‘Jurus Mabuk’ Intelektual Pesanan


BANYAK di antara ‘selebriti’ media sosial (medsos) yang nota bene selama ini 'distempeli' cap intelektual makin terlihat ‘genit’ mencari ‘panggung’ politik lewat kritikannya pada setiap kebijakan pemerintahan Jokowi-JK. Seperti orang yang tak punya ‘kerjaan’ lain, bisa dikatakan setiap hari ‘selebriti’ medsos ini  melakukan aksi kritiknya.

Namun perlahan kita menjadi sedikit mahfun. Mereka pada umunnya menyimpan banyak ironi yang besar. Bagaimana tidak, derasnya kritikannya pada pemerintahan Jokowi-JK mulai mengalir seperti ‘perdekar mabuk’ yang kerjanya menyerang ke sana ke mari ketika mereka tak lagi di pemerintahan atau tak lagi dilirik pemerintah. Bisa dikatakan ‘mata batin’ dan naluri intelektualitas mereka hanya mampu ‘melihat’ sisi kelam dunia, khususnya terkait dengan kebijakan pemerintah.

Sebenarnya apa yang mereka inginkan? Terus terang saya kurang tahu. Namun memang terasa cukup ironi di sana, karena semua orang mahfun bila kebanyakan dari intelektual yang merangkap ‘selebritis’ medsos ini juga pernah bersentuhan dengan pemerintahan. Bahkan bekerja di sana.

Anehnya, ketika terdepak atau tak terpakai lagi, maka yang muncul adalah aksi ‘jurus mabuk’ yang mereka peragakan. Pertanyaan yang kerap muncul apakah mereka bersikap seperti itu karena ‘sakit hati’ atau mereka sedang “mengobarkan’ semangat ‘mencari’ perhatian agar dilrik kembali? Ataukah sinyalemen beberapa kalangan yang mengatakan bahwa mereka sebenarnya adalah intelektual 'pesanan' yang  ‘dipakai’ sekelompok orang/perorangan baik itu di luar pemerintahan atau di dalam pemerintahan untuk menyerang demi menjaga kepentingan politik plus lahan ekonomi dari kelompok/orang tertentu? Entalah.

Namun yang pasti, dari jejak yang bisa kita telusuri, mereka bukanlah oposan sejati. Mereka ada dan berpijak di antara ‘angin politik’ yang bertiup dan dengan kepiawaiannya membungkus kalimat dengan gaya ‘ngeintelek’, para ‘pendekar mabuk ini ‘berjumpalitan’ di panggung media sosial.

Barangkali sepak terjang semacam inilah yang paling dibenci oleh Julian Brenda, penulis buku terkenal yang berjudul “Intelektual”. Tapi apa boleh buat, di negeri ini, kita memang telah kekeringan intelektual yang independen dan berdiri tegak menyuarakan kebenaran. Yang banyak di negeri ini adalah para intelektual “pesanan” yang kadang “mabuk” bila tak mendapat perhatian.***
Diberdayakan oleh Blogger.