga negara lainnya.

Dalam hal inilah, Bustanul ceroboh dalam melontarkan kritikannya. Pemahamannya terkait teknis lapangan sangat minim. Apalagi, dalam jejak kiprahnya, Bustanul memang belum pernah dberi mandat jabatan di pemerintahan, sehingga pengalaman dalam lika-liku birokrasi belum pernah dialaminya.

Selama ini, jejak kiprah Bustanul memang hanya berkutat di dunia akademik dan penelitian, sehingga ‘cara pandang’ yang tertuang dalam pemikirannya berada di atas “menara gading” dengan mengandalkan data yang belum tentu terverifikasi. Bahkan bisa memuat unsur politik yang kuat.

Ini tercermin dari keritikannya yang mengatakan bahwa kesenjangan ekonomi terjadi karena sektor pertanian tidak mampu mengerek kesejahteraan para petani di pedesaan. Padahal yang terjadi sebaliknya. Fakta dari survei Center Strategic and International Studies (CSIS) pada bulan September 2016 lalu jutru mengungkapkan tingkat kepuasan terhadap kinerja Jokowi meningkat menjadi 66,5 persen pada tahun kedua pemerintahannya, justru terjadi di pedesaan.

"Kami menemukan tingkat kepuasan publik yang meningkat dari tahun lalu (dari tahun 2015 –red). Rata-rata, masyarakat yang bekerja sebagai petani, berjenis kelamin laki-laki, tinggal di pedesaan lebih optimis dan bahagia," ujar Ketua Departemen Politik dan Hubungan International CSIS, Vidhyandika Perkasa, di Auditorium CSIS, Jalan Tanah Abang III, Jakarta Pusat, Selasa (13/9/3016) lalu.

Dengan tingkat kepuasan dan kebahagiaan petani yang semakin tinggi ini, pernyataan Bustanul dengan sendirinya menjadi tidak bermakna. Bahkan cenderung melakukan pembohongan publik.

Di Lampung sendiri, provinsi tempat Bustanul menjadi staf pengajar di Universitas Lampung (Unila) menunjukkan tingkat pembangunan sektor pertanian yang cukup signifikan dan dampaknya sangat terasa oleh petani.

Bahkan Gubernur Lampung, M. Ridho sangat mengapresiasi terobosan yang dilakukan Mentan Amran dalam membangun pertanian di Lampung.

“Kalau bicara pertanian, jujur saya agak ngeri. Sebab, boleh dibilang pak menteri ini lebih tahun kondisi pertanian Lampung dibanding gubernurnya” katanya melakukan panen raya Jagung bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di bulan Februari 2017 lalu.

Hal senada disampaikan Bupati Pesawaran, Lampung  Dendi Ramadhona yang mengakui sentuhan pemerintah pusat (Kementerian Pertanian) pada sektor pertanian di Lampung telah mulai terasakan dampaknya bagi kesejahteraan petani.

“Saya akui, sentuhan pemerintah sudah mulai terasa bagi kemajuan pertanian dan kesejahteraan petani di daerah ini”, ujar Dendi.

Tak tanggung-tanggung, Ketua MPR, Zulkifli Hasan, sewaktu ‘pulang kampung’ ke Lampung juga mengungkapkan pujiannya atas prestasi kerja sektor pertanian, terutama dalam menggenjot produksi melalui mekanisasi pertanian.

"Kita sama-sama tahu bahwa saat ini untuk menambah lahan pertanian itu sangat sulit, berkurang iya, tetapi penduduk bertambah itu sudah kepastian, sehingga diharuskan produksi pangan ditingkatkan. Karena itu saya mengapresiasi kinerja Bapak Menteri Pertanian ini atas upaya-upayanya meningkatkan produksi khususnya melalui teknologi mekanisasi," ujar Zulkifli Desa Bakti Rasa, Seragi, Lampung Selatan, Kamis (29/12/2016) lalu.

Hal ini juga disampaikan pengamat pertanian Universitas Lampung (Unila) Dr. Dyah Aring yang mengatakan bahwa pembangunan sektor pertanian di Propinsi Lampung terus bertumbuh dan dinilai cukup berhasil.

“Sektor pembangunan pertanian cukup bagus, pertumbuhan terasa. Apalagi Lampung memang memiliki potensi besar dalam komoditi kopi, lada, ubi dan jagung.”, katanya, Jumat (7/7/2017).

Saat ini, imbuh Dyah, yang perlu dilakukan pemerintah adalah melakukan transformasi pertanian menuju pertanian modern (agrobisnis -red) dengan memperkuat inovasi teknologi serta mendirikan koperasi-koperasi petani agar ke depan petani mampu mandiri dan tidak tergantung pada bantuan pemerintah.

“Saya lihat ini telah mulai dilakukan pemerintah, dan itu bagus. Hal ini memang harus dilakukab sistematis, terpadu mulai dari hilir ke hulu”, ucapnya.

Tentang kesejahteraan petani, Dyah mengatakan apa yang diupayakan pemerintah sudah tepat dengan memacu semangat petani untuk meningkatkan produksi dan menjadikan usaha pertanian menjadi profesi yang bermartabat.

“Saya pikir sumbangan berupa bibit, alsintan dan lain-lain yang dilakukan pemerintah berhasil memacu gairah petani untuk berproduksi lagi”, ucapnya.

Hal senada juga disampaikan mahasiswa pertanian Universitas Lampung (Unila) Yoga yang mengatakan perkembangan pertanian, khususnya di propinsi Lampung sangat terlihat pesat sejak 3 tahun terakhir ini.

“Ini bisa dilihat dari adanya pemakaian teknologi pertanian serta pembangunan infrastruktur pertanian yang terus digenjot oleh pemerintah”, ucapnya, Rabu (12/7/2017)

Menurut Yoga, tak ada yang bisa membantah hal ini. Sektor pertanian lampung terutama komoditas jagung tumbuh sangat pesat. Bahkan ke depan Yoga berharap komoditas lain yang pernah menjadi andalan Lampung seperti kopi dan lada hitam juga bisa maju seperti pada komoditas pajale saat ini.

“Peran pemerintah daerah juga sangat dibutuhkan. Apalagi pemerintah pusat (Kementerian Pertanian –red) sedah menunjukkan perhatiannya yang sangat besar bagi pertanian Lampung.

Terkait dengan lontaran kritik pengamat pertanian dan juga koleganya di Unila, Bustanul Arifin yang mengatakan kebijakan pertanian hanya mengejar target politis, Dyah mengatakan saat ini Bustanul memang banyak berkiprah di Jakarta sehingga persoalan lapangan dan berkembangan di daerah, hususnya Lampung, mungkin luput dari pengamatannya.

“Sekali waktu memang Pak Bustanul ke Lampung, namun kiprahnya memang lebih intens di Jakarta. Dimaklumi karena aktivitasnya juga ada di sana (Jakarta –red)”, ucapnya.

Hal ini juga dikatakan Yoga bahwa aktifitas Bustanul lebih banyak di Jakarta sehingga kondisi lapangan tak dipahami dengan pasti.

“Pak Bustanul lebih banyak di Jakarta, kami jarang bertemu dan berdiskusi di sini terkait pertanian”, pungkasnya.

Dengan adanya apresiasi serta pengakuan dari pejabat daerah, bahkan Ketua MPR yang berasal dari tempat Bustanul mengajar yakni Provinsi Lampung,  bisa menunjukkan untuk daerahnya sendiri, Bustanul tidak mengetahuinya, apa lagi untuk daerah lain. Ini yang mengindikasikan bahwa pernyataannya justru terkesan memuat tendensi yang sangat bersifat politis.*
Diberdayakan oleh Blogger.