Serangan Balik Mafia Pangan dan Tentakelnya


GENDERANG PERANG pada mafia dan kartel pangan sudah ditabuh. Pemerintahan Jokowi-JK agaknya sudah jegah dengan pola tingkah para mafioso pangan ini. Satuan Tugas (Satgas) Anti Mafia Pangan pun dibentuk. Dampaknya memang telah mulai terasa saat ini.

Di Merunda, beberapa waktu lalu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Wakapolri serta satgas Anti Mafia Pangan menggerebek gudang penimbunan bawang putih.  Hasilnya cukup mencengankan, bawang putih di pasaran langsung turun drastis.

Beberapa hari yang lalu, di sebuah gudang milik PT IBU yang berlokasi di Bekasi, Satgas Pangan Polri kembali menggerebek gudang  yang berisi 1.161 ton beras subsidi pemerintah. Diduga gudang tersebut digunakan sebagai penampungan dan tempat pengemasan beras dari beras subsidi ke beras premium. Jumlahnyapun sangat fantastis.

Penggerebekan ini lansung disaksikan Menteri Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, Kapolri Jenderal Pol Tito Kanavian serta Ketua KPPU Syarkawi Rauf.

Agaknya, sudah menjadi pengetahuan umum bila pasar pangan di negeri ini memang telah lama dibelit para mafia dan kartel pangan. Para ‘pemain’ inilah yang mengendalikan harga pangan. Salah satu modelnya adalah dengan cara penimbunan dan mengelabui konsumen dengan segala macam cara agar menangguk keuntungan yang sangat besar. 

Maka tidak mengherankan bila setiap tahun, harga bahan pangan kita di pasaran sangat fluktuatif karena ‘dimainkan’oleh segelintir mafia/kartel pangan yang syahwat serakahnya tak bisa lagi terkendalikan.

Namun benarlah seperti yang diduga sebelumnya. Para mafia ini tidak tinggal diam. Jejaring (komplotan) yang telah dibangun dan dibinanya selama berpuluh tahun pastilah melakukan serangan balik.

Tak seberapa lama setelah penggerebekan gudang PT. IBU, reaksi kencang itu mulai bermunculan. Seluruh ‘energi’ dan sumberdaya mereka pakai untuk melakukan serangan balik. Sekedar diketahui bahwa dalam tentakel mafia pangan ini bukan hanya melibatkan pengusaha ‘nakal’ namun juga membelit para pejabat serta mantan pejabat pemerintahan dahulu.

Di sinilah barangkali kesulitan besar yang akan dihadapi oleh pemerintah yang berkomitmen memerangi mafia pangan di negeri ini. Para mafia pangan ini tidak akan sungkan-sungkan menggelontorkan duit yang sangat besar untuk melakukan perlawanan bagi yang dianggap mengganggu ‘bisnis haramnya’.

Namun yang lebih memprihatikankan adalah bagaimana menyaksikan sebagian intelektual negeri ini juga menggadaikan dirinya. Dengan sangat “memalukan”, mereka, para intelektual ini melakukan pembelaan terhadap pelaku mafia pangan. Kita bisa melacaknya di media sosial (medsos) bagaimana para intelektual tersebut memperagakan ‘jurus-jurus’ pembenaran terhadap apa yang dilakukan mafia pangan ini.

Memang, bisa diprediksi bila langkah pemberantasan terhadap mafia pangan di negeri ini butuh nyali dan kemauan baja. Diperlukan 'napas panjang' serta tahan banting yang sangat kuat. Karena di negeri dengan sejarah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang berurat-berakar ini, apa pun bisa bertukar rupa.Tak terkecuali 'melahirkan' intelektual 'pesanan' dan intelektual yang tidak kebagian jatah pemerintah lantas melakukan aksi 'ngambek'.

Para intelektual jenis ini sangat gampang diidentifikasi; mereka cenderung melakukan protes apa pun terkait kebijakan pemerintah yang dianggap masyarakat cukup berani dan berhasil. Apa pun kebijakan pemerintah, mereka protes dan jadikan sebagai sebuah aksi kritik namun ironisnya sama sekali tak menyajikan solusi. Media Sosial pun menjadi 'medan' tempat mereka menyalurkan syahwatnya, entah itu karena sudah menjadi bagian dari mafia itu sendiri, atau  karena 'sakit hati'. Bahkan tidak menutup kemungkinan sebenarnya mereka dengan gaya 'malu-malu kucing' ingin dilirik dan dipekerjakan di pemerintahan.

Dengan begitu, pemberantasan mafia pangan memang sangat memerlukan dukungan rakyat yang kuat untuk memberangus para mafia bersama seluruh tentakelnya, baik yang ada di pemerintahan maupun yang di luar. Terlebih lagi dengan dukungan sebagian intelektual ‘pesanan’ maupun intelektual ‘sakit hati’. ***
Diberdayakan oleh Blogger.