Ideologi di Atas Sebutir Beras


SEBUAH BANGSA tidaklah lahir dari hasil ‘sulapan’ di atas panggung yang bernama politik praktis. Bukan pula ‘ujug-ujug’ hadir sebagai hasil dari rangkuman seminar sehari dari pengamat dan kolomnis media. Sebuah bangsa bisa dipastikan lahir dari pertaruhan panjang yang mengalirkan demikian banyak pengorbanan, entah itu nyawa, harta dan air mata dari rakyat, terutama rakyat kecil di pedesaan.
Dengan demikian, ada proses panjang dan melibatkan gemuruh kesadaran untuk meraih ‘mimpi’ bersama di sana. Ada sejenis harapan yang membuhul untuk memulai hidup baru demi sebuah masa depan yang lebih baik. Kesadaran berbangsa memang selalu hadir bersamaan dengan kesadaran rakyat akan masa depan. Harapan itu terus ‘mengental’ dan  tumbuh menjadi nilai-nilai hidup yang kemudian para pakar mengindentifikasinya sebagai sebuah ideologi.
Dari nilai-nilai hidup bersama yang bernama ideologi ini, kita bisa bercerita banyak tentang sejarah republik ini. Kisah panjang dan ‘berdarah-darah’ dari perjuangan  rakyat untuk sekadar ‘menyemai’ mimpi dan harapan itu. Kisah yang lahir dari pojok-pojok pedesaan yang terpencil –dengan segala kemiskinan, namun masih sanggup ‘memelihara’ harapan tersebut.
Cerita tentang ‘perjuangan rakyat semesta’ yang pernah karib kita dengar memang bukanlah isapan jempol atau semacam propaganda politik semata. Rakyat di pedesaan, yang nota bene adalah kaum tani, adalah ‘benteng terakhir’ terus bertahannya ideologi kebangsaan kita. 
Di pedesaan, di tahun-tahun perjuangan meraih kemerdekaan, petani menjadi ‘lumbung’ pangan tempat para pejuang kemerdekaan kita bertahan hidup. Dari sebutir beras petani yang dimakan para pejuang kita tersimpan sebuah harapan, mimpi dan gemuruh kebangsaan. Di atas sebutir beras petani, ada ideologi yang ‘menunjuk’ tegas tentang jati diri kebangsaan, kemandirian dan makna besar kedaulatan di sana.
Barangkali, sejarah ideologi kebangsaan yang menoreh dari sebutir beras para petani kita telah banyak dilupakan. Namun, tak ada yang memungkiri, bangsa kita lahir dari ‘lumbung’ beras para petani. Dari sebutir beras, kibaran ‘merah-putih’, kedaulatan bangsa, kemandirian dan rasa jati diri kebangsaan hadir. Dan karena itu, Indonesia  pantas berbangga. Sebuah bangsa yang lahir bukan dari hasil ‘rasa kasihan’ dan pemberian bangsa lain. ***
Diberdayakan oleh Blogger.