‘Peternak’ Kebencian


SEBUAH buku yang ditulis budayawan Mochtar Lubis, “Manusia Indonesia” sempat mengegerkan banyak kalangan terpelajar di negeri ini beberapa dekade lalu. Di sana, tokoh cendekiawan berpengaruh ini dengan sedikit jengah melukiskan sebuah stereotype tentang manusia Indonesia.

Pada buku tersebut, Mochtar Lubis menggambarkan bahwa manusia Indonesia memiliki enam ciri yakni munafik atau hipokrit, engan atau segan bertanggungjawab atas perbuatannya, bersikap dan berperilaku feodal, percaya takhayul, artistik berbakat seni serta lemah watak atau karakter.

Terus terang saya tak tahu bagaimana Mochtar Lubis mampu sampai pada kesimpulan tersebut. Saya juga tak tahu metode apa yang dipakainya dalam merangkum kesimpulan semacam ini. Namun yang saya tahu, manusia Indonesia kadang memang “ajaib”, bahkan dalam takaran tertentu kerap menampilkan sisi psikologis yang cukup membingungkan.

Salah satu fenomena ajaib bangsa ini adalah bagaimana kebencian itu ‘diternak’, diperdagangkan serta dijadikan ‘santapan’ orang-orang yang menganggap politik, agama, ras serta etnis adalah ‘tanda pentung’ yang memisahkan antara kami dan kalian.

Entah ini semacam kreatifitas atau sebuah sifat yang sama sekali tak mengindahkan integritas dan menunjukkan karakter yang lemah –seperti yang disimpulkan Mochtar Lubis- ‘peternakan’ kebencian ini memperoleh pasar yang cukup besar. Kasus SaracenNews yang menghebohkan itu menjadi bagian yang paling ‘mengerikan’ tentang potensi karakter bangsa kita.

Barangkali Mochtar Lubis agak berlebihan di sana. Namun realitas memilukan tentang manusia Indonesia yang mencari uang, kekuasaan serta pengaruh publik dengan ‘beternak’ kebencian dan memamah-biak fitnah, berita bohong adalah bagian yang paling kelabu dari perjalanan bangsa kita saat ini.

Apa boleh buat. Sejarah bangsa kita memang senantiasa diuji oleh bayang-bayang kekerasan, perpecahan dan saling meniadakan antara sesama anak bangsa sendiri. Lobang luka besar kekerasan itu telah menjadi semacam trauma sejarah, dan sampai saat ini kita seperti belum kapok untuk kembali menggali lobang luka sejarah tersebut. Apa boleh buat.***
Diberdayakan oleh Blogger.